Kamis, 02 Des 2021

Ekstra Kurikuler Sebagai Wahana Pembentukan Karakter Siswa

 

 

 

 

 

 

Said Edy Wibowo *)

     Pendidikan  merupakan  salah  satu  faktor  yang  sangat penting  dalam  kehidupan  seseorang  karena   melalui pendidikan  seseorang  dapat meningkatkan  kecerdasan,  keterampilan,  mengembangkan  potensi diri dan  dapat  membentuk pribadi yang bertanggung jawab, cerdas dan kreatif. Kita membutuhkan  habitus baru untuk mengelola pendidikan  jika  tidak  mau  melihat kehancuran  bangsa ini 1-20  tahun  yang  akan  datang. Karakter bisa digambarkan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Kegiatan Ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan  yang  secara khusus  diselenggarakan oleh  pendidik  dan  atau  tenaga kependidikan  yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/ madrasah. Melalui kegiatan ektrakurikuler  diharapkan siswa dapat sehat, mempunyai  daya  tangkal,  daya hayat terhadap  Pekat,  Narkoba serta bertanggungjawab dan disiplin.  Dalam  pelaksanaan  kegiatan ekstra kurikuler  siswa diarahkan  untuk  memilih salah satu kegiatan Ektra kurikuler sesuai dengan minat dan bakat siswa. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga.  Kalau  seorang  anak  mendapat pendidikan  karakter  yang  baik  dari keluarganya,  anak  tersebut akan berkarakter  baik  selanjutnya.  Jadi,  pendidikan  karakter  atau  budi pekerti plus  adalah  suatu  yang urgen untuk dilakukan. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD, SMP dan SMU, maka tanpa pendidikan karakter  adalah  usaha yang  sia-sia.  Mahatma  Gandhi memperingatkan  tentang  salah  satu  tujuh  dosa fatal dalam pendidikan,  yaitu “education without character” (pendidikan tanpa karakter). Melalui  pendidikan seseorang  dapat  menjadi manusia yang sepatutnya. Yang menjadi Persoalan adalah, apakah kita  di negeri ini  sudah  sampai ideal seperti  itu?  Lembaga  pendidikan di Indonesia ternyata  kurang begitu berperan  sebagai pranata sosial yang  mampu  membangun karakter bangsa Indonesia sesuai dengan nilai-nilai normatif kebangsaan yang dicita-citakan. Undang  Undang  No.  20 tahun 2003 tentang  Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 mengamanatkan  bahwa  “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan  dan membentuk watak  serta  peradaban bangsa  yang  bermartabat dalam rangka  mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang  beriman  dan bertakwa  kepada  Tuhan Yang  Maha  Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.  Pendidikan kita tidak pernah jujur di dalam mengajar nilai-nilai kebenaran karena semua dilakukan di area formalitas belaka. Sistem pendidikan kita hanya mengandalkan cara berpikir yang bermuatan kurikulum yang ouputnya hanya pada nilai belaka, bukan pada pembentukan karakter anak didik. Untuk merealisasikan tujuan pendidikan nasional tersebut, pemerintah  perlu mengusahakannya  dengan  kebijakan-kebijakan pendidikan yang  jelas dan konsisten serta  berkesinambungan agar tercipta  generasi muda sebagai generasi penerus bangsa dan manusia seutuhnya.Salah satu aspek dari proses perkembangan sistematik dari sistem pembangunan nasional adalah bertujuan utama untuk pembentukan karakter bangsa melalui Sumber Daya Manusianya. Soal pendidikan pembangunan karakter juga pernah ditekankan oleh Presiden RI Pertama dan Proklamator Kemerdekaan RI, Soekarno. Dalam buku ‘”Karakter Mengantar Bangsa dari Gelap Menuju Terang” (2009) Bung Karno menegaskan bahwa dalam mengisi kemerdekaan adalah mengutamakan Pelaksanaan nation and character building. Jika pembangunan karakter tidak terwujud, kata soekarno, maka bangsa Indonesia hanya akan menjadi bangsa kuli.

Fungsi dan Media Pendidikan Karakter 

     Apabila ditinjau dari bahasa dan pengartiannya sebetulnya bahasa karakter ini masihlah sangat luas, tetapi disini akan kita lihat beberapa pengertian secara umum yang ada di lapangan. Karakter menurut Wikipedia (2008 : 1) bisa digambarkan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Tim prima pena (2006 : 234) membuat pemahaman karakter yang cenderung ke sifat manusia seperti watak, tabiat, pembawaan, kebiasaan.sedang Pendidikan karakter merupakan segala daya upaya yang dilakukan untuk membentuk insan atau manusia yang terpelajar melalui pendidikan dengan karakter yang kuat dan kepribadian yang kokoh, sedang Pendidikan karakter berfungsi (1) membangun kehidupan kebangsaan yang multikultural ; (2) membangun peradaban bangsa yang cerdas, berbudaya luhur, dan mampu berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan ummat manusia; mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berfikiran baik, dan berperilaku baik serta keteladanan baik; (3) membangun sikap warganegara yang cinta damai, kreatif, mandiri dan mampu hidup berdampingan dengan bangsa lain. Upaya pembentukan karakter dilakukan melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar melalui mata pelajaran dan kegiatan pengembangan diri yang dilakukan di kelas serta diluar kelas. Pendidikan karakter bukan merupakan mata pelajaran atau nilai yang diajarkan tetapi lebih kepada upaya penanaman nilai-nilai baik melalui semua mata pelajaran, program pengembangan diri (kegiatan ektra kurikuler), dan budaya sekolah.

     Dari  penjelasan tersebut di atas jelaslah bahwa  ternyata memang  ada  beberapa  tempat selain pendidikan dalam kelas yang  dapat membentuk karakter  siswa  tersebut, dimana  salah satu wahana  pengantarnya  adalah kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan Ekstrakurikuler  adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan  minat mereka  melalui  kegiatan yang  secara  khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga  kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/ madrasah (Anifral Hendri, 2008 : 1-2).  Berdasarkan pengertian  diatas menekankan  bahwa  kegiatan  ekstrakurikuler untuk membantu pengembangan peserta  didik dan pemantapan pengembangan kepribadian siswa cenderung berkembang untuk memilih jalan tertentu. RB.Cattele dalam Anifral Hendri (2008 : 2) menyatakan bahwa  kepribadian seseorang  menunjukkan apa  yang  ingin diperbuat bilamana  ia dalam keadaan senang dan ditempatkan pada situasi tertentu. Deng Xiaoping dalam program reformasi pendidikannya pada tahun 1985 secara eksplisit mengungkapkan tentang  pentingnya  pendidikan karakter.    Throughout  the reform of the education system, it is emperative to bear in mind that reform is for the fundamental purpose of  turning every  citizen into a man or woman of  character and cultivating more  constructive members of society (‘Decisions of Reform of the Education System’, 1985). Karena itu program pendidikan karater telah menjadi kegiatan yang menonjol di Cina yang dijalankan sejak jenjang pra-sekolah sampai universitas (Stefan Sikone, 2006 : 2). Nah, apabila Cina bisa melakukan pendidikan karakter untuk 1,3 miliar menjadi manusia yang berkarakter (rajin, jujur, peduli terhadap sesama, rendah hati, terbuka), Indonesia tentunya bisa melakukannya.  Namun, gaung  pendidikan  karakter belum  banyak terdengar dari para pemimpin kita. Tentunya, sebagai warga  negara  yang  bertanggung  jawab, kita  semua bisa melakukannya dalam sekolah. Tentunya, pendidikan  karakter adalah berbeda  secara  konsep  dan  metodologi dengan pendidikan moral, seperti  kewarganegaraan, budi pekerti, atau bahkan  pendidikan agama di Indonesia. Pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the good, and acting the good  yaitu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif,emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi habit of the mind, heart, and hands.

     Dalam hubungan ini maka apa  yang disarankan Unesco perlu diperhatikan yaitu bahwa pendidikan harus mengandung  tiga  unsur: (1) belajar untuk tahu (learn  to know).  (2)  belajar untuk berbuat(learn to do). (3). belajar untuk bersama (learn to live together). Unsur pertama dan kedua  lebih terarah  membentuk having, agar sumber  daya  manusia  mempunyai kualitas dalam pengetahuan dan  keterampilan. Unsur  ketiga  lebih terarah     being  menuju pembentukan karakter bangsa. Kini, unsur itu  menjadi amat penting. Pembangkitan rasa nasionalisme, yang bukan ke arah nasionalisme sempit, penanaman etika berkehidupan bersama, termasuk berbangsa  dan  bernegara; pemahaman  hak asasi  manusia secara  benar, menghargai perbedaan pendapat tidak memaksakan  kehendak, pengembangan sensitivitas sosial dan lingkungan dan sebagainya merupakan beberapa hal dari unsur pendidikan melalui belajar untuk hidup bersama. Pendidikan dari unsur ketiga ini sudah semestinya dimulai sejak Taman Kanak-Kanak hingga perguruan tinggi. Penyesuaian dalam materi dan cara penyampaiannya tentu saja diperlukan.

Kegiatan Ekstrakurikuler dalam pembentukan karakter

     Mengenai fungsi kegiatan ekstrakurikuler adalah sebagai wahana untuk ; (1). Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra  kurikuler  untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta  didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka; (2). Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik; (3). Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta  didik yang  menunjang  proses perkembangan; (4). Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik. Dari beberapa fungsi kegiatan ektrakurikuler diatas dapat diamati dan dijadikan acuan bersama bahwa kegiatan ektrakurikuler sangatlah mempunyai peran yang signifikan sebagai wahana pembentukan karakter siswa dilingkungan sekolah/madrasah maupun di masyarakat. Adapun kegiatan ektrakurikuler adalah; (1) Krida, meliputi Kepramukaan,  Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA); (2) Karya Ilmiah, meliputi Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian; (3) Latihan/lomba  keberbakatan/ prestasi, meliputi pengembangan bakat olah raga, seni dan budaya, cinta alam, jurnaistik, teater, keagamaan; (4) Seminar, lokakarya,  dan pameran/  bazar, dengan substansi antara  lain karir, pendidikan, kesehatan, perlindungan HAM, keagamaan, seni budaya; (5) Olahraga, yang meliputi beberapa cabang olahraga yang diminati tergantung sekolah tersebut, misalnya : Basket, Karate, Taekwondo, Pencak Silat, Softball, dan lain. Dari fungsi dan kegiatan ektrakurikuler diatas dapatlah di kaji bahwa kegiatan Ekstrakurikuler dapat ditekankan melalui kegiatan siswa dan diberikan nilai-nilai karakter diantaranya ; jujur, disiplin, kreatif, mandiri, cinta tanah air, semangat kebangsaan, peduli sosial dan tanggung jawab.

       Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang  melibatkan aspek  pengetahuan (cognitive),  perasaan (feeling), dan tindakan(action). Menurut Thomas Lickona, tanpa  ketiga  aspek ini, maka  pendidikan karakter  tidak akan efektif dan pelaksanaannya  pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal penting  dalam mempersiapkan anak menyongsong masa  depan karena  dengan karakter  seseorang akan  dapat berhasil  dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Dalam buku Emotional  Intelligence  and School Succes  (Joseph  Zins,et. al  2001) mengkomplikasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa  ada  sederet faktor-faktor risiko  penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor risiko yang  disebutkan ternyata bukan terletak pada  kecerdasan otak, tetapi pada  karakter, yaitu rasa  percaya  diri, kemampuan bekerja  sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapat pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Namun banyak orangtua dan guru lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang  pendidikan karakter. Selain itu banyak orangtua dan guru yang  gagal dalam mendidik karakter  peserta didik  entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif siswa. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. Jadi, pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgen untuk dilakukan.Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD, SMP dan SMU, maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha  yang sia-sia.

*) Penulis adalah Guru MAN 5 Bojonegoro

KELUAR