Kamis, 02 Des 2021

Energi Positif Dalam Pembelajaran melalui Cerita dan Senyuman

Oleh : Said Edy Wibowo*)

                Keberhasilan dan kegagalan proses belajar mengajar di kelas banyak ditentukan oleh kemampuan untuk membangun penghubung diantara kedua proses tersebut.Meski proses belajar mengajar merupakan dua hal yang berbeda, kita dituntut untuk menggapai keberhasilan keduanya secara bersamaan.Dan salah satu upaya terbaik untuk menggapai keduanya adalah membangun Aura /emosi positif melalui cerita di awal pembelajaran dan Senyuman. Energy positif adalah keadaan dimana pembelajaran mampu menghadirkan suasana ceria (joy),ketertarikan (interest), kepuasan atau kelegaan (contentment) dan love (cinta atau kasih sayang) melalui senyuman dan emosi penuh kasih dan sayang.

Learning is most effective when it’s fun memberi kita landasan yang sangat penting dalam pembelajaran. Menyenangkan adalah kondisi dimana anak didik terbebas dari rasa tertekan, tidak berdaya, putus asa serta bentuk tekanan psikologsi lainnya. Kondisi ini sejalan dengan syarat utama bekerjanya otak secara maksimal:keadaan yang menyenangkan, dengan mengoptimalkan Emosi yang positif dan senyum yang terus mengembang pada saat Proses Pembejaran karena di sadari atau tidak ketika pendidik/guru dalam proses pembelajaran ternayata ada energi negative, tanpa senyum maka yang terjadi adalah pembelajaran terasa hambar dan timbul ketakutan para peserta didik dan pasti tidak akan tercapai Tujuan pembejalaran

                Energi Positif adalah Keadaan yang menyenangkan lebih pada suasana hati yang positif semisal bangkitnya minat,adanya keterlibatan penuh,serta terciptanya makna dan nilai yang membahagiakan. Kegembiraan belajar seringkali merupakan penentu utama kualitas dan kuantitas belajar yang dapat terjadi. Bahwa emosi berpengaruh besar pada kualitas dan kuantitas belajar.Emosi yang positif dapat mempercepat proses belajar dan mencapai hasil belajar yang lebih baik, sebaliknya emosi yang negatif dapat memperlambat belajar atau bahkan menghentikannya sama sekali. Oleh karena itu, pembelajaran yang berhasil haruslah dimulai dengan menciptakan emosi atau Energi positif pada diri pembelajar. Untuk menciptakan emosi/Energi positif pada diri siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan dengan penciptaan kegembiraan belajar., Kegembiraan belajar sebagai suasana hati yang positif (emosi positif) dapat tercipta melalui berbagai macam kegiatan yang kreatif. Kegiatan kreatif yang dapat meggugah munculya emosi positif diataranya adalah kegiatan-kegiatan pelepas stress.Salah satu kegiatan pelepas stress yang bisa dilakukan untuk meggugah munculya perasaan (emosi) positif adalah pemberian cerita di awal pembelajaran.

CERITA SEBAGAI PEMBUKAAN PEMBELAJARAN

                Salah satu kekuatan penting dalam proses belajar mengajar adalah keterkaitan emosional guru dengan siswa Sebuah cerita yang kita sampaikan di awal pembelajaran akan memiliki kesan yang mendalam bagi anak didik. Kesan yang muncul dari cerita yang disampaikan juga akan membantu proses pembelajaran dan penyampaian materi selanjutya.Disamping itu,cerita juga mampu mengaktifkan seluruh perasaan yang positif pada sang pemberi cerita (guru). Kondisi tersebut diatas memudahkan baik anak didik maupun guru dalam membangun interaksi pembelajaran yang baik.Tidak adanya sekat psikologis diantara guru dan anak didik akan memungkinkan terjadinya pembelajaran yang nyaman, tanpa tekanan dan memberi ruang yang luas bagi murid untuk mengeksplorasi diri dan pengetahuan yang didapatnya.

CERITA MENGINSPIRASI

                Cerita inspiratif juga bisa dijadikan sarana membangun motivasi anak didik. Anak didik akan dapat belajar dari cerita-cerita yang disampaikan oleh guru. Baik belajar tentang kearifan, keberanian, atau menceritakan kisah sukses tokoh orang-orang sukses dan hebat, bisa juga dengan menceritakan kisah atau perjalanan hidup sang guru, dan tentu adalah perjalanan suskses dengan ditambahi bumbu senyum dan joke segar dan menyenangkan atau bisa juga Cerita hikmah-hikmah yang lainnya. Dan yang lebih penting adalah bahwa cerita mampu mempengaruhi karakter anak didik. Modalitas inilah yang nantinya akan bermuara pada mental dan sikap positif anak didik. Baik saat mengikuti pembelajaran maupun ketika mereka dihadapkan pada kehidupan nyata.

DENGAN SENYUM YANG MENYEJUKKAN

                Ada pepatah “Seulas Senyum Guru sejuta Bahagia bagi Murid”, ada yang bilang “senyum adalah Ibadah”, sungguh kalimat penuh makna yang sering kita dengar dan kita ucapkan. Senyum merupakan ekspresi wajah yang ditandai dengan pergerakan bentuk bibir yang kedua bagian sudutnya naik ke atas secara simetris. Senyum sebuah perilaku respons positif seseorang  yang menunjukkan rasa senang. Senyum juga merupakan naluri alamiah manusia karena manusia dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai mahluk yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Berbagai makna dapat kita tangkap dari sebuah senyuman, namun hal tersebut hanya mengarah kepada satu hal yaitu respons positif.  Begitu tingginya kekuatan dan efek positif dari senyuman, lantas mengapa hal ini tidak kita bawa ke ranah pendidikan? Dunia pendidikan selain sebagai media eksplorasi pengetahuan juga merupakan dunia untuk membentuk karakter manusia yang berakhlak baik dan mental lembut. Saat ini siswa terbelenggu oleh lingkungan yang keras dan justru membentuk mental yang keras pula. Mental yang keras ini berdampak negatif pada tindakan dan perasaan yang tidak sensitif serta memiliki kecenderungan mengarah kepada hal yang bersifat anarkis, seperti tawuran, kekerasan kepada sesama pelajar, bercanda dengan kekerasan fisik, dan tindakan lainnya yang dianggap sebagai hal yang biasa karena ketidakpekaan rasa simpati dan sosialnya.

                Pernahkah terpikir oleh kita begitu besarnya dampak dari hal kecil yaitu senyuman di dalam pendidikan kita? Maka sudah sewajarnya bagi tenaga pendidik untuk selalu menghadirkan senyuman di setiap pembelajaran dan aktivitasnya sebagai tenaga pendidik. Pola pembelajaran kita telah banyak dilengkapi dengan pembelajaran yang mengandung unsur eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi agar mengembangkan keterampilan dan pengetahuan siswa yang bersifat kognitif. Pola pembelajaran yang ada, sebenarnya juga sudah dilengkapi dengan keterampilan afektif melalui pendidikan karakter, namun hal ini akan terkondisi secara maksimal jika menghadirkan senyuman di dalam setiap pembelajaran. Hal ini juga merupakan bentuk pelayanan maksimal sebagai insan abdi negara yang memberikan layanan yang terbaik bagi peserta didiknya. Selain itu, hal ini juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur keikhlasan tenaga pendidik untuk tulus di dalam mengemban tugas mulia sebagai tenaga pendidik. Begitu mudahnya  manusia untuk melakukan senyuman, karena senyuman tanpa memerlukan pemikiran, biaya, dan tenaga. Bentuk sikap yang mudah ini sebenarnya sangat relalistis untuk dapat dilakukan di dalam setiap pembelajaran. Sebagai pendidik, tentu kita memiliki tanggung jawab membangun mental bangsa yang baik, dan senyuman ini adalah salah satu kuncinya. Karakter bangsa yang baik akan tercermin dari perilaku yang ramah dan murah senyum. Hal ini harus dipupuk sejak awal yaitu pada masa siswa mengenyam bangku pendidikan, dan figur guru sebagai motor penggeraknya. Bagaimana dapat membentuk mental bangsa yang lembut, jika gurunya saja susah sekali untuk senyum? Kekakuan ini adalah sebuah penyakit yang dapat menular kepada siswanya. Untuk itu, kita bentuklah karakter manusia yang lembut melalui senyuman di dalam setiap aktivitas tenaga pendidik. Aktivitas yang mudah ini, secara tidak sadar akan berdampak besar pada psikologi anak. Senyuman merupakan bahasa tubuh yang singkat untuk dilakukan namun memberikan kesan damai, dan tenang dalam jangka waktu yang lama. Mari kita budaya dan tumbuh kembangkan senyuman di dalam setiap pembelajaran. Selanjutnya mari kita budayakan memberi Aura Positif dalam setiap proses pembelajaran pada siswa melalui senyum, berkata baik, santun dan selalu menebar saying penuh cinta dan cerita cerita yang inspiratif penuh motivasi agar siswa menjadi tertarik dan memahami setiap proses pembelajaran, semoga. Sudahkah Kita senyum hari  ini?..

*) Penulis adalah Guru MAN 5 Bojonegoro , Pegiat Pramuka 

KELUAR