Kamis, 02 Des 2021

Kado Terakhir Untukmu

Oleh : Moch. Abdul Aziz

Hal paling membosankan dalam dunia pendidikan, bagi sebagian besar siswa adalah mata pelajaran Matematika. Termasuk juga aku Moch. Abdul Aziz. Entah kenapa sejak masuk di jenjang Sekolah Menengah Akhir rasanya semua berbeda. Aku yang dulu bisa dikenal paling cinta dengan matematika kini mendengar namanya saja rasanya ingin kutinggal pergi. Bahkan bisa mual atau akan lari sejauh-jauhnya.

Mata pelajaran matematika sepertinya sudah membuat para siswa kesal dan bosan. Meski ada yang bilang bahwa itu adalah mata pelajaran paling seru dan menyenangkan. Bagaimanapun pendapat kalian yang jelas sangatlah sulit menjumpai siswa yang berfikir demikian. Mungkin saja dalam satu kelas hanya 1:32 atau bisa dibilang satu siswa dalam satu kelas yang menyukai matematika. Entahlah, bagaimanapun saat ini kutarik kesimpulan bahwa matematika itu rumit, serumit perjalanan hidup.

*****

Aku duduk mematung sembari memainkan jari-jari tanganku. Berharap menghilangkan rasa bosan yang ada. Pagi ini sepertinya teman sekelas tidak akan hadir. Karena di jam pertama ini adalah pelajaran matematika. Kalaupun hadir mungkin disengaja setelah jam pelajaran matematika berakhir. Namun aku tidak ingin melakukan hal segila itu. Karena aku adalah anak dari kepala sekolah di SMA ini. Bagaimanapun aku harus tetap semangat. Sekolah yang kutempati sekarang adalah SMA Garuda di Kota Bandung. Sekolah ini memang adalah Swasta. Itulah sebabnya para siswanya terkenal nakal-nakal. Bolos adalah kegiatan rutin para siswanya. Terutama para kaum laki-laki.

Jam dinding terlihat menari dalam ilusiku. Terpampang jelas sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Sedangkan kondisi kelas masih saja sepi tak berpenghuni. Hanya aku dan mahluk-mahluk astral yang tak ingin menampakkan dirinya. Tiba-tiba terdengar suara hentakan sepatu dari ujung koridor sana. Tepatnya suara tersebut hendak masuk ke dalam kelasku. Aku berusaha tenang sembari mengeluarkan buku pelajaran matematika. Aku tau bahwa mungkin itu adalah bu Fatma, guru matematika di kelas ini. Tapi kemaren kabarnya bu Fatma sakit keras dan izin libur sementara waktu. Lalu siapakah sosok yang sedang berjalan itu? Entahlah nanti akan masuk dengan sendirinya.

Aku semakin bosan dan memilih untuk menuliskan kata-kata tidak jelas di lembar paling akhir buku tulisku. Aku menulis disana dan tertulis “I Hate Math”. Entah apa yang merasukiku menulis itu, tapi itulah kenyataannya. Tiba-tiba masuklah seorang guru yang tak kukenal. Aku berfikir bahwa mungkin itu adalah guru baru.

“Assalamualaikum.” Ucap guru itu santun.

“Waalaikumsalaam. Iya bu silahkan masuk.” Kujawab salam dan mempersilahkannya masuk.

“Apa benar ini kelas 12 IPS 3?”

“Iya bu, kami adalah kelas yang tak pernah dianggap pihak sekolah.”

“Loh kok bisa?” Tanyanya mengerutkan dahi.

“Coba ibu lihat kelas ini? Adakah orang?”

“Iya kok belum datang semuanya?”

“Iya karena semua siswa menghindari mata pelajaran matematika. Nanti saat jam pelajaran kelima setelah istirahat baru datang siswanya.”

“Bagaimana bisa seperti itu?”

“Panjang bu ceritanya. Sudahlah bu saya males pelajaran matematika. Lagian ibu ini siapa kok kesini? Bu Fatma kemana bu?”

“Oalah iya bu Fatma sakit. Dia berhenti jadi guru. Ibu pun seharusnya tidak mau mengajar di kelas ini. Tapi bagaimanapun semua siswa harus belajar. Akan ibu usahakan sebaik mungkin.”

“Tak perlu bu. Semua tak akan berhasil. Percayalah hampir semua guru tidak akan bertahan masuk di kelas ini.”

“Apa benar? Semoga ibu bukan termasuk dari mereka.”

“Omong kosong. Saya mau ke kantin bu lapar.”

“Silahkan, nama saya ibu Sofi.”

“Oke”

Tanpa bicara apapun aku pergi meninggalkan wanita yang mengaku sebagi guru baru itu. Rasanya aku ingin keluar mengisi perut ke kantin. Hampir saja aku sampai di perjalanan tepatnya hendak selesai menuruni tangga. Seketika pandanganku beralih kembali. Aku terkejut saat melihat bapak kepala sekolah alias bapakku sendiri. Aku melihatnya jelas sedang duduk di depan kantor sembari membaca koran. Tanpa pikir panjang aku bergegas kembali ke kelas. Meskipun itu dalam keadaan terpaksa.

*****

Aku kembali masuk ke dalam kelas yang membosankan. Betapa terkejutnya aku dan mendadak jiwa ibaku meronta-ronta. Aku melihat Bu Sofi menangis tersedu di mejanya. Dengan berat hati aku menghampirinya dan kuambil kursi kemudian duduk disampingnya. Tak perlu kaget, karena memang sebenarnya aku berhati mulia. Aku menjadi nakal seperti ini karena teman sekelasku. Yah kalian tau sendirilah bagaimana tingkah laku anak Sosial.

“Ibu kenapa menangis?” Tanyaku keheranan mendapati seorang guru natematika yang menangis di mejanya.

“Tidak apa nak, ibu hanya khawatir dengan masa depan anak-anak saat ini.” Jawabnya sembari sesekali menyeka airmatanya.

“Bagaimana bu maksutnya?” Tanyaku.

“Ibu bingung nak, bagaimana caranya membuat anak-anak menyukai pelajaran Matematika.”

“Hehe, entahlah bu saya juga bingung. Karena maaf saya sendiri juga kurang menyukai Matematika.”

“Loh. Kok begitu.”

“Kalau boleh jujur, dulu memang saya sangat menyukai pelajaran itu. Bahkan saat di Sekolah Dasar saya meraih nilai sempurna Ujian Nasional Matematika.”

“Wizzz keren. Kamu berbakat loh nak.” Ucapnya sembari mengelus kepalaku.

“Tidak bu, itu karena saat Sekolah Dasar semua teman sekelas benar-benar berjuang mati-matian untuk bisa meraih hasil yang terbaik. Saat itu ada yang namanya semangat.” Jawabku tersenyum.

“Apa bedanya dengan masa SMA? Bukankah harusnya lebih semangat lagi?”

“Tidak bu. Saya merasa tingkat pendidikan terberat sebenarnya bukanlah masa perkuliahan. Tapi masa SMA.”

“Kenapa kamu bilang begitu?”

“Saya menganggap bahwa kurikulum kita kurang maju bu. Coba ibu fikirkan bagaimana mungkin kita satu siswa harus menanggung sedikitnya 16 Mapel dalam satu minggu. Belum lagi tugas dan Pekerjaan Rumah yang segudang. Kita tidak mungkin bu bisa menanggung semua itu. Apalagi mata pelajaran matematika. Kita dipaksa untuk harus bisa. Padahal tidak semua orang bisa berkutat dengan angka. Ada yang hanya bisa berkutat dengan tulisan. Otak kita terbatas bu, tapi kurikulum tak pernah bertindak cerdas.” Tukasku benar-benar kecewa.

“Kamu benar nak. Terkadang kita berfikir bisa tetapi kita tidak mungkin memaksa sesuatu yang bukan bidang kita.”

“Begitulah bu. Sudahlah jangan menangis lagi. Saya berjanji akan berubah menjadi lebih baik lagi bu.”

“Syukurlah kalau begitu. Semoga semua siswa seperti kamu.”

“Hemmm. Makasih bu, semoga saya bisa mengajak teman-teman berubah menjadi lebih baik lagi.”

“Iya bagus. Akan ibu bantu.”

“Iya bu.” Aku mengangguk tanda setuju.

Hari ini aku benar-benar terketuk hatiku untuk bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Aku mulai berfikir jika teman-teman bisa mempengaruhiku menjadi nakal. Lalu mengapa aku tidak bisa mempengaruhi mereka menjadi anak yang baik? Aku mulai berusaha untuk merubah mainset tentang pelajaran matematika. Aku harus kembali semangat seperti anak SD. Apalagi sebentar lagi Ujian Nasional akan terjadi. Tepatnya sekitar 6 bulan lagi. Sepertinya mulai hari ini bu Fatma akan resmi mengajar di sini.

Jam istirahat telah tiba  dan bu Sofi pamit untuk mengakhiri jam pelajarannya. Hari ini tidak ada jam pelajaran karena hari pertama bu Sofi  masuk. Selain itu juga tidak ada siswa yang masuk saat jam pelajaran matematika. Bu Sofi pergi begitu saja dengan membawa buku-buku besar bertuliskan matematika. Aku memperhatikannya sampai benar-benar jauh dan tak terlihat oleh pandanganku. Setelah itu aku berdiri dan bermaksud untuk mengembalikan kursi yang kuambil tadi.

Hampir saja aku berdiri dari kursi. Sebuah benda berbentuk kotak berwarna cerah mengalihkan pandanganku. Yap aku melihatnya tergeletak begitu saja di atas meja. Kulihat dan rupanya itu adalah sebuah buku. Sepertinya itu adalah buku milik bu Sofi. Tanpa pikir panjang kuambil buku itu dan kumasukkan kedalam laci bebarengan mengembalikan kursi ke tempat semula. Hampir saja kududuk dan membaca isi dari buku tersebut. Tiba-tiba teman-teman berdatangan masuk ke dalam kelas. Akhirnya kuamankan lagi buku itu dan berniat akan ku baca di rumah nanti.

*****

Sesampai di rumah aku segera mencoba membuka isi dari buku tersebut. Sengaja untuk judul buku tidak kusebutkan di sini. Aku mulai membaca sedikit demi sedikit isi di dalam buku tersebut. Tiba-tiba secara perlahan sesuatu mengalir dari mataku. Itu adalah airmata kesedihan akibat membaca isi buku. Semakin lama kubaca buku itu maka airmata ini semakin deras mengalir. Dalam buku tersebut aku membaca bahwa betapa kerasnya perjuangan seorang guru yang mengajar di desa. Dalam buku tersebut  diceritakan tentang seorang guru honorer yang gajinya tidak seberapa. Dia terpaksa mengajar di sekolah swasta pedesaan dan berhadapan langsung dengan siswa-siswa yang begitu nakal. Kegigihannya dalam mengajar tidak pernah dihargai. Semua usahanya dalam mengajar hanya menghasilkan rasa sakit dan penuh derita. Hingga suatu ketika guru tersebut tewas di tangan salah satu muridnya.

 Namun ketika hari kematian seorang guru, semua siswa yang di ajar olehnya datang berbondong-bondong untuk mengikuti proses pengurusan jenazah. Setelah itu semua siswa menyesal karena tidak pernah menghargai jasanya. Semua siswa kini tak lagi menemukan sosok guru seperti itu. Sosok yang begitu sabar, pekerja keras, dan pantang menyerah dengan ketulusannya. Hingga akhirnya mereka sadar dan perlahan berubah menjadi lebih baik.

Subhanallah, betapa keras perjuangan seorang guru. Dia begitu rela berkorban demi apapun itu. Dia bahkan rela tidak dibayar hanya untuk bisa melihat siswanya kelak menjadi orang yang berguna. Betapa sulitnya menjadi seperti guru. Harus berhadapan dengan berbagai sikap yang terkadang kurang enak di hati. Berapa kali dirimu membuat bahagia muridmu. Juga berapa kali kau menorehkan tenaga, fikiran, harta, dan waktu yang hanya terbalas rasa sakit. Maafkan kami semua. Kami tidak pernah bisa membalas jasamu.

*****

Keesokan harinya dihari minggu. Aku berencana untuk menemui semua-teman sekelasku di tempat biasa kami berkumpul. Jika biasanya berkumpul untuk bersenang-senang maka hari ini aku berniat untuk mengajak mereka tergugah hatinya untuk sadar. Semoga rencanaku ini berjalan dengan lancar. Semoga semua menanggapiku dengan baik.

“Hey teman-teman kalian udah lama ya? Maaf ya udah membuat kalian menunggu!” Sapaku santay.

“Iya tidak masalah, kami juga baru datang.” Jawab Vino si ketua kelas yang bijaksana.

“Udah jangan banyak bacot. Mau ngapain nih disuruh kumpul kesini? Buang-buang waktu saja.” Gerutu Bimo, siswa paling nakal di kelas.

“Eh iya maaf-maaf aku hanya ingin kalian membaca ini sebentar.” Kusodorkan buku kemaren ke mereka.

“Apaan tuh. Sini aku baca!” Tarik Cindy dan bergegas membaca buku itu.

“Iya, ini silahkan!”

Aku melanjutkan jalanku  untuk duduk di samping mereka semua. Sembari menikmati segelas kopi tradisional yang masih hangat. Kopi ini sudah sengaja dipesankan sebelum aku datang. Aku tau pada dasarnya semua temanku ini baik. Mereka menjadi nakal dan brandal hanya karena kondisi mereka. Tapi aku tidak mungkin menuntut itu. Karena bagaimanapun kita tidak bisa memilih akan dilahirkan dari keluarga seperti apa. Berbeda denganku yang lahir dari keluarga seorang guru. Pastinya aku harus berakhlak baik dan belajar dengan rajin.

Cukup lama menunggu dan menyeruput kopi sedikit demi sedikit. Tak terasa secangkir kopi di tanganku perlahan mulai habis. Kuletakkan cangkir kopi itu dan kupandangi teman-teman yang membaca buku.  Aku melihat ada beberapa diantara mereka sedang meneteskan air mata. Ada juga yang tertawa membacanya karena dia tidak bisa membaca. Ada juga yang membanting buku itu ke bawah tanah. Semua seketika bercampur menjadi satu suasana.

“Gimana teman-teman bukunya? Bagus?” Tanyaku kepada semuanya.

“Iya bagus. Aku jadi ingat sesuatu.” Ucap Sintya.

“Apa itu?” Tanyaku menaikkan alis.

“Bu Fatma.”

“Ada apa dengan bu Fatma?”

“Apakah kita tidak keterlaluan pernah menyia-nyiakan bu Fatma?”

“Ternyata kamu sependapat denganku.”

“Bagaimana kalau kita besuk bu Fatma ke rumahnya? Kita minta maaf?” Usulku.

“Iya itu ide bagus. Aku benar-benar menyesal dengan diriku. Aku takut cerita dalam buku ini akan terjadi pada kita.” Guruh Fiko.

“Kalian pergi aja sana. Buat apa minta maaf. Kita gak salah kan? Salah sendiri dia ngajar di kelas kita? Salah sendiri dia gak kapok-kapok masuk kelas kita.” Bentak Bimo menolak.

“Astaghfirullah Bim. Kamu ini benar-benar manusia gak punya hati.” Ucap Cindy menasehati.

“Kalau aku gak mau gimana? Gausah deh maksa-maksa. Kamu juga pake acara drama segala.” Bimo berdiri, menarik kerah bajuku dengan kasar, dan semakin marah.

“Eh sabar-sabar. Kalau kamu gak mau jangan kayak gini caranya. Sudah ayo teman-teman yang mau ikut ke rumah bu Fatma silahkan siap-siap.” Lerai Vino si ketua kelas bijaksana.

“Iya siap. Maaf ya Bim udah buat kamu marah.” Sapaku mohon maaf.

“Iyaudah ayo aku ikut. Kalian kesana gak bawa apa-apa?” Tanya Bimo mulai sadar.

“Hem. Bawain apa ya. Ini aku ada kue balok buatan ibu. Harusnya dimakan kalian. Tapi bolehlah kita bawa buat bu Fatma.” Usulku.

“Iya oke ide bagus. Yok kita berangkat. Sebelum semuanya terlambat.” Seru semua teman sekelas.

*****

Beberapa jam kemudian setelah melakukan perjalanan. Akhirnya kita semua sampai di depan halaman rumah bu Fatma. Rasa bahagia teman-teman sekelas rupanya tampak dari mulai di tempat berkumpul sampai saat ini. Namun, seketika rasa bahagia yang tercurah rupanya tidak bertahan lama. Seketika semua mulai cemas saat mengetahui bahwa di sekitar rumah bu Fatma berjajar bendera kuning yang tersusun rapi. Pikiranku seketika kacau dan hatiku mulai tidak tenang. Fikiran negatif mulai datang silih berganti memasuki fikiranku.

Semoga fikiran negatif ini salah mengartikannya. Namun, semua telah terjadi dan tak bisa mengelak. Saat masuk ke dalam rumah bu Fatma semua mata berbinar. Termasuk aku dan semua teman sekelas yang masuk ke dalam. Betapa terpukulnya kami saat mendapati bahwa bu Fatma telah pergi meninggalkan kami. Terlihat jelas disana semua orang menangis penuh haru. Semua dari kami menyesal karena merasa sangat bersalah dan terlambat minta maaf. Di saat hari-hari terakhir kita tidak sempat menghadiahkan sesuatu yang bisa membuat bu Fatma bahagia. Rasanya seperti di tikam oleh duri tajam yang tak bisa dicabut. Tapi bagaimanapun semua telah terjadi. Tak akan bisa kembali dan tak akan bisa di perbaiki. Semua harus ikhlas atas kematian bu Fatma. Hari ini adalah hari terakhir kita bertemu dengan bu Fatma. Selamat tinggal bu Fatma semoga engkau mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Maafkan kami yang selama ini membuat hatimu tidak tenang.

*****

Senin telah tiba, saatnya memperbaiki semua kesalahan yang sudah-sudah. Aku dan teman sekelas telah berjanji dan mengucapkan ikrar untuk tidak membuat kesalahan yang sama. Setelah upacara kami masuk ke dalam ruang guru dan meminta maaf kepada semua guru. Beberapa diantaranya ada yang tertawa bahkan ada yang merasa aneh tidak percaya. Tapi bagaimanapun kita harus berusaha meyakinkannya.

Jam pertama telah tiba. Saatnya jam pelajaran matematika, gurunya adalah bu Sofi. Semua duduk di tempat masing-masing dengan rapi dan tidak ada suara sumbang nan berisik seperti biasanya Hari itu semua siswa sekelas tersenyum ceria mengikuti pelajaran matematika. Semoga hari ini adalah awal dari perubahan yang besar untuk aku, kamu, dan juga kita kelas 12 IPS 3. Semua akan berawal dari kesalahan yang akan berakhir dengan kata lulus penuh kebahagiaan. Karena tak selamanya hidup itu memaksa, tapi hidup itu butuh yang namanya bahagia.

*****

“Untuk sang pelita yang tak pernah lelah menebar ilmu. Terimakasih atas semua jasa yang kau beri untuk anak didikmu. Tak banyak inginku menuliskan hal indah tentangmu. Tapi ketegaranmu, membuatku tergugah untuk mengungkapkan semua lewat diksi-diksi yang terlihat lugu.

Atas semua waktu, tenaga, dan fikiran yang kau curahkan. Aku memohon maaf atas semua kesalahan. Dirimu bagaikan lilin, yang rela terbakar habis hanya untuk menerangi kegelapan. Dirimu tak pernah menyerah. Atas semua perlakuan kurang menyenangkan, yang silih berganti datang menikam.

Jika selama ini aku belum bisa memberikan yang terbaik. Percayalah bahwa suatu saat, akan ada hal indah yang membuatmu menjadi lebih baik. Jika terlalu banyak kesalahan yang kulakukan. Maka kuharap, semoga engkau memaafkanku dengan penuh keikhlasan.

Untuk semua guru dimanapun engkau berada. Tetap semangat dan teruslah sabar menghadapi murid-muridmu yang terkadang membuatmu kecewa.”

Bojonegoro, 22 Maret 2020

TENTANG PENULIS

Moch. Abdul Aziz, lebih akrab dipanggil dengan Aziz. Lahir di Bojonegoro kota ledre, 18 September 2001. Dia bercita-cita menjadi ilmuan dan ahli dalam bidang Matematika. Saat ini dirinya menjadi siswa kelas 12 jurusan MIPA di MAN 5 Bojonegoro. Pemuda yang lebih suka dipanggil dengan nama pena Latteaz ini menyukai sesuatu yang manis seperti senyuman seseorang dan coklat. Di sela-sela waktu senggang terkadang waktunya habis untuk menulis. Baginya menulis adalah hal paling indah dalam hidup. Dirinya bukanlah penulis spesialis yang sok narsis. Tapi dirinya adalah penulis yang ingin terus belajar menjadi lebih baik. Si ramah ini menyukai sesuatu yang penuh teka-teki seperti puzzle, rubik, dan semua yang berhubungan dengan angka. Saat ini dirinya sedang merintis komunitas kepenulisan online bernama Ufuk Literasi. Karya-karyanya yang masih seumur jagung  bisa anda lihat di akun instagram @aziz_1809 atau hubungi emailnya abaz180901@gmail.com bisa juga di akun wattpadnya @Latteaz. Gausah sungkan-sungkan ya orangnya baik hati dan tidak sombong kok.

Post Terkait

KELUAR