Kamis, 02 Des 2021

Menelisik Akar Persoalan Terorisme Pada Tataran Epistemologi

Oleh:

Drs. Syaefuddin Zuhri, SPdI. MMPd.

Abstraksi

Statistik pertumbuhan dan perkembangan Islam dewasa ini sungguh menggembirakan. Di antara semua yang ada, Islamlah yang tercepat dan terpesat. Dalam sejumlah hal ini mencengangkan. Dalam sejumlah hal yang lain memperlihatkan semacam anomali: ditekan dari berbagai sudut dalam berbagai skala bukan malah memerosotkan statistiknya tetapi justru meningkat, terutama, secara sebaran dan populatif. Itu di satu sisi. Di sisi lain, eskalasi konflik dan berbagai bentuk kekerasan, utamanya yang ditajuk dengan issu-issu terorisme, terasa meningkat dari waktu ke waktu. Lebih miris lagi bahwa nyaris semua itu dinisbahkan kepada Islam dan pemeluknya sebagai pelaku. Dalam hal-hal seperti ini semua orang, lebih-lebih umat Islam, harus bisa membaca apa yang tengah tersembunyi. Bila sesuatu entitas (apapun itu) tengah menapaki grafik meningkat pesat, tentulah akan ada pihak-pihak yang menjadi anti-tesisnya. Anti-tesis berusaha menghambat, bila perlu memadamkan. Jadi berbagai format kekerasan, sebagian pihak lebih menyukai dengan terma terorisme, yang amat banyak dinisbahkan dan ditimpakan pada Islam haruslah ‘dibaca’ dengan cara berbeda. Islam sebagai sebuah entitas tersendiri, berpeluang sangat bagus untuk memenangi perang antar isme. Islam memperlihatkan kemajuan semakin pesat, tetapi jalannya bukan jalan tol. Di ujung penghadapan sana banyak pihak yang menaruh berbagai rintangan. Dalam konteks inilah Islam berada. Berbagai bentuk kekerasan dan terorisme yang ada adalah cara anti-tesis untuk menghambat laju statistik tersebut. Canggihnya adalah tidak sedikit dari pemeluk Islam sendiri yang terekrut untuk menjadi ujung tombak tindakan-tindakan yang sangat tidak populer tersebut.

 

Kehidupan umat manusia terus bergulir dari waktu ke waktu tanpa jeda. Dalam takaran populatif, jumlah manusia terus bertambah dengan pola deret geometrik. Deret ini memberikan gambaran bahwa untuk mencapai jumlah besaran angka populasi tertentu di jaman dahulu membutuhkan waktu lama. Di jaman sekarang waktu yang dibutuhkan lebih singkat. Di jaman semakin ke depan akan semakin lebih singkat dari yang sudah singkat sebelumnya. Perkembangan angka-angka dalam deret ini bila dibuat grafiknya akan membentuk kurva seperti ledakan. Itulah mengapa sering terdengar istilah ledakan jumlah penduduk untuk menggambarkan besaran angka-angka yang ada.

 

Fenomena tidak terhindarkan di atas tentu menghadirkan multi problem demografi tersendiri yang tidak mudah begitu saja diurai. Luas permukaan bumi tetap sejak kemunculan bumi itu sendiri. Yang berubah-ubah adalah pupulasi para penghuni bumi. Dari semua dunia flora dan fauna yang ada, perkembangan dan pertumbuhan yang terjadi mengenainya selalu saja berada dalam proporsi keseimbanngan. Selalu ada mekanisme penyeimbangan diri. Meledaknya jumlah populasi spesies tertentu, misalnya, tidak pernah mengusik keseimbangan alam. Tidak mengusik keseimbangan ekosistem. Masing-masing spesiesnya makan hanya seperlunya, hanya sebatas kebutuhan. Tidak makan yang tidak dibutuhkan. Tidak serakah, tidak rakus. Memang ada spesies-spesies kuat (sekedar tidak menyebut buas) tetapi tetap saja berlaku seimbang. Tidak mendominasi.

 

Lain halnya ketika manusia turut hadir di permukaan bumi untuk ikut meramaikan dinamika kehidupan di dalamnya. Ketika populasi manusia masih sedikit, maka gesekan yang bedimensi seperti ‘takut tidak bisa makan’ belum menjadi gesekan yang nyaring terdengar. Ketika populasi manusia bertambah banyak dan semakin banyak, maka gesekan dalam dimensi tersebut menjadi sering dan semakin sering terdengar. Manusia menjadi sangat ‘menegaskan’ diri dalam proteksi kelompok dan teritori. Dalam diri manusia menjadi semakin terbentuk karakter-karakter yang mengarah pada penguatan untuk terjadinya gesekan-gesekan. Sekedar mengambil dan mengkonsumsi secukupnya menjadi dianggap tidak cukup. Oleh karenanya menyimpan, menimbun dan menguasai menjadi pilihan berikutnya. Terbentuklah watak serakah dan rakus. Alam dengan keseimbangan ekosistemnya menjadi semakin tidak seimbang, rusak dan tergradasi karena manusia yang tidak peduli. Padahal larangan membuat kerusakan di muka bumi sangat jelas dan eksplisit. “Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi [1], mereka menjawab: Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan [11]. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar [12]” (QS.Al-Baqarah: 11). Lebih jauh, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS.Ar-Ruum: 41). Sang Pencipta senantiasa mengetahui siapapun yang berbuat kerusakan. “Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang berbuat kerusakan” (QS.Ali Imran: 63). Terma kerusakan di sini tentu dalam makna yang luas. Manusia tampak tidak bersedia menempatkan para makhluk flora dan fauna sebagai kawan hidup berdampingan untuk bereksistensi di permukaan bumi, melainkan mengeksploitasinya habis-habisan dan mewariskan kerusakan-kerusakan di dalamnya.

Persoalan krusial di atas tampaknya masih perlu disempurnakan dengan eskalasi gesekan antar spesies manusia sendiri yang kian hari kian merusak. Jauh dari keinginan hidup bersama secara berdampingan dan damai. Memang sebuah hipotetis yang logis bahwa semakin besar populasi manusia akan semakin kuat kualitas dan kuantitas gesekan antar manusia. Walaupun demikian jumlah populasi yang semakin membengkak tersebut tidak akan mengarah pada eskalasi gesekan yang semakin menguat apabila manusia bersedia dengan sungguh-sungguh meneguhkan komitmen hidup bersama berdampingan secara damai. Tidak demikian yang terjadi di lapangan. Ada kelompok-kelompok manusia yang enggan untuk hidup berdampinan secara damai dengan berbagai ekspresinya. Yang satu mengeksploitasi yang lain, yang satu menguasai yang lain, adalah ekspresi-ekspresi yang tampak menguat di permukaan. Ujung-ujung dari perilaku seperti tersebut adalah terkoyaknya keadilan dalam kehidupan umat manusia. Kiranya pesan seperti berikut sangat relevan untuk direnungkan: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia [2] kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran . Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan” (QS.An-Nisa: 135). Tetapi sungguh menyedihkan, ketidakadilan menjadi hiasan hidup umat manusia. Kezaliman memang telah menyejarah, pelakunya terasa berat untuk menyadari. Bukan saja para pencinta keadilan mengutuk, Sang Pencipta pun mengutuknya. “Dan penghuni-penghuni syurga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?”. Mereka penduduk neraka menjawab: “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah dilimpahkan kepada orang-orang yang zalim” (QS.Al-A’raf: 44).

 

Bumi boleh tetap luasannya. Populasi umat manusia boleh semakin membengkak grafiknya. Tetapi jangan melihat sumber daya bumi yang terus menurun sebagai latar belakang penyebab ketidakadilan di muka bumi menjadi hulu persoalan. Dengan 5 milyar penduduknya dari spesies manusia, bumi masih sanggup memberinya makan. Bahkan ketika bumi, menurut salah satu analisa, dihuni oleh 60 milyar manusia pun masih bisa menyediakan pangan, walaupun harus dilakukan dengan mengolah kulit-kulit pohon untuk dijadikan makanan. “Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)-nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya” (QS.Fushshilat: 10). ‘Menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)-nya’ memperlihatkan penegasan firmani tentang kemampuan bumi mencukupi rizki makanan bagi semua makhluk biologi yang ada atasnya atas izin Al-Khaliq.

 

Jadi ketika ada sejumlah kelompok penduduk di muka bumi ini yang kelaparan, kekurangan gizi / malnutrisi, maka itu bukan karena bumi yang sudah tidak lagi sanggup menyediakan kebutuhan pangan semua penghuninya melainkan karena terjadinya ketidakadilan dalam perkara distribusi dan pemerataannya. “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS.Al-Baqarah: 155). Kekuatan dan kesabaran untuk berhadapan dengan situasi di atas memang diperlukan. Kekuatan dan kesabaran memberi orang kemampuan untuk meretas solusinya.

 

Ketika yang satu menguasai yang lain, yang satu mendominasi dan mengeksploitasi yang lain, untuk kemudian melakukan perilaku apapun untuk meraih tujuan tersebut sebenarnya adalah persoalan penguasaan sumber-sumber penghidupan. Ketika tidak ada kesediaan berbagi secara adil dan hidup berdampingan secara damai, maka ini yang menjadi embrio dari berbagai persoalan dan kesulitan yang dialami umat manusia.

 

Komunitas muslim dikaruniai kelimpahan sumber-sumber alam.

Anugerah Al-Khaliq tersebar merata di seluruh permukaan bumi. Semua memperoleh rizkinya masing-masing. Allah memang menjamin rizki bagi setiap makhluk yang diciptakan-Nya. Sama dalam hal pemerataan rizki, semua memperoleh rizki, bukan berarti jenis dan kualifikasi rizkinya sama untuk semua makhluk. Kelapangan dan kesempitan rizki selalu ada (terlepas dari persoalan distribusnya) dan di balik hal-hal seperti ini selalu tersimpan hikmah yang indah. Kesempitan rizki bukan berarti tidak dikaruniakan sama sekali. “Allah melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS.Al-Ankabuut: 62).

 

Keadilan perolehan rizki tentu sangat sulit digambarkan bila adil itu dalam makna sama jumlah, sama takaran, sama jenis. Bila semua manusia memiliki bidang usaha / pekerjaan yang sama [3], maka mekanisme hidup umat manusia justru akan macet. Tidak berjalan. Yang satu membutuhkan tenaga kerja, yang lain tidak mau menjadi tenaga kerja di tempat tersebut karena dia sendiri juga membutuhkan hal yang sama. Dan demikian seterusnya sehingga kemacetan ini mengular semakin panjang karena tidak terjadi interaksi saling membutuhkan, saling menggenapi. Ternyata kelebihan dan kekurangan masing-masing makhluk memiliki manfaat untuk tetap terselenggaranya mekanisme hidup itu sendiri.

 

Umat Islam di seluruh dunia sangat banyak. Sebagian dari antara yang banyak tersebut dianugerahi kelimpahan sumber-sumber energi yang sangat dibutuhkan oleh dunia. Umat Islam yang tinggal di negara-negara Timur Tengah adalah umat Islam pemilik kekayaan sumber-sumber energi berharga tersebut, terutama minyak bumi dan produk-produk turunannya, yang hampir tidak ada orang yang tidak memerlukannya. Sumber-sumber energi penting yang sudah termanfaatkan, maupun cadangannya yang tidak kurang dari dua per tiga dari seluruh jumlah yang ada di dunia, dipasok oleh negara-negara komunitas muslim. Ini anugerah luar biasa besar. Tetapi persoalan yang ada di lapangan tidak hanya berhenti sampai di titik tersebut. Anugerah besar tersebut juga menyulut berbagai persoalan baru.

 

Di sisi yang lain, umat manusia yang berhimpun dalam berbagai bangsa dan negara ternyata bukanlah himpunan-himpunan yang homogen dalam hal watak, karakter dan semacamnya. Tidak juga homogen dalam hal kepentingan dan orientasi. Yang di lapangan sangat heterogen. Heterogen yang saling mendukung, maka itu sangat bagus. Menjadi permasalahan serius tersendiri bila tidak demikian. Yang disesalkan yang ini yang terjadi di lapangan.

 

Ada bangsa / negara yang mengedepankan pendekatan hegemonik untuk meraih sebanyak mungkin hal-hal yang diinginkannya. Ada bangsa / negara yang tidak bersedia hidup damai berdampingan dengan bangsa / negara lain untuk sesuatu alasan yang pada dasarnya bisa dihindari bila ada political will yang baik. Ada bangsa / negara yang ingin menguasai semuanya dengan cara apapun untuk kemudian menjadikan bangsa / negara lain sebagai jajahan dalam berbagai manifestasinya.

 

Searah dengan gambaran di atas adalah perusahaan. Karakter-karakter yang dimiliki bangsa / negara dalam berbagai bentuknya juga bisa dimiliki oleh perusahaan-perusahaan. Cerita tentang perusahaan-perusahaan yang peduli pada nilai-nilai kemaslahatan ada dan bisa dicarikan contoh-contohnya. Sebaliknya cerita tentang perusahaan-perusahaan yang serakah, tamak, mau menang sendiri, tidak peduli pada dampak lingkungan yang ditimbulkannya juga ada dan bisa dicarikan contoh-contohnya. Bila ada kombinasi bangsa / negara yang hegemonik, mau menguasai semua, tidak bersedia hidup damai berdampingan terus mengusung perusahaan-perusahaan dengan karakter yang sama, maka hal semacam ini selalu menjadi berita buruk bagi yang lainnya.

 

Bangsa / negara maupun perusahaan bila dilihat dalam konteks personifikasi juga tidak ubahnya individu-individu manusia. Ada yang baik, juga yang santun. Ada yang berwatak serakah, tamak, ingin menguasai semuanya dan mau menang sendiri. Ada yang merasa nyaman dengan hidup damai berdampingan, tidak terkecuali yang gerah tidak suka hidup damai berdampingan. Dan begitu seterusnya. Tidaklah mengejutkan personifikasi seperti ini karena bangsa / negara pada galibnya adalah himpunan dari individu-individu manusia itu sendiri dalam berbagai satuan populasinya.

 

Di sisi sebaliknya, anugerah sumber-sumber energi penting yang banyak dimiliki masyarakat muslim dalam konteks bangsa / negara merupakan kemasalahatan tersendiri yang harus dan sudah disyukuri. Ini juga sekaligus menjadi persoalan tersendiri karena kelimpahan sumber-sumber energi berharga tersebut menjadi incaran oleh kekuatan-kekuatan hegemonik yang ada yang bersimbiosis dengan perusahaan-perusahaan yang berada dalam ranah karakter yang sama. Implementasi kebijakan-kebijakan di lapangan dari kekuatan-kekuatan tersebut telah menjadi berita buruk bagi yang lainnya. Ketidakadilan global telah terjadi, ketidakadilan ekonomi tidak kurang memilukannya. Bila ketidakadilan global adalah akar tunggangnya, maka ketidakadilan ekonomi menjadi akar serabutnya.[4] Pihak-pihak yang bersemai di dalamnya nilai-nilai keadilan, tidak satupun yang menginginkan akar tunggang dan akar serabut ketidakadilan terjadi di ruang dan waktu manapun.

Yang juga disesalkan terjadinya, kekuatan-kekuatan hegemonik yang ada adalah juga kekuatan-kekuatan yang menerapkan praktik-praktik standar ganda dalam kebijakan dan implementasinya di ranah lapangan. Sikap standar ganda tidak pernah memberikan kenyamanan kepada pihak lain. Sikap standar ganda tidak memiliki tempat di dalam bingkai agama karena sikap ini tidak lain adalah hipokrit atau munafik. [5] Ini yang membuat kekuatan-kekuatan tersebut tidak bisa melihat / merasakan terjadinya beragam bentuk ketidakadilan yang terselenggara di atas permukaan bumi.

 

Tekanan-tekanan militer mengemuka.

Bila diamati lebih cermat, komunitas umat yang paling banyak menerima tekanan, dalam berbagai manifestasinya, adalah komunitas umat Islam. Ini juga bukan karena kejahilan komunitas muslim sehingga kejahilannya pantas mendapat tekanan. Tekanan inipun sebagiannya juga tidak luput diwarnai pengkambinghitaman. Komunitas muslim tidak melakukan tindakan-tindakan tidak pantas, tetapi didakwa melakukannya. Ini juga sering tanpa bukti. Komunitas muslim pada dasarnya pencinta damai, tetapi dipaksa berhadapan dengan hal-hal yang tidak menyenangkan.

 

Tekanan-tekanan yang diterima komunitas muslim bisa berupa konflik dan kekerasan dalam berbagai eskalasinya. Salah satu contoh yang tidak berkesudahan adalah tekanan dan kekerasan yang diterima muslim Palestina oleh kekuatan imperialis Israel. Sudah tidak terhitung lagi kegetiran, darah dan air mata yang harus ditanggung umat Islam di negerinya sendiri tersebut. Aneka persoalan yang keras dan panas di dunia Timur Tengah, yang sudah demikian lama dan berlarut-larut hingga saat ini, akar pokoknya adalah bercokolnya kekuatan pendudukan imperialis Israel di Palestina. Israel di sini harus dibaca sebagai sesuatu yang tidak sendirian melainkan di-back up kekuatan-kekuatan yang bersekutu dalam kekuatan hegemonik yang kuat.

 

Persekutuan kekuatan hegemonik tidak berhenti sampai di titik kepahitan tersebut. Serangan militer yang membabi-buta di Iraq, negeri legenda 1001 malam, telah membuat kerugian tidak terhitung secara materiil maupun non-materiil. Dalih yang digunakan untuk melakukan aksi militer brutal tersebut adalah mencari senjata pemusnah massal yang dibuat Iraq. Terbukti yang dicari tidak ada karena tujuannya memang tidak tentang senjata pemusnah massal. Sesungguhnyalah beragam jenis senjata pemusnah massal sudah sangat lama dimiliki kekuatan-kekuatan hegemonik. Tidak ada pihak yang cukup kuat untuk mengusiknya. Atau bila ada pihak lain yang ingin memilikinya juga, sekedar untuk membuat keseimbangan, maka akan dihambat hingga bahkan dihancurkan oleh kekuatan-kekuatan hegemonik tersebut. Digunakan atau tidak digunakan, maka kepemilikan senjata-senjata berkuatan besar tadi memang sangat efektif untuk menekan pihak-pihak yang berseberangan dengan kekuatan-kekuatan pemilik berbagai jenis senjata mengerikan dimaksud.

 

Kiranya masih belum sempurna bila belum menyebut negeri Afganistan yang juga menerima tekanan militer dari kekuatan hegemonik yang sama. Kerusakan dan kehancuran yang harus ditanggung Afganistan adalah tidak berbeda dengan negeri yang senasibnya di atas. Aksi kekerasan yang dilakukan juga menggunakan dalih yang pada dasarnya dibuat-buat, jauh dari maksud tersembunyi yang sesungguhnya. Atas nama mencari Osama Bin Laden, dan kelompoknya, hasrat untuk menguasai dengan melakukan tekanan militer terselenggara tanpa ada pihak yang mampu mencegahnya.

 

Tragedi memilukan di Palestina, Iraq dan Afganistan bukanlah sesuatu yang terjadi cukup di ketiga wilayah itu saja, melainkan di tempat-tempat lain juga tidak luput dari targeting. Untuk mendesain dalih dan pembenaran, bila diperlukan, juga dilakukan dengan mengorbankan warga sipil sebagai tumbal. Untuk aksioma yang satu ini, maka tragedi peruntuhan gedung kembar World Trade Centre ( WTC ) dengan mengorbankan ribuan warga sipil di dalamnya atau yang dikenal dengan “Tragedi 911 “tidak enggan untuk didramakan. Bekerja sama dengan media massa yang sudah disetting menjadikan drama Tragedi 911 tampil ke permukaan publik global dengan performa sempurna dan mengesankan.

 

Disebutkan bahwa runtuhnya dua gedung kembar WTC karena ditabrak oleh pesawat komersil yang dibajak oleh kelompok radikal muslim.[6] Bersamaan dengan keruntuhan dua gedung kembar tersebut, runtuh juga apa yang disebut “gedung tujuh” yang berada di sebelahnya tanpa klaim sebab oleh pesawat. Penghancuran gedung-gedung tersebut, sementara banyak warga sipil yang berada di dalamnya, yang digemakan dilakukan oleh kelompok muslim telah dijadikan alasan untuk menggempur dan memporakporandakan sejumlah negeri masyarakat muslim. Pada awalnya publik dunia percaya bahwa pelaku keji dan biadab atas peledakan gedung-gedung sipil tersebut adalah kelompok garis keras muslim. Pada tahun-tahun sesudahnya, setelah dilakukan analisa dari berbagai pihak yang kompeten, maka semakin waktu bergulir semakin banyak pihak yang semakin percaya bahwa tidak mungkin gedung kokoh yang disangga oleh struktur baja sangat kuat menjadi roboh dan hancur begitu saja oleh tabrakan pesawat. Yang semakin dipercayai publik dunia adalah gedung-gedung tersebut sengaja dirobohkan dengan cara diledakkan atau dengan istilah lain adalah ‘demolisi’. Ini artinya pekerjaan ‘orang dalam’.

 

Pekerjaan tidak berperikemanusiaan tadi dibutuhkan untuk membangun opini sekaligus dalih untuk unjuk hegemoni. Tanpa proses pengadilan untuk membuktikan siapa yang sesungguhnya menjadi pelaku brutal tersebut, maka tekanan-tekanan militer yang sangat massif dilakukan terhadap pihak-pihak yang ditarget. Betapapun semakin banyak pihak yang semakin tahu siapa pelaku sejati ‘tragedi 911’ maka tetap saja wilayah-wilayah yang dibombardir sudah terlanjur porak-poranda dan mengalami kerugian luar biasa besar.

 

Kepahitan dan kegetiran yang ditinggalkan oleh serangkaian tekanan militer tersebut membuat tidak sedikit pihak menerima begitu saja dijadikan sansak militer secara brutal. Ibarat cacing yang terinjak, selemah apapun tenaganya, ia akan menggeliat menunjukkan rasa tidak menerimanya. Ia memberontak sejauh eskalasi tenaga yang dimilikiya. Di atas semua hal, kekuatan-kekuatan hegemonik tersebut membutuhkan kambing hitam. Dan kambing hitamnya adalah komunitas muslim. Betapapun klaim kambing hitam ditujukan terhadap tidak semua komunitas muslim, kepahitan dan kegetirannya terbukti dirasakan oleh komunitas muslim seluruh dunia. Hal inipun terasa seperti masih harus disempurnakan dengan pelekatan stempel ‘teroris’ di kening kelompok-kelompok muslim yang dibidik. Pun dampaknya juga terasa ke komunitas muslim seluruhnya.

 

Dari sudut pandang yang berbeda, issu-issu terorisme yang rajin dihembuskan sekaligus dipropagandakan oleh kekuatan hegemonik (dan sekutunya) atau dalam hal ini dunia Barat dan issu-issu tersebut dinisbahkan kepada dunia Islam adalah cara Barat untuk mengganyang negara-negara Islam. Demikian statemen pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dalam salah satu sumber. Walaupun dunia Barat juga tidak menyukai pemimpin Korea Utara, namun realitas di lapangan dan apa yang dirasakan oleh negara-negara Islam sudah lebih dari cukup dalam hal memenuhi korelasinya. Dengan kata lain statemen tersebut tidak berlebihan.

 

Kemunculan kekerasan-kekerasan sporadis.

Di sisi yang berbeda, publik dunia juga sering menyaksikan sesuatu bentuk perwujudan perlawanan yang tampil keras dan berdarah. Kekerasan-kekerasan sporadis ini muncul di berbagai tempat. Bom bunuh diri, peledakan tempat-tempat ibadah, peledakan sarana-sarana publik, penyerangan-penyerangan berdarah di area sipil merupakan cara-cara yang ditempuh yang sering terekspose oleh media-media publik. Dalam semua bentuk ekspresi kekerasan ini sering sangat berdarah. Jatuh korban nyawa yang sebagian terbesarnya adalah warga sipil. Kerusakan dan kerugian infra maupun supra-struktur nyaris tidak pernah dalam hitungan bilangan kecil.

 

Bila hal-hal semacam ini terjadi maka publik dunia sudah memiliki cara untuk menyebut pelakunya, yaitu teroris. Secara eksplisit sering dinisbahkan kepada kelompok-kelompok garis keras komunitas muslim. Secara implisit komunitas muslim lain juga merasa seperti ditunjuk keningnya. Media-media massa sendiri juga sering tidak seimbang dan berimbang dalam memberitakan kejadian-kejadian seperti di atas sedemikian rupa sehingga merusak citra komunitas muslim pada umumnya. Apa yang dilakukan kelompok-kelompok media massa dengan pemberitaan miring tersebut juga bisa dilihat dalam konteks bagian dari propaganda global untuk menyudutkan dunia Islam.

 

Bukan untuk menutup sebelah mata bahwa memang sebagian aksi-aksi kekerasan dan berdarah tersebut juga dilakukan kelompok-kelompok muslim yang mengambil pendekatan yang dianggap tidak populer dengan jalan pintas sesingkat yang diinginkan. Ini harus dibaca sebagai kelompok-kelompok muslim tertentu dan tidak untuk digeneralisir. Pun sesungguhnya bagian terbesar dari komunitas muslim di seluruh dunia tidak menyukai, tidak merasa nyaman, dengan cara-cara berdarah dan keras seperti tersebut. Sebab, apapun ekspresi kekerasan dan berdarah yang diampil oleh kelompok-kelompok tertentu dari komunitas muslim tidak mewakili keinginan komunitas muslim seluruhnya. Dan apapun yang seperti ini selalu memberikan imbas citra yang tidak nyaman bagi semua individu muslim. Setiap kekerasan berdarah yang mengemuka nyaris selalu dimaknai itu ‘teroris’ dan itu ‘tentu’ muslim. Betapapun generalisasi tidak pernah disetujui, tidak serta merta menghapus konotasi tersebut.

 

Cara adil untuk memahami.

Untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi maka ada jalan adil yang bisa ditempuh. Tentu sudah banyak pemikiran yang diteorikan yang muncul untuk memahami kekerasan-kekerasan sporadis berdarah tersebut. Tetapi untuk melihat apa yang sungguh-sungguh diinginkan oleh pelaku-pelaku aksi keras tersebut dengan cara yang tidak ambigu jarang untuk sungguh-sungguh diniatkan. Ini karena pemikiran-pemikiran yang coba digunakan untuk memahami persoalan dasar tersebut terkuptasi oleh propaganda kekuatan-kekuatan hegemonik tentang issu-issu terorisme. Jejak-jejak pemikiran yang terkuptasi tersebut sesungguhnya juga tidak terlampau sulit untuk ditelisik. Bila menapak di jalan yang adil bagi semua inipun juga tidak otomatis bebas dari hambatan. Ini harus dimengerti karena setiap kemunculan aksi kekerasan berdarah selalu saja ada pihak-pihak yang bertepuk tangan, selain ada yang sedih, yang menghela nafas panjang, yang mengutuk, yang menyayangkan terjadinya hal semacam dan begitu seterusnya.

 

Bila dilihat dalam kerangka global, di atas semua tekanan kekuatan-kekuatan hegemonik dalam semua manifestasinya, telah membuat dunia Islam berada dalam mimpi buruk. Kengerian dan kegetiran. Kerusakan dan kerugian. Perlakuan yang bersifat standar ganda telah membuat jauh dari rasa adil bagi semua. Semua ini yang menjadi obyek penderita tidak lain adalah tidak sedikit bangsa dan negeri Islam. Adalah apa yang kemudian dirasakan oleh seluruh komunitas muslim di dunia.

 

Dalam konteks seperti ini nyaris tidak ada individu yang bisa bergembira mendapat perlakuan tidak menyenangkan seperti tersebut. Ada rasa tidak bisa menerima secara emosional. Ada yang tidak bisa menerima sekaligus tidak memiliki kekuatan untuk mengekspresikan rasa tidak menerimanya. Ada yang hanya bisa berdoa untuk situasi tersebut untuk segera berakhirnya penderitaan yang ada. Ada yang tidak bisa menerima tetapi merasa memiliki kekuatan untuk mengekspresikan rasa tidak menerimanya.

 

Pada dasarnya kekerasan-kekerasan sporadis berdarah, apa yang sering disebut oleh tidak sedikit media massa sebagai terorisme, berangkat dari kelompok-kelompok yang tidak bisa menerima tetapi merasa harus berjuang mengekspresikan rasa tidak menerimanya yang kebetulan memiliki kekuatan untuk itu. Di luar kelompok-kelompok ini juga tidak diam begitu saja tetapi lebih memilih jalan yang menjauhi aksi-aksi kekerasan. Berjuang tanpa kekerasan. Pada galibnya memang banyak cara ditempuh untuk kebaikan pihak-pihak yang tersakiti tanpa jalan kekerasan.

 

Alur logis yang ditempuh oleh kelompok-kelompok yang tidak bisa menerima tetapi mengekspresikan rasa tidak menerimanya dengan aksi-aksi kekerasan adalah ingin berhadapan langsung secara frontal dengan kekuatan-kekuatan hegemonik. Ini artinya saling angkat senjata. Apapun parameternya jelas kekuatan kelompok-kelompok pengambil aksi kekerasan berdarah tersebut tidak seimbang dengan raksasa hegemonik yang ada. Tidak mungkin mampu melakukan perlawanan frontal langsung. Ini tidak ubahnya cicak vis a vis buaya. Tetapi pada dasarnya hal ini seperti cacing dan kaki manusia. Betapapun ringkihnya fisik cacing, tetapi bila ia diinjak manusia dia akan memperlihatkan gerakan menggeliat ke berbagai arah sebagi pernyataan reaksi perlawanan. Sang cacing akan mati juga, tetapi tidak melewatkan momentum untuk mengirimkan pesan bahwa tindakan tidak patut telah terjadi.

 

Ketidakmungkinan melawan kekuatan-kekuatan hegemonik secara frontal langsung juga bukan tidak diukur oleh kelompok-kelompok tersebut. Ketika berjibaku langsung berhadapan dengan kekuatan-kekuatan hegemonik tidak mungkin menuai keberhasilan, maka mengganggu kepentingan kekuatan-kekuatan hegemonik menjadi alternatif pilihan. Semua tahu bahwa kepentingan-kepentingan sang hegemonik tersebut ada dan banyak tersebar di seluruh permukaan bumi. Bukan tidak mungkin ada asumsi bahwa mengganggu kepentingan-kepentingan tersebut di berbagai belahan dunia bisa menghentikan tekanan-tekanan dan ketidakadilan yang dilakukan kekuatan-kekuatan hegemonik tersebut terhadap dunia Islam. Dunia belum melihat tekanan-tekanan dan ketidakadilan yang dilakukan kekuatan-kekuatan hegemonik tersebut terhadap dunia Islam menunjukkan tanda-tanda berakhir. Dunia juga belum melihat aksi-aksi kekerasan berdarah yang dilakukan kelompok-kelompok muslim garis keras menunjukkan tanda-tanda berakhir. Inilah akar persoalan yang sesungguhnya. Kekerasan-kekerasan sporadis berdarah yang dilakukan kelompok-kelompok muslim tertentu pada dasarnya lebih merupakan akibat dari sebab-sebab yang mendahuluinya.

 

Apa yang menjadi konflik-konflik sporadis berdarah yang sebagian memang dilakukan oleh kelompok-kelompok muslim tertentu yang secara epistemologi akar persoalannya seperti di atas tidak dilihat oleh sebagian besar media massa dengan cara mendasar seperti seharusnya. Kekerasan-kekerasan sporadis tersebut, dalam berbagai skalanya, lebih sering dilihat secara sepenggal-sepenggal tanpa bersedia melihat sebab-sebab yang sangat mendasar yang ada. Cara melihat yang seperti ini sangat tidak produktif. Tidak produktif karena tidak melihat persoalan pada tataran mendasar sehingga ajakan untuk memikirkan solusi yang lebih mendasar juga cenderung jauh dari harapan.

Cara melihat persoalan yang sepenggal-sepenggal cenderung selalu menempatkan para ‘teroris’ [7] selalu sebagai sebab, dan bukan sebagai akibat. Karena diposisikan sebagai sebab bagi serangkaian kekerasan berdarah ayang terjadi maka solusi yang dihasilkan tidak pernah menyentuh akar sebab yang sesungguhnya. Bahwa telah terjadi ketidakadilan global sebagai ‘akar tunggangnya’ dan ‘ketidakadilan ekonomi sebagai akar serabutnya’.

 

Dalam sejumlah peristiwa berdarah yang menonjol di pelataran kesadaran publik, pihak-pihak yang disebut teroris juga diperlukan sebagai ‘kambing hitam’ atas apa yang sesungguhnya tidak dilakukannya. Dengan demikian solusi yang dihasilkan cenderung berputar-putar pada kelompok-kelompok pelaku kekerasan yang ada. Termasuk didalamnya tentang ideologinya, konsep berpikirnya dan semacamnya. Bahkan konsep jihad ( dalam makna aslinya adalah berjuang ), yang memang ada dalam agama, dimaknai secara salah dan tidak adil untuk kemudian dilekat-lekatkan dengan  aksi-aksi kekerasan yang ada. Konsep jihad memang ada dalam Islam tetapi itu tidak harus bermakna angkat senjata. Perintah berjihad (yang tidak dalam makna perang) juga ada. “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tua kamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu [8], dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong” (QS.Al-Hajj: 78). Jihad dimaknai angkat senjata bila itu dalam kondisi perang, atau lebih tepatnya diperangi. Sebagai contoh, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”  (QS.Al-Baqarah: 190). Lebih dari ini ada berbagai implementasi jihad. Ada berbagai implementasi perjuangan.

 

Memang ada tidak sedikit pihak yang memassifkan pemaknaan jihad dengan aneka bentuk kekerasan berdarah untuk kemudian melekatkannya dengan Islam. Yang seperti ini ada yang melakukannya dengan sengaja karena memang ingin mencitrakan Islam dengan hal-hal yang berbau kekerasan, konflik, perang dan semacamnya.

 

Bukan untuk menyetujui terorisme.

Komunitas muslim pada dasarnya pencinta kedamaian. Ajaran Islam itu sendiri juga penuh dengan ajakan-ajakan untuk hidup damai. Islam sebagai terma kosa kata bermakna kedamaian / kesalamatan. Islam lahir untuk menebar rahmat bagi semua sebagai rahmatan lil alamin. Misi yang diembankan untuk setiap muslim, salah satunya, adalah untuk menebar kedamaian bagi semua. Individu-individu muslim lahir bukan untuk menjadi ancaman bagi sekelilingnya.

 

Secara epistemologi, kelahiran tiap-tiap muslim memang untuk itu sebagai salah satu preferensi hidupnya. Persoalan memang menjadi berbeda ketika komunitas muslim mendapat tekanan dalam berbagai bentuk dan dengan eskalasi yang beragam. Watak dasar komunitas muslim pada dasarnya adalah seperti nama agamanya, namun ketika mendapat tekanan memang bereaksi. Reaksinya bermacam-macam. Ini tidak berbeda dengan komunitas-komunitas manapun yang lain.

 

Ketika reaksi ini direfleksikan dalam bentuk mengganggu kepentingan kekuatan hegemonik di berbagai wilayah dunia memang tampak kurang elegan. Apalagi bentuk-bentuk penggangguan tersebut diwujudkan dengan cara kekerasan hingga berdarah-darah sementara warga sipil ikut menjadi korban. Tampak kurang elegan karena tujuan ‘menyabotase’ kepentingan tersebut tidak diarahkan langsung terhadap sasaran-sasaran militer kekuatan hegemonik tetapi mengarah kepada sasaran-sasaran yang menjadi domain sipil. Bila pun disebut mengganggu kepentingan kekuatan hegemonik maka ini sebenarnya bersifat tidak langsung. Efek dari tujuan mengganggu kepentingan tersebut tidak pernah sampai melumpuhkan kekuatan hegemonik. Yang jelas apapun tujuannya, reaksi dengan pendekatan ini berdampak balik terhadap komuniats muslim secara keseluruhan berupa penurunan citra. Sementara di berbagai tempat terjadi peningkatan phobia terehadap Islam dan pemeluknya.

 

Memang ada kelompok-kelompok dari komunitas muslim yang percaya dengan menyebarkan ‘teror’ untuk membuat gentar siapapun yang melakukan tekanan terhadap Islam dan komunitasnya. Tetapi sebenarnya kalangan mainstream komunitas muslim tidak mempercayai pendekatan ‘teror’ untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Dengan demikian tentu tersedia pendekatan lain yang lebih bisa diterima oleh semua pihak, atau dalam hal ini publik dunia secara umum.

Tekanan-tekanan yang dilakukan kekuatan hegemonik terhadap dunia Islam memang telah menimbulkan kerugian besar. Memberikan reaksi secara militer terhadap kekuatan hegemonik memang tidak memungkinkan ditempuh. Memberikan reaksi secara tidak langsung berupa mengganggu kepentingan-kepentingan kekuatan hegemonik dengan sasaran non-militer, alias sasaran yang menjadi domain sipil, juga berdampak balik tidak bagus. Pendekatan dengan  memberikan reaksi secara tidak langsung tadi secara alur sebab akibat memang bisa dimengerti tetapi bukan untuk disetujui. Apalagi mainstream komunitas muslim tidak melihat ini sebagai pendekatan yang bisa diharapkan hasilnya dengan baik.

 

Berharap agar dunia, lebih-lebih kekuatan-kekuatan hegemonik, bersedia melihat kenyataan bahwa munculnya berbagai bentuk konflik dan kekerasan yang terjadi di berbagai wilayah dunia adalah akibat terselenggaranya ketidakadilan global sebagai akar tunggangnya dan ketidakadilan ekonomi sebagai akar serabutnya bukanlah harapan yang bisa terealisasi mudah semudah membalik telapak tangan. Akan selalu ada pihak yang menafikan akar sebab tersebut, terlebih para penyelenggara ketidakadilan tersebut. Juga akan selalu ada pihak yang mengambil keuntungan dari terselenggaranya ketidakadilan tadi sehingga muncul kebutuhan untuk melestarikannya. Di permukaan publik jelas tidak akan dijumpai issu atau wacana tentang terjadinya ketidakadialan dimaksud, tetapi yang tersembunyi di bawah kesadaran publik adalah sesuatu yang ada dan nyata terjadi. Dengan demikian harus ada kesediaan untuk melihat cara lain sebagai sebuah solusi yang bisa diharapkan untuk hasil terbaiknya. Dan cara itu harus ditemukan bagaimanapun peliknya situasi.

 

Dakwah sebagai jalan yang bisa ditempuh.

Islam bukan saja seperangkat aturan tetapi juga gaya hidup. Sebagai gaya hidup, Islam memiliki semua hal yang dibutuhkan manusia secara lengkap. Konsep-konsep yang dibangunnya seimbang dan berimbanng. Islam memberikan retasan jalan untuk relasi-relasi vertikal, berimbang dengan relasi-relasi horisontalnya. Agama penyerahan diri kepada Al-Khaliq ini memberikan apa yang dibutuhkan untuk membangun kehidupan di matra dunia, juga apa yang dibutuhkan untuk membangun kehidupan untuk matra akherat. Bagi yang paham tentang tujuan hidup dalam makna yang sering menjadi kegelisahan dan kegundahan dunia Barat dewasa ini, maka Islam memberikan tujuan-tujuan tersebut dalam konsep yang kongkrit dan realistis. Peruntukan hal-hal semacam ini bersifat kaffah menyeluruh untuk semua manusia tanpa pandang suku dan ras. Adalah logis ketika Islam mempresentasikan diri sebagai rahmatan lil alamin dalam makna yang luas bagi semua.

 

Komunisme-sosialisme memiliki sisi-sisi kebaikan (tidak untuk mengatakan bahwa semua aspeknya baik). Sisi-sisi kebaikan ini hadir dalam kehidupan manusia tanpa bisa disanggah bila harus ada keterbukaan dan kejujuran untuk mengatakannya. Akan tetapi Komunisme-sosialisme juga sekaligus memiliki sisi-sisi keburukan untuk kehidupan manusia. Sisi-sisi buruk ini tidak jarang mengemuka di altar kesadaran publik. Dalam bidang ekonomi, isme ini sering menjadi contoh bagi ikon pemerataan. Pemerataan iya, pertumbuhan nanti. Adapun banyaknya individu yang tumbuh dalam pelataran ini menjadi atheis, maka itu berada dalam ranah persoalan yang berbeda. Bukan untuk manafikan, melainkan persoalan yang berbeda.

 

Di segi lain, kapitalisme juga memiliki sisi-sisi kebaikan (tidak pula untuk mengatakan bahwa semua aspeknya baik). Sisi-sisi kebaikan ini ada dan terasa hadir dalam kehidupan manusia. Bukan untuk menutupi, kapitalisme juga sekaligus memiliki sisi-sisi buruk bagi kehidupan manusia. Terlepas dari sisi baik dan buruk ini, manusia sering tidak kuasa menolak pesona hidup yang disajikan kapitalisme. Bahkan saling berlomba-lomba untuk kesana. Demikian kuatnya tarikan pengaruh ini sehingga manusia tidak jarang menjadi lalai tentang untuk apa ia ada di dunia ini. Lalai tentang hakekat kemanusiannya. Dalam bidang ekonomi, isme ini sering menjadi contoh bagi ikon pertumbuhan. Pertumbuhan iya, pemerataan tidak menjadi komitmen.

 

Ada hal yang sama dari kedua isme di atas yaitu tidak terlihat upaya-upaya nyata dari keduanya untuk mereduksi akar tunggang dan akar serabut dari ketidakadilan dunia yang ada sehingga dunia hidup dalam kedamaian dan ketenteraman. Penyakit-penyakit dunia yang akut dan keonis justru bersemai dan berbiak dari sana.

 

Menolak kehidupan beragama sesungguhnya tidak semata dominan milik pelataran hidup berbasis komunisme-sosialisme, karena dalam pelataran kapitalisme juga tidak jarang ditemukan pribadi-pribadi yang hidup dengan menolak kehadiran dan keberadaan sang pencipta. Al-Khaliq.

 

Berbeda dengan kedua ideologi di atas, Islam hadir dengan keseimbangan dan keberimbangan yang tidak dimiliki oleh yang lain. Sebagai sebuah sistem yang memberikan kecukupan atas apa yang dibutuhkan manusia untuk hidup dengan baik dan sehat, Islam sudah terlebih dahulu memiliki komitmen untuk mengejewantahkan sesuatu wilayah kebaikan-kebaikan sebagaimana yang kemudian dimiliki komunisme-sosialisme sekaligus menolak keburukannya. Islam juga sudah terlebih dahulu memiliki komitmen untuk mengejawantahkan sesuatu wilayah kabaikan-kebaikan sebagaimana yang kemudian dimiliki kapitalisme sekaligus menolak keburukannya.

 

Dalam perspektif kronologis-historis, Islam jelas bukan pengadopsi kebaikan komunisme-sosialisme lalu menolak keburukannya sekaligus bukan pengadopsi kebaikan kapitalisme lalu menolak keburukannya. Ini karena Islam sudah ada jauh sebelum kedua isme tersebut lahir. Ini lebih kepada kebaikan yang dimiliki komunisme-sosialisme ternyata sudah dimiliki Islam jauh kurun sebelumnya. Demikian juga kebaikan yang dimiliki kapitalisme ternyata sudah dimiliki Islam jauh kurun sebelumnya. Bila pun tampak seperti perkara baru, itu lebih kepada manusia yang baru menyadarinya.

 

Bila diungkapkan dalam idiom-idiom ekonomi, Islam menghadirkan pemerataan sekaligus pertumbuhan. Islam memperkenankan kepemilikan sekaligus mengecam bila ada tetangga kanan-kiri (implementasi dari relasi horizontal secara luas) kelaparan. Dalam bahasa sebuah nash, bila seseorang memasak makanan dan aroma bau makanan tersebut hinggap di penciuman tetangga kanan-kiri, maka ada cela bagi yang bersangkutan bila tidak bersedia berbagi. Harta dan kekayaan bukan sesuatu yang cela dalam pandangan Islam. Ini juga karena Islam sebagai komunitas ummat maupun bangsa tidak bisa terlepas dari kebutuhan dana untuk seluruh program dan kegiatannya. Kepemilikan harta dan kekayaan bergulir menjadi cela bila tidak ada kesediaan berbagi untuk yang lain. Sebaliknya kepemilikan harta dan kekayaan bergerak menjadi kemuliaan bagi pemiliknya bila selalu ada kesediaan untuk berbagi. Berbagi untuk semua.

 

Yang semakin hari semakin memunculkan kegelisahan dan kekeringan hati bagi semakin banyak manusia adalah karena ideologi-ideologi produk pemikiran manusia di atas (sosialisme dan kapitalisme) tidak menyediakan ruang bagi ekspresi-ekspresi pemupukan gizi hati. Tidak menyediakan ruang bagi ekspresi-ekspresi keagamaan atau spiritualitas. Manusia akan tergenapi hidupnya bila terselenggara dalam hidupnya pemenuhan kebutuhan nutrisi hati. Hati atau kalbu manusia mengusung korelasi spiritiualitas. Makna dari hal-hal semacam ini adalah agama. Hidup dengan optimalisasi pemenuhan kebutuhan nutrisi otak itu bagus. Menjadi tidak bagus bila lalai untuk optimalisasi pemenuhan kebutuhan nutrisi hati. Hidup dengan optimalisasi pemenuhan kebutuhan nutrisi hati juga bagus. Menjadi tidak bagus bila lalai untuk nutrisi otaknya. Intinya ada keharusan untuk penyeimbangan antara kedua ranah kebutuhan tersebut.

 

Ada sesuatu yang juga sama dari sudut berbeda antara komunisme-sosialisme dan kapitalisme di atas. Keduanya sama-sama tidak memiliki kesungguhan untuk melakukan manajemen hati dengan baik dan sehat. Menjadi tidak mengejutkan bila kekeringan hati semakin mendemami terhadap semakin banyak orang. Ketika hati kering, orang menjadi tidak bahagia, tidak tenteram. Banyak yang secara finansial cukup, atau di atas cukup, tetapi hidup tidak bahagia. Tidak damai, tidak tenteram. Ada sesuatu yang kurang dalam diri manusia, ada sesuatu yang hilang.

 

Dewasa ini semakin banyak terdengar semakin banyak individu manusia yang mencari sandaran kongkrit untuk hati-hati yang gelisah. Orang mendapatkannya dalam agama. Agama pun sepertinya masih harus dipilih, karena tidak semua agama memiliki konsep yang kongkrit dan logis. Orang-orang yang cukup, atau di atas cukup, secara finansial cenderung merupakan orang-orang yang terdidik (dengan ilmu-ilmu untuk investasi duniawi an-sich) dengan baik. Ketika kalangan ini membutuhkan pilihan sandaran hati, mencari untuk menemukan sesuatu yang hilang tersebut, maka kecenderungan agama yang menjadi pilihan adalah agama yang bisa memenuhi dahaga hati sekaligus otak. Kongkrit, realistis, logis. Dan agama yang bisa menyediakan kebutuhan spesifik semacam ini adalah Islam. Itulah sebabnya menjadi tidak berlebihan bila di berbagai belahan dunia dewasa ini pertumbuhan kepemelukan agama Islam adalah yang paling cepat di antara semua agama yang ada. Di dunia Barat (demikian juga di luar dunia Barat) dewasa ini grafik kepesatan tersebut adalah milik Islam.

 

Bila kepemelukan agama tersebut berada dalam ranah konversi keimanan, maka konversi menuju Islam juga memperlihatakan grafik tercepat di antara semua agama yang adalah. Di sini konversi agama dipahami sebagai berpindahnya keyakinan keagamaan seseorang dari sesuatu keyakinan keagamaan sebelumnya menuju keyakinan iman keagamaan baru karena sesuatu alasan tertentu. Dari agama lain menuju Islam atau dari Islam menuju agama lain. Bagi individu yang terdidik dengan baik, kecenderungannya adalah konversi menuju Islam bila sebelumnya bukan beragama Islam. Ini karena Islam mampu memuaskan kebutuhan hati dan akal sekaligus. Memang ada agama yang menitikberatkan pada eksplorasi hati, tetapi minimal untuk akal. Islam tidak berat sebelah seperti ini, tetapi seimbang dan berimbang. Dan itulah yang disukai.

 

Apa arti semua ini ?. Berhadapan secara diametral dengan kekuatan hegemonik secara militer jelas sangat sulit dibayangkan untuk memenanginya. Betapapun konteks penghadapan ini adalah perjuangan untuk mereduksi ketidakadilan (menuju keadilan), selama persekutuan kekuatan hegemonik tersebut tidak memperlihatkan iktikad perubahan kearah perlu dan pentingnya hidup bersama / berdampingan secara berkeadilan secara menyeluruh, maka jalan terjal di depan tidak akan berkesudahan. Atau berhadapan secara sporadis (dan tentunya dengan teknik gerilya) dengan kekuatan hegemonik tersebut, untuk memperlihatkan bahwa ketidakadilan dan kesewenangan tidak boleh terjadi di muka bumi, maka efektifitas pencapaian tujuan terasa absurd untuk dipikirkan terjadinya.

 

Tidak jarang terdengar bahwa serangan-serangan sporadis yang dilakukan, dengan idiom-idiom, untuk menggentarkan musuh-musuh. Tidak juga terdengar apa yang diposisikan sebagai musuh tersebut menjadi gentar menghadapi kekerasan-kekerasan sporadis yang ada. Sebaliknya, yang tidak pernah tidak ada adalah meningkatnya tekanan terhadap pihak-pihak yang menentang kekuatan hegemonik dan meningkatnya tekanan terhadap individu-individu muslim. Lebih jauh, justru pendekatan yang seperti ini telah menghasilkan pencitraan yang tidak baik dan tidak menguntungkan dengan meningkatnya dampak Islamophobia. Fenomena fobi-Islam di banyak belahan dunia memang tidak semata produk tragedi-tragedi keras yang dilakukan kalangan muslim garis keras, tetapi juga produk media-massa yang memang dikuasai kekuatan hegemonik. Dari semua cara di atas bukan berarti tertutupnya semua cara yang ada. Selalu ada jalan keluar.

 

Jalan keluar yang sangat realitis di antara keterjalan banyak jalan yang sudah bergulir dalam rentang dimensi ruang dan waktu yang panjang adalah jalan ‘menyerukan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran’ kepada semua manusia. Secara spesifik yang dimaksud di sini adalah jalan dakwah. Bila aktifitas dakwah yang dilakukan selama ini masih belum terstruktur, belum terpola, secara efektif dan efisien maka berikutnya tinggal memperbaiki hal-hal yang masih kurang tersebut. Dakwahnya sebagai domain masih tetap dimainkan sebagai kata kunci, apa yang kurang yang harus diperbaiki. Bukan untuk dihilangkan.

 

Untuk kondisi seperti dewasa ini, dakwah sangat urgens dan memiliki korelasi sangat kuat bila dipertimbangkan dengan fakta yang fenomenal mengenai pesatnya perkembangan Islam di berbagai belahan dunia. Termasuk dalam hal ini adalah fenomena konversi iman dari agama-agama lain menuju keimanan Islam. Selama ini aktifitas dan program di jalur dakwah, apalagi dalam skala global, masih belum semasif dari yang seharusnya tetapi ini yang harus disyukuri fenomena pertumbuhan dan perkembanngan Islam secara global di bebagai belahan dunia sangat pesat. Bila jalaur damai ini lebih ditingkatkan dan lebih dimasifkan seperti yang seharusnya, maka fenomena kepesatan tersebut akan lebih pesat lagi. Ini tidak absurd dan logis.

 

Energi sebagian kalangan muslim yang cenderung menggunakan pendekatan keras sebagai jalan yang diniatkan untuk melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang ada, baik dengan cara pendekatan langsung secara diametral maupun sporadis, terbukti belum bisa dilihat hasilnya secara gemilang. Yang disisakan dari cara-cara yang dipakai malah membuat tidak nyaman kalangan mainstream umat Islam. Seandainya energi yang digunakan dialihkan untuk berjihad melalui jalur ‘soft’ dengan memasifkan dunia dakwah tentu akan memberikan hasil nyata yang berbeda. Apalagi jalur dakwah adalah jalur yang bisa diterima oleh semua kalangan.

 

Walaupun di jalur yang bisa diterima oleh semua pihak, memang dakwah bukan berarti sebentuk jalur yang bebas hambatan maupun rintangan. Bila terma jihad sedang tidak dalam makna angkat senjata, maka jihad bisa diimplementasikan melalui beragam jalan yang mungkin. Pada dasarnya jihad dalam pengertian angkat senjata (hanya) bisa ditempuh ketika dalam situasi peperangan. Bukan situasi menginginkan peperangan, melainkan situasi yang memaksa untuk berperang. Jihad di jalur dakwah saat ini sesungguhnya lebih urgens untuk mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak.

 

Dalam konsepsi Islam, dakwah tidak harus dilakukan setelah memiliki semua ilmu yang semuanya harus mendalam. Menyampaikan sepotong informasi yang benar, dan hanya itu yang diketahui misalnya, itu sudah berada dalam ranah dakwah. Dengan demikian semua individu muslim bisa berdakwah sesuai kapasitas yang dimiliki. Dalam hal merujuk nash Al-Qur’an maupun Hadits yang masih belum dipahami dengan baik dan ingin menyampaikannya kepada orang lain, maka sudah selayaknya mencari tahu kepada orang yang lebih tahu terlebih dahulu. Akan lebih bagus lagi, memang, bila ilmunya luas dan mendalam. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar [9], mereka itulah orang-orang yang beruntung”  (QS.Ali Imran: 104).

Salah satu aspek dari dakwah memang menyampaikan informasi yang benar. Atau dalam hal ini menyampaikan kebenaran itu sendiri. Lebih spesifik lagi adalah semua perkara kebenaran dalam dan tentang Islam. Melakukan dakwah tidak bisa tidak melainkan masuk dalam interaksi dengan orang lain. Dengan demikian melakukan setiap aktifitas dakwah harus dilakukan dengan cara yang bijaksana. Sikap seperti ini diperlukan karena bila tidak bisa membuat orang berbalik menjauh dari seruan-seruan kebenaran yang disampaikan. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah [10] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS.An-Nahl: 125). Inilah dasar-dasar dakwah dan sikap Islam terhadap pihak-pihak yang menentangnya.

 

Penguatan dakwah di negara-negara Barat.

Wacana penguatan dakwah di dunia Barat ini tidak berarti bahwa penguatan perkara yang sama di negara-negara Timur tidak penting. Semua penting. Namun karena negara-negara Barat memiliki unikum tersendiri yang relevan dengan topik yang diangkat dalam tulisan ini, maka penguatan dakwah dalam konteks ini memiliki relevansi yang kuat. Ini juga sudah mempertimbangkan realitas perkembangan dewasa ini dalam konteks yang terkait yang terjadi di masyarakat Barat. Disinilah agama Islam menemukan titik temu relevansinya di dalam masyarakat dimaksud.

 

Masyarakat di negara-negara Barat cenderung berpikir rasional dan logis. Di sisi lain, dewasa ini terjadi semakin nyata fenomena kekeringan hati / spiritual dalam masyarakat Barat. Terjadi sesuatu yang tidak seimbang, otaknya ‘basah’ tetapi hatinya ‘kering’. Kegelisahan semacam ini memang sedang terjadi. Sementara Islam adalah agama yang bisa dipahami dalam kerangka karakter masyarakat Barat. Bisa dipahami secara rasional dan logis. Terbukti agama Islam semakin diterima oleh masyarakat Barat. Pertumbuhan dan perkembangannya memperlihatkan grafik yang pesat. Ini sudah fenomena, bukan lagi gejala.

 

Penekanan aspek rasional dan logis ini penting, karena masyarakat Barat yang selama ini sangat dekat dengan agama Kristen tetapi tidak memperoleh kepuasan dari kekristenan itu sendiri. Ini disebabkan karena agama tersebut tidak bisa dipahami dalam kerangka karakter masyarakat Barat. Banyak hal dari agama Kristen dalam pandangan orang-orang Barat sendiri yang tidak rasional dan tidak logis. Agama Kristen sendiri lebih diinginkan untuk didekati secara hati an-sich dan menghindari untuk didekati secara ‘otak’. Yang seperti ini semakin tidak menemukan ‘link’ dalam diri orang-orang Barat. Ini bukan sebatas gejala lagi, melainkan sudah fenomena. Tidak mengherankan jika sebagian orang-orang Barat lebih memilih atheisme dari pada memeluk Kristen. Juga tidak mengherankan jika dewasa ini agama Kristen semakin banyak ditinggalkan dan gereja semakin sepi untuk kemudian kosong jemaat. Cerita tentang semakin banyaknya gereja yang dijual karena sepi jemaat bukanlah cerita isapan jempol.

 

Bertemunya relevansi antara Islam dan karakter yang menjadi realitas umum masyarakat Barat adalah mimpi baik bagi Islam sebagai agama maupun masyarakat muslim sebagai pemeluknya. Perkembangannya memperlihatkan trend meningkat dan posistif. Itulah sebabnya penguatan dakwah di belahan dunia ini begitu urgens dan penting. Jika hal-hal semacam ini diapresiasi dengan baik, atau lebih baik dari yang sudah baik, tentu penguatan penerimaan masyarakat Barat terhadap Islam akan lebih baik lagi. Belakangan ini phobia-Islam juga meningkat karena tragedi-tragedi yang tidak popular yang terjadi, terlepas dari pelakunya dan perkara-perkara yang melatarbelakangi. Mempertimbangkan unsur phobia-Islam yang ada, maka urgensi penguatan dakwah di dunia Barat tampak lebih diperlukan lagi. Di satu sisi, ranah dakwah dapat lebih mempromosikan Islam lebih baik lagi dengan wajah yang lebih populer dan, di sisi lain, menurunkan ‘suhu’ phobia-Islam ke level seminimal mungkin.

 

Di sisi yang lebih berbeda lagi, kekuatan-kekuatan hegemonik yang disinggung di atas tidak lain adalah negara-negara Barat, betapapun terdengar sedikit pahit. Barat saat ini memang belum menjadikan Islam sebagai identitasnya. Namun arah untuk kesana dan senjumlah trend perkembangnan yang ada memberi keyakinan bahwa penerimaan Islam oleh masyarakat Barat menuju level optimal bukanlah angan yang absurd. Sudah ada seminar yang dilakukan muslim Barat tentang kemungkinan Islam menjadi identitas penting bagi masyarakat barat. Seminar tersebut dibalut keyakinan yang positif bahwa apa yang menjadi pemikiran dalam seminar dimaksud bukanlah impian tanpa dukungan data-data angka empiris yang ada.

 

Harapan penting apabila kepesatan pertumbuhan dan perkembangan Islam di negara-negara Barat pada akhirnya menemui titik optimalnya, maka nafsu hegemonik yang selama ini didramakan dalam berbagai tampilan wajah standar gandar akan menurun. Penurunan nafsu hegemonik dalam balutan sikap standar ganda tersebut sangatlah penting bagi negara-negara Barat itu sendiri sekaligus sangat penting bagi negara-negara di luarnya. Sebagaaimana terlihat di permukaan bumi, ketidakadilan global telah terselenggara secara sewenang-wenang justru karena nafsu dalam balutan sikap tersebut. Bila ini terjadi maka dunia dengan seluruh penghuninya akan memiliki peluang dan kesempatan untuk hidup berdampingan secara adil, damai dan tentram.

 

Bila perkembangan dunia ini diamati secara lebih cermat, dari sisi yang berbeda,  maka ada sesuatu yang menggembirakan bagi perubahan dunia, khususnya bagi dunia Islam. Perkembangan dan kemajuan sains dan teknologi telah membuat dunia mampu mengatasi sekat-sekat ruang dan waktu. Dengan internet setiap individu dapat terhubung dengan individu lain di manapun di permukaan planet bumi yang dihuni manusia ini. Islam bisa mengambil sekaligus mengisi kemajuan-kemajuan tersebut.

 

 

Penulis adalah

Pemerhati masalah-masalah Human Interest

dan Guru Bahasa Arab

MAN Bojonegoro V

 

 

Bibliografi:

Afzalurrahman, Indeks Al-Qur’an, alih bahasa oleh Drs.Ahsin W.Al-Hafidz, Jakarta: Bumi Aksara, Sept.1977, cet.I.

Asy’arie, Sykmadjaja & Rosy Yusuf, Indeks Al-Qur’an,  Bandung: Penerbit PUSTAKA, Mei 1984, cet.I.

https://indocropcircles.wordpress.com/2012/11/14/911-was-an-inside-job/, diakses tgl 24 April 2016 ( Di Balik Layar: Fakta Nyata Tragedi WTC 9/11 Telah Direkayasa! ).

https://www.youtube.com/watch?v=kaHdtl8KAGg, diakses tgl 24 April 2016 ( 911 In Plane Site – All Media Lied On 9/11! Whitehouse Phone Number-202-456-1414 ).

https:// stay4liv.wordpress.com/tag/fakta-bahwa-9-11-wtc-ambruk-cuma-bohong-belaka/, diakses tgl 24 April 2016 ( Posts Tagged ‘Fakta bahwa 9-11 WTC ambruk cuma bohong belaka…’ ).

Mujamma’ Khadim al-Haramain asy-Syarifain al-Malik Fahd li thiba’at  al-Mush-haf asy-Syarif, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Lajnah Pentash-hih Mushaf Al-Qur’an Departemen Agama Republik Indonesia, Maret 1990.

[1] )  Kerusakan yang mereka perbuat di muka bukan berarti kerusakan benda, melainkan (juga) menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.

[2] )  Maksudnya orang yang tergugat atau yang terdakwa.

[3] )  Ini berkorelasi dengan rizki.

[4])   Demikian kata Din Syamsuddin dalam salah satu kesempatan..

[5] )  Sifat orang-orang munafik, orang yang berlaku standar ganda, lebih jauh dapat dirujuk pada QS.Ali Imran: 165–168, QS.Al-Munaafiquun: 1–8.

[6] )  Dalam sejumlah ulasan, sesungguhnya tidak ada pesawat yang menabrak gedung. Apa yang tampak seperti pesawat menabrak gedung adalah produk olah grafis komputer yang kemudian dipublikasikan secara meluas.

[7] )  Sebutan yang diberikan oleh sebagian besar pihak. Penyebutan seperti ini sering membutuhkan untuk dibaca dengan tanda petik.

[8])  Maksudnya: dalam kitab-kitab yang telah diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w.

[9] )  “Ma’ruf”, segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah, sedangkan “munkar” ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari-Nya.

[10] ) Hikmah ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dan yang bathil.

KELUAR