Kamis, 02 Des 2021

Pengembangan Intelektualitas Pesantren

( Pesantren; sebagai contoh sikap Demokratis)

Dialektika historis telah menunjukkan peranan pesantren yang diwakili oleh kaum sarungan dalam menentukan arah bangsa Indonesia ini.Tradisi pesantren menjadi salah satu ciri khas tradisi negara dalam menjalankan roda pemerintahan. Dengan orientasi pengembangan masyarakat, pesantren dapat menciptakan satu tatanan sosial masyarakat lebih baik.

Seluruh sektor kehidupan masyarakat sangat menjanjikan pada sistem perdamaiaan dunia. Sikap gotong royong,  ikatan emosional yang kuat dan toleransi sangat mendalam. Sebagai satu gerakan kultural pesantren dapat menciptakan masyarakat sejahtera dan hidup dalam kesederhanaan. Hal inilah yang membuat pesantren berkembang secara pesat dan mendapat respon baik dari masyarakat.

Selain itu, pesantren mempelajari berbagai dinamika keilmuan baik yang klasik maupun modern. Wawasan dan keilmuan yang luas dapat menjadi perisai kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Namun alangkah naifnya, pada era sekarang, pesantren menjadi institusi yang patut disoroti, karena telah banyak menghasilkan teroris-teroris yang berlandaskan  makna jihad dalam Islam. 

Padahal pesantren, adalah institusi pendidikan yang mengajarkan perbedaan. Sikap demokratis dalam pesantren sangat ditekankan, sebagai salah satu bukti demokratisasi pesantren adalah pembelajaran yang berdasarkan pada kebutuhan masing-masing pesantren. Bagi pesantren yang menganut aliran Salaf akan mengajarkan ajaran-ajaran klasik yang tidak mampu untuk dirubah, namun berbeda jauh dengan pesantren-pesantren modern atau semi modern yang mengajarkan keilmuan sesuai dengan perkembangan zaman, namun kesemuanya itu bermuara pada satu titik yaitu kebenaran Islam sebagai Rahmatan lil alamin. Hal ini tidak pernah disadari bahwa pesantren merupakan contoh untuk menciptakan demokratisasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Oleh karena itu marilah menengok pada intelektualitas yang berkembang di mayoritas Pesantren.

Dinamika pengembangan intelektualitas di pesantren

Istilah intelektual mempunyai kemerduaan dan kegagahan sendiri karena dalam istilah itu tersurat sosok seorang terpelajar modern dan bercorak cemerlang. Kata intelektual berasal dari bahasa Inggris Intelektual yang menurut idiomatic and Syntactic engglish dictionary berarti having or showing good mental powersand undertanding (memiliki atau menunjukkan kekuatan mental dan pemahaman yang baik), sedangkan kata intelect sebagai the powers of the mind by which we know, reason and think (kekuatan pikiran yang dengan adanya, kita mengetahui, menalar dan berfikir),. Disamping juga berarti sebagai seseorang yang memiliki potensi secara aktual. Kata itu telah masuk dalam pembendaharaan bahasa Indonesia secara umum diartikan pemikir yang memiliki kemampuan penganalisaan terhadap masalah-masalah tertentu. James Mac Gregor Burn mendefinisikan intelektual dengan a devote of ideas, knowledge, values. Dengan demikian dapat menciptakan orang kritis pada nilai tujuan dan cita-cita yang untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan praktis.

Jalaluddin Rahmat mendefinisikan dengan mengungkapkan sebuah perkataan: Dengan definisi ini, orang yang hanya mencari gagasan-gagasan dan data analitis adalah seorang teoritis, orang yang bekerja hanya dengan gagasan-gagasan normatif adalah seorang moralis, orang yang teratur adalah seorang Intelektual. Jadi intelektual adalah orang yang mencoba membentuk lingkungannya dengan gagasan analitis dan normatif.

Dalam pandangan zawawi Imron intelektual adalah orang yang berilmu dan terpelajar dan benar-benar memahami akan keluh, senyum dan jerit masyarakat umum dan ia sanggup meletakkan dan memikul itu semua diatas pundaknya sebagai tugas kemanusiaan yang mulia.

Dawam Rahardjo mendefinisikan intelektual dengan cara menyamakan dengan golongan terpelajar. Dalam mengkaji mengenai intelektual, maka yang dimaksud terpelajar yang banyak makan garam sekolah atau bukan yang mempunyai peranan yang tidak mesti berkaitan dengan ilmu yang dipelajari atau profesi yang ditekuni, yang lebih penting adalah berperan sebagai kritikus sosial  bersikap emansipatoris dan liberatif, berpola pikir hermeneutis dan kerap kali bersifat politis walaupun belum tentu seorang politikus atau kadang malah sering kali bukan mereka yang merasa dirinya sukses.

Kata intelektual tidak hanya dipahami dan dibumikan oleh orang-orang barat, tetapi juga islam mempunyai konsep tentang intelektual. Dalam islam intelektual tidak hanya dipahami sebagai sebuah pemahaman tentang sejarah kebangsaannyayang sanggup memunculkan sikap analitis dan normatif yang cemerlang, melainkan juga menguasai sejarah islam –seorang islamologi-. Untuk pengertian ini al-Qur’an mempunyai istilah khusus yaitu Ulul Albab.

Sebagai kaum intelektual muslim yang lebih dikenal dengan sebutan kaum cendekiawan, mereka mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus dilembaga. Salah satu tugas yang sangat berat adalah berusaha untuk menafsirkan pengalaman masa lalu masyarakat agar dapat mendidik pemuda dalam tradisi dan keterampilamn, melancarkan dan membimbing tentang pengalaman etis dan estetis keagamaan dari berbagai sektor masyarakat. disamping tugas itu, tanggung jawab pada sesama manusia dan pada pencipta yang berlandaskan tauhid harus belance.

Dengan demikian keintelektualan dalam islam selalu menampilkan wajah ramah dan penuh kerendahan hati, karena ilmu pengetahuan yan memiliki hakikatnya bukan kemajuan yang bersumber dari diri tapi merupakan karunia Tuhan. Oleh karena itu, intelektual dengan segala perangkatnya melalui satu analisa yang sintetik merupakan “amanah”. Amanah iniharus didahului dengan membaca nama Tuhan, berfikir sambil berdzikir sehingga tafakkur yang dilakukan mendapatkan ridho Tuhan. Dengan gagasan inilah ilmu pengetahuan dapat menjadi amanah yang harus ditranformasikan pada seluruh umat manusia sebagai tanda cinta kepada Tuhan.

Sebagai wadah komunikasi yang berlandaskan dasar-dasar keislaman ortodok, pesantren dikenal dengan gudang keilmuan islam; dari persoalan-persoalan klasik sampai pada persoalan modern menjadi santapan kaum sarungan dipesantren. Hal ini menjadikan pesantren lebih identik dengan dunia ilmu. Pada tarap ini, dapat diidentifikasi bahwa pesantren menempuh proses belajar mengajar mencapai sehari semalam. Proses itulah yang dapat memudahkan sang eksekutor (Kyai) untuk menyampaikan keilmuan teoritis yang berlandaskan pada nilai-nilai keislaman dan tidak jarang sang eksekutor menyampaikan pengalaman-pengalaman pribadinya. Proses pembelajaran yang dilakukan di Pesantren sangat berbeda dengtan institusi pendidikan lainnya. Perbedaan dan sekaligus kelebihan pesantren inilah yang menjadi corak dan kekuatan sehingga tidak jarang pesantren mempunyai peran penting dalam mnentukan sejarah bangsa Indonesia.

Sebagai institusi pendidikan Islam, pesantren bertujuan untuk mentranformasikan sisi moralitas keagamaan, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, disisi lain juga memperkaya dan mengembangkan wawasan Intelektualitas kaum santri dengan diskriptif analitis terhadap teks-teks sejarah keislaman. Dengan demikian, proses pembelajaran kaum santri dalam Pesantren memakan waktu cukup lama dan hampir keseluruhan pesantren berusaha mengajarkan sisi historisitas yang melingkupi segala aspek keilmuan dengan menempuh satu hari satu malam. Untuk mengetahui aktifitas keilmuan yang spesifik, mari menoleh pada sisi keilmuan yang dipelajari dalam Pesantren. Keilmuan yang dipelajari dalam Pesantren, secara spesifik meliputi:

  1. Pengkajian Kitab Kuning

pengkajian kitab kuning telah menjadi rutinitas pesantren. Dipandang secara epistemologi keilmuan, teks-teks tersurat dalam kitab kuning berlandaskan pada keilmuan klasik. Keilmuan klasik ini merupakan produk intelektual muslim pada masa lalu sehingga produk-produk inipun sangat terbatas dalam keilmuannya. Kitab klasik yang dipelajari lebih cenderung pada keilmuan statis yang tidak dapat direkontruksi tapi cukup diperjelas kembali dengan melihat sosio-kultural yang ada sekarang. Pengkajian kitab kuning menjadi satu ciri khas Pesantren dan hampir seluruh pesantren yang ada di Indonesia melakukan pengkajian kitab kuning yang berlandaskan pada epistemologi keilmuan klasik.

Pengkajian kitab kuning ini mempunyai varian keilmuan tersendiri, baik yang bercorak Fiqh, Tasawwuf, Tafsir, Hadith, Tauhid dan Tarikh (Sejarah) beserta juga cabang-cabang ilmu pendukung seperti Nahwau, Sharraf, Balaghah dan Mantiq. Lamuddin Noor dengan mengutif gagasan Zamakhsari Dhofier menggolongkan kitab kuning pada delapan corak yaitu, Nahwu, Sharraf, fiqh, Ushul, Hadith, Tafsir,Tauhid, Tasawwuf dan Etika beserta cabangnya seperti Tarikh (Sejarah) dan Balaghah.

  • Bahasa Asing

salah satu kelengkapan yang menambah wawasan intelektualitas Pesantren adalah penguasaan bahasa Asing, namun yang lebih ditekankan adalah bahasa Arab yang identik dengan bahasa al-Qur’an sebagai kitab suci orang Islam. hampir diseluruh pesantren, bahasa Arab menjadi pelajaran utama yang ditekankan untuk selalu dipahami. Karena dengan penguasaan bahasa Arab, kaum santri tidak kerepotan untuk mengkaji kitab-kitab kuning yang mayoritas tak bersyakal. Selain itu juga memahami ilmu alat m,enjadi sangat penting, karena tanpa ilmu alat para santri tidak dapat memahami kitab-kitab yang berbahasa arab. Pada tarap ini Alfiyah Ibnu Malik menjadi satu kitab sangat urgen untuk dipahami dan sekaligus dihafal.

Proses belajar mengajar Bahasa Arab mayoritas pesantren kecil, pengasuh langsung mengajarkan pada santrinya, namun tidak demikian pada pesantren-pesantren besar. Pesantren besar dalam proses belajar mengajarnya telah memperbantukan pada guru bantu (santri kawakan). Guru bantu ini tidak hanya mengajarkan keilmuan bahasa Arab tapi juga mendampingi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan agama, lebih khususnya pada persoalan-persoalan fiqhiyyah, Tauhid, Ushuluddin dan Tafsir.

  • Metodologi (Mantiq dan Balaghah)

Agar dapat berpikir secara sistematis, di pesantren diajarkan kosep keilmuan metodologi yang dikenal sebagai mantiq (logika) dan Balaghah (sistematika pembahasan). Materi ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada kaum santri dalam berfikir dan penyusunan dan tatacara mengambil kesimpulan (konklusi). Lebih spesifik, ilmu ini dapat diaplikasikan pada sisi keilmuan hadith seperti bukhari, muslim dan lataifu al-Isyarah dan al-Qur’an yang mengandung banyak unsur sisi kehidupan termasuk juga spiritual. Dalam spiritualitas pesantren menitik bertakan pada pembelajaran karya monumental yang dikarang oleh al-Ghazali yaitu Ihya’ulu al-Din.

  • Menulis

Setelah banyak mengkaji keilmuan yang telah diajarkan pesantren, kaum santri dididik untuk berusaha mempublikasikan keilmuan yang diperolehnya dalam bentuk catatan. Publikasi keilmuan merupakan upaya pengembangan dari cara mengajar sorogan klasik. Cara ini dipandang lebih efektif dan efisien dari pada cara lainnya. Dengan adanya publikasi inilah akan tercipta dinamika keilmuan melalui penafsiran-penafsiran yang diperoleh secara bebas.

Tidak kurang dan tidak lebih, tujuan dari publikasi adalah untuk mengetahuai persepsi argumentatif yang dibangun, sehingga dengan demikian dapat diketahui persamaan dan perbedaan argumentasi antara santri dan para gurunya. Disamping itu juga agar tercipta kemandirian dalam proses belajar.hal ini juga menampakkan kecerdasan kaum santri yang dapat menguasai keilmuan secara cepat.

Sistem Pendidikan Pesantren; Pengaruh terhadap intelektualitas Bangsa

Sebagai wadah komunikasi, pesantren menerapkan berbagai model dan jenis intelektualitas. Variasi keilmuan yang dipelajari di Pesantren diharapkan dapat menciptakan para intelektuual muslim yang memiliki wawasan luas dan bertanggung jawab dalam menentukan arah perjuangan bangsa Indonesia ini. disadari atau tidak Pesantren telah banyak menciptakan para intelektual yang ikut serta menentukan arah bangsa, selain itu juga, Pesantren banyak menciptakan politisi-politisi handal dan bertanggung jawab terhadap amanat rakyat. Pada tarap ini, pesantren hanya dipandang sebagai wadah proses pembentukan manusia agar lebih manusiawi.

Diskripsi diatas dapat ditemukan pada peran kaum santri (bersarung) dalam kancah pembangunan negeri ini dari seluruh aspek kehidupan, baik menjadi ilmuwan, polisi, pengrajin sosial, budayawan dan bahkan seniman. Semisal dibidang politik, kaum santri banyak menghiasi pos-pos penting dalam tatanan kenegaraan seperti KH.hasyim Asy’ari, Saifuddin Zuhri dan lainnya. Apalagi kalau kiita melihat pada era sekarang, lebih banyak kaum politisi berasal dari kaum sarungan, lebih-lebih Jawa Timur. Sedangkan yang berada pada ruang non-formal secara otomatis menjadi tokoh masyarakatdibidang keagamaan. diatas tidak dapat disangka bahwa sistem pendidikan pesantren dikemas sedemikian rupa telah memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan intelektual negeri ini, bahkan Dr. Soetomo megusulkan sistem pesantren sebagai sistem nasional. Hal ini patut digaris bawahi bahwa siste, pendidikan pesantren tidak dapat dipisahkan dalam proses pembentukan budaya bangsa. Dikalangan umat islam sendiri, pesantren menjadi lokal jenius model institusai keilmuannya, oleh Martin dinilai sebagai salah satu tradisi agung (Great tradition).

Sejalan dengan perkembangan jaman, era sekarang, pesantren dapat dikatakan telah mengalami perubahan dalam sistem pendidikan. Disamping menggunakan sistem sorogan, hafalan juga memakai sistem madrasah. Perubahan ini disebabkan oleh dua pertimbangan : 1. untuk mencari sistem pendidikan pesantren yang efektif dan efisien. 2. dapat ditinjau dari aspek filosofis pedagogis.

Pergeseran ini bertujuan untuk mencapai sistem pendidikan yang efisien secara positif seiring dengan perkembangan situasi dan kondisi. Baik makani maupun zamani. Hal ini dikelola secara inten oleh pesantren dalam upaya menyesuaikan perubahan dan tuntutan zaman. Pendidikan pesanten berperan menyadaran komunitas masyarakat untuk mempunyai idealisme, intelektual dan berprilaku mulia guna membentuk karakter bangsa yang paripurna ini.

Peran pesanten khususnya pesantren tradisional masih berkembang diskursus-diskursus klasik dalam rangka menciptakan dinamika intelektualitas pesantren. bahkan banyak dari pesantren tradisional yang masih menitik beratkan sistem pendidikannya dengan sistem klasik dan sangat sederhana yang berorientasi pengamalan moralitas secara ikhthiyati dengan karakteristik pemikiran tradisionalis, bersandar pada pengalaman, tradisi dan adat istiadat.

AGUS NUR SHOLICHIN Guru MAN 5 Bojonegoro

KELUAR