Kamis, 02 Des 2021

Perjalanan Perilaku Dualistik Manusia

Drs. Syaifuddin Zuhri, SPdI. MMPd.

Abstraksi

Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana” ( QS.Ibrahim: 4 ). Allah menyesatkan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki juga dapat ditemukan dalam QS.Al-Baqarah: 26. Apakah memang Allah menyesatkan seperti apa yang manusia pahami ?. Demikian juga manakala Allah memberi petunjuk ?. Apakah Allah betul semena-mena seperti yang dituduhkan oleh sebagian orang ?. Tentu saja persangkaan-persangkaan buruk seperti itu tidak lain melainkan produk pemahaman yang tidak mendalam. Jangan pernah lupa bahwa perilaku manusia sungguh unik. Di satu sisi manusia adalah makhluk deterministik, di sisi lain makhluk fatalistik. Manusia menjalani dualisme perilaku yang sekaligus kedua perilaku tersebut berimplikasi hukum.

 

Keseimbangan antara Determinisme dan Fatalisme.

Terlebih dahulu penting untuk dimengerti bahwa secara umum pemikiran tentang determinisme perilaku manusia dilandaskan pada gagasan tentang sifat Allah Yang Maha Adil. Al-Qur’an banyak memaktubkan tuturan nash ihwal keadilan-Nya. Keadilan mutlak yang menyelimuti tiap-tiap sesuatu, di semesta dimensi ruang dan waktu. Di antara yang banyak, berikut adalah pernyataan Allah tentang keadilan-Nya:

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S. Ali Imran (3): 18).

Masih dalam nuansa yang sama, dengan gaya ungkapan berbeda, Al-Qur’an menyodorkan seuntai kalimat yang indah berupa pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Tidak menghajatkan jawaban karena jawabannya jelas.

Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (Q.S. At-Tin (95): 8).

Dalam hubungannya dengan nash-nash yang bertalian dengan penegasan pengertian determinisme, banyak ayat Al-Qur’an yang secara eksplisit maupun implisit yang menyodorkan serangkaian demi serangkaian susunan kalimat yang di dalam pusaran pemahaman manusia dapat dimengerti atau ditafsirkan sebagai bernuansa deterministik. Ayat-ayat tersebut dapat dicermati dalam alur berikut.

Manusia selalu dihadapkan pada perilaku memilih. Masing-masing pilihan lekat dan kental dengan konsekuensi logisnya sendiri-sendiri. Hal ‘memilih’ berkorelasi dengan determinisme. Di hadapan manusia terhampar jalan untuk dipilih dan dijalani, yaitu antara shirath al-mustaqim atau shirath ghairu al-mustaqim. Memilih yang pertama bermuara keselamatan, memilih yang kedua berujung mimpi buruk. Dinding antara yang haq dan yang bathil sudah nyata. Walaupun dalam sejumlah hal dinding antara keduanya amat tipis di hadapan pemahaman manusia.

Banyaknya pilihan hanya bisa dimengerti manakala sang pelaku memiliki kemampuan memilih. Kemampuan memilih mensyaratkan adanya kemerdekaan memilih itu sendiri. Penting kiranya adanya anugerah kemampuan seperti itu. Bila tidak, berarti dalam tataran dipilihkan.

Determinisme perilaku tampak ketika harus memilih antara keimanan (titian haq) atau kekufuran (titian bathil):

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka minta minum niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek” (QS. Al-Kahfi (18): 29).

Jalan lurus telah dibentangkan di hadapan umat manusia dengan harapan jalan inilah yang diambil. Dalam kenyataannya ada yang mengambil jalan lurus yang mengantarkan kepada kesyukuran dan ada pula yang mengesampingkannya yang mengakibatkan keingkaran iman. Penghadapan pada perilaku memilih tampak di sini.

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir” (QS. Al-Insan (76): 3).

Untuk menggenapi pemahaman, juga dapat dilihat QS. Asy-Syams (91): 8.

Salah satu ciri manusia adalah terhubungnya perilakunya dengan akibat dari perilaku tersebut. Dimensi keterhubungan ini berbentuk tanggung jawab. Bertanggung jawab atas seluruh perilaku hanya bisa dimengerti apabila manusia bukan merupakan tempat bagi perbuatan Allah. Dengan kata lain manusia perilaku secara deterministik.

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan mereka dengan anak cucu mereka dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Al-Thuur (52): 21).

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (QS. Al-Mudatstsir (74): 38).

Untuk meluaskan pemahaman, bahwa setiap orang bertanggung jawab atas perilakunya, dapat dilihat pada QS. Al-Baqarah (2): 134, 141; QS. An-Nisa’ (4): 79; QS. Ar-Rum (30): 44; QS. Saba’ (34): 25; QS. Az-Zumar (39): 41.

Bila setiap manusia bertanggung jawab atas perilakunya sendiri-sendiri, maka bila dibalik tiap manusia tidak bertanggung jawab atas perilaku pihak lain.

Setiap perilaku memiliki nilai dan balasan. Setiap perilaku berimplikasi hukum. perilaku baik diganjar pahala dan yang tidak baik dihukum dosa (QS. Al-Baqarah (2): 286).

Penggarisbawahan untuk menguatkan hujjah di atas ada di ayat lain. Dalam banyak tabligh ayat ini acap dikedepankan.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS. Ar-Ra’d  (13): 11).

Tidak bisa dibayangkan bahwa Allah berkenan mendahulukan manusia untuk mengambil sikap dan tindakan bila manusia hanya memiliki sisi keterpaksaan dalam perilaku atau tidak punya pilihan. Atau bila keseluruhan perilaku manusia bersifat fatalistik.

Di samping itu, bila dicermati lebih jauh, salah satu cara Al-Qur’an membangun perilaku manusia adalah dengan memanfaatkan pola-pola kalimat perintah di satu sisi dan pola-pola kalimat larangan di sisi lain. Adanya bentuk-bentuk perintah dan larangan dalam Al-Qur’an dapat merupakan bukti tersendiri bahwa manusia pada dasarnya memiliki aspek deterministik dalam berperilaku. Rasanya akan sulit dimengerti, perintah dan larangan diberikan sementara manusia tidak ubahnya laksana bidak-bidak catur. Perintah dan larangan hanya bisa dipahami bila disodorkan kepada sesuatu atau jama’ah sesuatu yang bisa memberikan respons terhadap perintah dan larangan itu sendiri.

Kedalaman pemahaman merupakan kebutuhan tersendiri. Oleh karena itu perlu ditengok ayat-ayat berikut: QS. Ali Imran (3): 182; QS. Al-Anfal (8): 51; QS. Al-Hajj (22): 10; QS. Fushshilat (41): 46; QS. Qaf (50): 29.

Lebih dari itu, perilaku manusia tidak akan lahir di alam nyata begitu saja. Ada hal-hal yang mendahului bagi terwujudnya suatu perilaku. Hal-hal yang mendahului yang sekaligus merupakan prasyarat meliputi: al-Iradah (kehendak), al-Masyi’ah (keputusan / keinginan), al-Qudrah (daya / kekuatan) dan al-Istitha’ah (kemampuan).[1]

Manusia tidak terpaksa dalam perilakunya. Untuk itu prasyarat-prasyarat tadi adanya juga bukan hasil paksaan. Dengan dimilikinya sejumlah prasyarat ini oleh manusia juga sekaligus membuktikan dan memperkuat pandangan bahwa manusia memang dianugerahi sifat deterministik dalam perilakunya. Al-Qur’an juga memberikan pembenaran dan pengesahan adanya anasir prasyarat dalam ranah persoalan ini, yaitu:

  1. Manusia memiliki al-Iradah.

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa yang menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (QS. Ali Imran (3): 145).

Secara keseluruhan lafadz al-Iradah termaktub sebanyak 76 kali pemakaian dalam 68 ayat.

  1. Manusia memiliki al-Masyi’ah.

Katakanlah: “Aku tidak minta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya” (QS. Al-Furqan (25): 57).

Lafadz al-Masyi’ah tertera sejumlah 27 kali pemakaian dalam 26 ayat.

  1. Manusia memiliki al-Qudrah.

Kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka. Maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Ma’idah (5): 34).

Lafadz al-Qudrah tertoreh dalam 10 ayat.

  1. Manusia memiliki al-Istitha’ah.

Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan” (QS. Ar-Rahman (55): 33).

Lafadz al-Istitha’ah tergores indah dalam bilangan 42 kali pemakaian dalam 41 ayat.

Sumber-sumber samawi di atas menyebut dengan jelas bahwa manusia memiliki atau diizinkan untuk memiliki kehendak, keputusan / keinginan, daya / kekuatan dan kemampuan sebagai prasyarat untuk mewujudkan perilaku.[2] Prasyarat yang memperoleh penegasan Al-Qur’an tersebut selaras dan sejajar dengan gagasan determinisme.

Di sisi sebaliknya, adalah juga penting untuk dimengerti bahwa secara umum pemikiran tentang fatalisme perilaku manusia dilandaskan pada gagasan tentang sifat Allah Yang Maha Kuasa. Al-Qur’an banyak sekali menyuratkan ayat ihwal kekuasaan-Nya. Kekuasaan mutlak yang menyelimuti tiap-tiap sesuatu, di seluruh dimensi ruang dan waktu. Di antara yang banyak, berikut adalah ayat yang menerangkan hal tersebut:

Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Q.S. Al-Fath (48): 21).

Masih dalam bingkai yang sama, sandaran nash yang tidak kurang menghunjamnya dapat ditengok pada:

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Q.S. Ali Imran (3): 26).

Dalam tautannya dengan nash-nash yang bertalian dengan penegasan pengertian fatalisme, banyak ayat Al-Qur’an yang secara eksplisit maupun implisit menyodorkan serangkaian demi serangkaian susunan kalimat yang di dalam pusaran pemahaman manusia dapat dimengerti atau ditafsirkan sebagai bernuansa fatalistik. Ayat-ayat yang dimaksud dapat dicermati dalam alur berikut:

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa-apa yang kamu perbuat itu” (QS. Ash-Shaffat (37): 96).

Dan apa-apa yang kamu perbuat’ pengertiannya adalah Allah menciptakan perilaku kamu, manusia. Untuk menguatkan bahwa arah pengertian yang dimaksud adalah Allah menciptakan perilaku manusia dapat dibandingkan dengan ayat berikut:

Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS. As-Sajdah (32): 17).

Kata-kata yang memilik akar al-‘amal dalam kedua contoh ayat di atas sama-sama memiliki pengertian perilaku manusia. Jelasnya dalam (QS. As-Sajdah (32): 17), kata al-‘amal menyatakan perilaku manusia. Oleh karena itu untuk kata yang sama dalam QS. Ash-Shaffat (37): 96 dapat dipandang memiliki pengertian yang tidak berbeda.

Pada tingkat lain, kehendak atau kemauan manusia tenggelam dalam kehendak Allah. Dengan kata lain kehendak atau kemauan manusia tidak berpengaruh apa-apa untuk sebuah gerak perilaku.

Dankamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” (QS. At-Takwir (81): 29).

Untuk muatan ayat yang sama dapat dijumpai pada QS. Al-Insan (76): 30. Intinya kehendak Allah lebih mengungguli.

Kehendak Allah mendahului kehendak para makhluk-Nya secara mutlak. Akhirnya manusia tidak ada pilihan lain melainkan menerima kehendak Allah secara terpaksa. Cetak biru segala kejadian sudah ada sebelumnya sebelum segala sesuatu terjadi, termasuk terhadap manusia. Dapat ditelaah dalam QS. Al-Hadid (57): 22.

Perilaku manusia tidak menggambarkan sesuatu yang merdeka atau sesuatu yang di dalamnya tersedia pilihan-pilihan. Semua tenggelam dalam perilaku Allah. Kekuasaan-Nya menguasai dan mengatasi segala-galanya.

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Anfal (8): 17).

Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Pencipta segala sesuatu. Penguasa dan Pemelihara segala sesuatu. Oleh karenanya perilaku manusia dapat disimpulkan sebagai bagian dari segala sesuatu. Merupakan bagian dari penciptaan-Nya. Untuk ini QS. Al-An’am (6): 102 juga QS. As-Sajdah (32): 7 dapat dijadikan sebagai rujukan pembanding.[3]

Patut direnungkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang bertutur tentang Allah Pencipta segala sesuatu, berkuasa dan Penentu atas segala sesuatu atau apa-apa yang sepengertian dengan ungkapan itu, tersebar dan tertabur di berbagai surat dan ayat dalam Al-Qur’an.

Lebih jauh lagi, semua yang maujud, gerak dan kejadian, sudah digariskan oleh Allah. Termasuk dalam pengertian ini semua rencana dan perubahan yang menyangkut manusia. Ada semacam garis umum yang bersifat menyeluruh tentang semua hal. Dan semuanya ada dalam genggaman Allah.

Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal” (QS. At-Taubah (9): 51).

Apa yang bisa disarikan dari serangkaian ayat-ayat di atas adalah gambaran manusia yang fatalistik perilakunya.

Di atas semuanya, penting dan perlu untuk digarisbawahi bahwa Al-Qur’an adalah satu kesatuan yang utuh. Tidak mungkin antara satu ayat dengan ayat yang lain atau keseluruhan isinya saling berlawanan secara diametral atau saling melemahkan. Namun toh bila tampak seperti itu, maka perlu disadari bahwa itu terjadi hanya dalam dataran pemahaman manusia. Bukan unsur firmannya. Kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an adalah shahih dan mutlak karena itu adalah qaul Allah. Sementara interpretasi oleh manusia adalah nisbi. Ini juga sekaligus merupakan isyarat bahwa manusia masih harus berpikir lebih keras lagi untuk menggali mutiara rahasia dan hikmah yang terkandung dalam kalam Ilahi. Al-Qur’an.

Dunia Seisinya dalam Desain Kemahakuasaan Allah.

Tidak ada materi, jiwa raga, kejadian, sejarah, makhluk biologis, makhluk ghaib dan lain-lain yang berada di luar dimensi ruang dan waktu. Bahkan bumi, langit dan apa-apa yang ada di antara keduanya yang berupa segala materi angkasa tidak akan pernah mampu keluar dari kedua dimensi tersebut. Dunia ini, baik dalam pengertian keseluruhan manifestasi materiil, atau dalam pengertian dilawankan dengan pengertian akhirati, tidak lepas dari genggaman erat dua dimensi tersebut.

Adapun penciptaan masing-masing dimensi ruang dan dimensi waktu ini secara sains dapat dirujuk dari mula awal diciptakannya alam semesta seisinya. Tidak lain adalah awal penciptaan dunia seisinya. Untuk menjelaskan hal-hal seperti ini dibutuhkan suatu teori ilmiah. Teori penciptaan alam. Teori penciptaan alam semesta inipun dalam perjalanan sejarahnya amat beragam dan mengalami gelombang timbul tenggelam. Peneorinya pun tidak sedikit secara jumlah. Hanya yang memiliki landasan dan bukti-bukti ilmiah yang kuatlah yang bisa mencatatkan dirinya sebagai teori unggul.

Di antara berbagai teori penciptaan yang ada atau yang pernah ada, terdapat satu teori ilmiah yang bersesuaian dengan Al-Qur’an (QS. Al Anbiyaa’ (21): 30) yang sekaligus belakangan paling banyak mendapat pengakuan, dukungan dan pembenaran dari para ilmuwan. Teori tersebut adalah Teori Dentuman Besar atau yang secara luas dikenal dengan Big Bang Theory.

Dalam dunia sains ada ketetapan yang menyebutkan bahwa materi bisa berubah atau diubah menjadi energi dan sebaliknya energi (dalam jumlah cukup) dapat berubah atau diubah menjadi materi.Nilai kesetaraan antara energi dan materi adalah E = m.c2. Energi (E) itu setara dengan massa materi (m) dikalikan kuadrat kecepatan cahaya per detiknya(c2). Bila dibalik, massa materi (m) itu setara dengan energi yang dibutuhkan (E) dibagi kuadrat kecepatan cahaya per detiknya(c2). Sementara kecepatan rambat cahaya adalah 300.000 km per detik. Materi dan energi pada dasarnya adalah hal yang sama tetapi berbeda dalam manifestasinya.

Penjelasan ilmiah mutakhir membuktikan secara akurat bahwa materi-materi alam semesta saat ini, dan tentu saja ada saat permulaannya, selalu bergerak saling menjauhi satu sama lain. Antar bintang (matahari beserta seluruh anggota planetnya termasuk salah satu bintang), antar galaksi (beranggotakan para bintang), antar gugus galaksi atau cluster (beranggotakan para galaksi), semuanya bergerak saling menjauh hingga detik ini. Artinya, bila hitungan waktu dilakukan mundur, semakin waktu bergerak ke arah lampau maka materi-materi alam semesta tersebut semakin saling mendekat satu sama lain. Volume dimensi ruang juga semakin mengecil. Bila diteruskan hitungan mundurnya, maka bumi dan langit beserta segenap isinya menjadi berupa sesuatu yang satu padu di titik big bang. Di titik awal penciptaan. Ini persis seperti pernyataan Al-Qur’an tentang berpadunya langit dan bumi di masa awal penciptaan.

Dalam Teori Dentuman Besar, penciptaan alam semesta ini dimulai dari perubahan energi menjadi materi. Energi yang dibutuhkan untuk membangun alam semesta sungguh berada di luar kemampuan manusia membayangkan angka-angkanya karena demikian besarnya. Alurnya adalah penciptaan energi super dahsyat dan ditempatkan oleh Allah di suatu titik tempat. Energi tersebut berada dalam suatu kondisi spesifik. Energi tersebut berupa dentuman besar. Menggelegar tidak terperi. Energi tersebut berproses berkelanjutan. Energi berubah menjadi materi. Dalam gelegar dentuman dahsyat tersebut embrio alam semesta tercipta dan terus berproses hingga saat ini. Tahapan-tahapan proses terjadi. Boleh disebut ini adalah ledakan penciptaan yang dalam sejarah hidup alam semesta seisinya merupakan ledakan pertama sekaligus yang terdahsyat.

Semua dimulai dari suatu titik dengan volume nol (v = 0). Volume nol adalah istilah ilmiah yang dipakai untuk mengatakan bahwa alam semesta /  dunia ini diciptakan dari ketiadaan. “Kun !”. Allah menciptakan dan menempatkan energi dalam besaran super dahsyat dengan kondisi spesifik di titik tersebut. Karena titik tersebut bervolume minimal tetapi dimuati energi maksimal akibatnya adalah dentuman dahsyat.“Fa Yakun…”. Maka dalam proses selanjutnya alam semesta mulai terbentuk dalam tahapan demi tahapan. Dalam hitungan kurang dari satu detik, terbentuklah partikel-partikel sub-atomik atau partikel-partikel elementer yang pada giliran berikutnya menjadi penyusun dasar materi alam semesta. Semua ini berhamburan ke segala arah menurut jari-jari bola. Lazimnya sebuah ledakan maka hamburannya adalah ke segala arah. Radiusnya semakin lama semakin membesar. Mulai di titik ini pula dimensi ruang dan dimensi waktu terbentuk. Terbentuk bersamaan dengan terbentuknya alam semesta hingga saat ini.

Sebagai ilustrasi, setiap ledakan pada prinsipnya adalah tindakan mengurai ikatan-ikatan partikel elementer setiap atom penyusunnya. Bila diteruskan dengan melenyapkan materi atom-atomnya maka akan berubah menjadi energi yang jauh lebih besar lagi. Hasilnya berupa ledakan besar (manusia masih belum bisa dan tidak akan bisa menghasilkan energi besar dari ketiadaan untuk membuat materi). Bom, termasuk bom atom, itu masih berupa tindakan mengurai ikatan-ikatan partikel elementer setiap atom penyusunnya dan hasilnya sudah mengerikan. Bila dilenyapkan lebih mengerikan lagi. Bila materi 1 kg dilenyapkan menjadi energi akan menghasilkan energi sebesar 1 kg x (300.000 x 300.000) km per detik. Hasilnya adalah deretan angka yang tidak sedikit. Bila dibalik, untuk membuat materi seberat 1 kg dari ketiadaan akan dibutuhkan sejumlah energi tertentu yang bila dibagi (300.000 x 300.000) km per detik menghasilkan angka 1 kg. Satuan kg di sini masih harus dikalikan 1000 untuk menjadi satuan gram dan satuan km harus dikalikan 1000 untuk menjadi satuan meter. Hasilnya angka energi yang dibutuhkan sangat besar untuk mewujudkan materi 1 kg.

Silakan dihitung sendiri besaran energi yang dibutuhkan untuk menciptakan manusia yang berbobot 75 kg dari ketiadaan. Akan tersedia deretan angka yang sudah sulit diucapkan. Juga silakan dihitung sendiri besaran energi yang dibutuhkan untuk menciptakan alam semesta seisinya yang berbobot tidak terhingga kg dari ketiadaan. Akan tersedia deretan angka yang bukan saja sudah sulit diucapkan tetapi juga sudah tidak bisa lagi diwakili dengan bahasa angka verbal manusia. Energi sebesar tidak terkirakan itulah yang berupa big bang di suatu titik v = 0 dalam kisaran kira-kira 12 milyar tahun lalu yang kemudian membentuk materi hingga terwujud alam semesta seisinya. Bagi Allah semua itu memang hanyalah “Kun!”. Gelegar ledakan super dahsyat terjadi. “Fa Yakun . . .”. Secara waktu belum genap satu detik alam semesta mulai terbentuk dan berproses hingga berada dalam bentuknya seperti dewasa ini.

Energi dentuman dahsyat tersebutlah yang merupakan benih bagi terciptanya alam semesta baik dalam pengertian materinya (perangkat kerasnya) maupun keseluruhan aturan, ketetapan atau hukum-hukum sains yang menyertai dan bekerja di dalamnya (perangkat lunaknya). Terciptanya perangkat keras alam semesta dan juga perangkat lunaknya adalah bersamaan. Tanpa jeda waktu. Ini karena tidak akan ada wujud materi tanpa aturan, ketetapan maupun hukum-hukum alam yang membuat materi tersebut berwujud. Semuanya sudah tertaqdir, terukur. Semuanya dalam taqdir penciptaan.

Hukum-hukum  sains di alam semesta mulai berlaku menyertai big bang. Hukum-hukum ini didasari Empat Gaya Fundamental yang dikenal Fisika modern dewasa ini. Gaya-gaya ini terbentuk bersamaan dengan pembentukan pertikel sub-atomik pertama pada waktu spesifik segera setelah big bang, untuk membentuk seluruh aturan dan sistem alam semesta. Atom-atom yang menyusun materi alam semesta terwujud dan tersebar di alam semesta berkat interaksi gaya-gaya ini. Gaya-gaya ini adalah gaya tarik masa atau yang dikenal sebagai Gaya Gravitasi, Gaya Elektromagnetik, Gaya Nuklir Kuat dan Gaya Nuklir Lemah. Semua materi yang diciptakan dan diedarkan ke penjuru alam semesta setelah big bang dibentuk oleh efek gaya-gaya yang saling jauh berbeda ini (nilainya memiliki selisih yang menakjubkan, pen.).[4] Adapun yang disebut hukum sains, gaya, aturan, sistem, pola-pola interaksi, di sini, pada dasarnya adalah sunnatullah. Sunnatullah yang berlaku dan bekerja di alam kauniyah.[5]

Dunia, di mana umat manusia hidup dan mengekspresikan diri, menempati ruang dan membutuhkan waktu. Dunia bisa dideskripsikan menurut kerangka ‘di mana’ sekaligus ‘kapan’. Dengan demikian ayat-ayat kauniyah, alam kauniyah beserta semua isinya, berada dalam genggaman erat sepasang dimensi tersebut.

Dalam semesta pembicaraan, hanya Allah yang tidak tercengkeram oleh dimensi ruang dan waktu. Hanya Allah yang tidak terikat oleh kungkungan dimensi tersebut. Walaupun alam semesta seisinya ini nyata kesangatluasannya, tetap saja di hadapan Allah tidak seberapa. Logis manakala hanya Allah yang mustahil terbelunggu atau terikat oleh dua dimensi dimaksud. Apa yang pada galibnya adalah ciptaan-Nya sendiri. Justru dimensi ruang dan waktu dan apa-apa yang ada di dalamnya yang berhajat dan bergantung pada-Nya.

Dunia yang dikenal intim oleh manusia adalah dunia yang disesaki tebaran dan taburan taqdir aturan penciptaan dan taqdir aturan operasional, atau dengan kata lain sunnatullah. Dunia di mana sunnatullah bekerja dan terselenggara juga sekaligus merupa dan membentuk hingga dalam gambaran dewasa ini. Dunia ada dan berada dalam dimensi ruang dan waktu. Tidak di luarnya.

Dunia Dikelola dengan Formula Sunnatullah

Dalam salah satu perspektif, dunia seisinya dikonstruksi dari dua hal dasar pokok. Keduanya amat berbeda namun saling memberi makna dan genap-menggenapi. Yang pertama, dunia dalam manifestasi materiil. Dunia ini kasat inderawi. Bisa dilihat, didengar, diraba, dirasa maupun dibaui baik materinya atau gejalanya. Meminjam bahasa komputer atau gadget canggih lainnya, dunia dalam manifestasi ini adalah hard ware atau perangkat keras. Yang kedua, dunia sebagai soft ware atau perangkat lunak. Dunia dalam manifestasi ini dapat dipandang sebagai ruhnya. Sang ruh berupa aneka ragam program yang dimasukkan di dalamnya. Piranti keras tidak akan jalan tanpa piranti lunak. Dalam konteks ini, dunia dalam manifestasi hard ware tidak akan on tanpa diinstal soft ware dalam bentuk beragam file program yang disebut sunnatullah. Bukan saja tidak akan ada, tetapi juga tidak akan jalan. Tidak akan operasional. Realitas materi tidak akan bisa dibayangkan wujud dan bentuknya bila tidak bersenyawa dengan sunnatullah. Setidaknya penciptaan materi tidak meninggalkan sunnatullah.

Secara ringkas sunnatullah dapat diikhtisarkan sebagai keseluruhan syari’at Allah yang mengatur, menggerakkan, menjalankan, menertibkan, menyeimbangkan, mengutuhkan kendaraan raksasa yang bernama alam semesta beserta seluruh isi dan muatannya. Ini semacam standard operational procedure (SOP). Tidak ada ruang atau bahkan celah ruang sesempit apapun yang tidak terjangkau sunnatullah. Demikian juga untuk celah waktunya.

Termasuk dalam lingkup sunnatullah ini adalah keseluruhan hukum, aturan, ketetapan, ketentuan, pola-pola hubungan dan semacamnya. Entitas operasinal ini juga menjadi operator hubungan antar makhluk hidup yang ada di dalamnya yang meliputi puspa ragam flora dan fauna serta manusia. Untuk umat manusia tentu diberi tambahan kelengkapan berupa hukum-hukum kemasyarakatan, norma, nilai dan semacamnya yang semua ini ada dalam sunnatullah. Bila ada aturan-aturan tak tertulis yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat juga dapat dipandang sebagai sunnatullah. Pendek kata, dunia dalam seluruh manifestasinya termasuk manusia di kelola oleh Allah melalui mekanisme sunnatullah. Khusus untuk umat manusia ada tambahan, Adam dan seluruh anak cucunya juga dibekali sunnatullah yang spesifik berupa wahyu-wahyu Allah. Semua wahyu Allah yang terkodifikasi dalam kitab suci samawi juga dapat dipandang sebagai soft ware untuk mengatur kehidupan manusia. Bagi manusia ini suatu kehormatan sekaligus tanggung jawab.

Keseluruhan dari apa yang disebut makhluk tidak bisa mengelak dari genggaman sunnatullah. Semua ciptaan Allah berada di bawah pengelolaan dan kendali sunnatullah. Di titik manapun dan kapan pun alam semesta ini berada dalam jangkauan dan pengaruh sunnatullah. Untuk melihat seberapa besar pengaruh sunnatullah dalam persoalan ini ada baiknya dilongok pemaparan berikut.

Di sini sunnatullah perihal hukum-hukum sains bisa dipakai sebagai cara untuk memulai. Sebagaimana diketahui, dunia dalam manifestasi materiil, tanpa menyisakan perkecualian, terbangun dari satuan penyusun terkecil yang disebut atom. Sains menyebutnya sebagai atom. Atom inipun tersusun dari inti atom dan kulit atom. Ada atom yang majemuk susunannya, ada pula yang sederhana. Walaupun kecil secara ukuran, setiap butir atom dijaga, dikelola, diatur dan dikendalikan oleh sunnatullah.

Yang bertanggung jawab menjaga keutuhan atom demi atom melalui keutuhan intinya adalah hukum nuklir kuat. Hukum, sains juga menyebutnya sebagai gaya, ini mengikat keutuhan inti atom. Tidak terbayangkan bagaimana rupa alam semesta ini bila gaya ini sedikit saja lebih kuat. Semua inti atom akan bertabrakan. Dan bila semua demikian alam semesta hancur. Tidak terkecuali manusia. Atau bila sedikit saja lebih lemah, intim atom akan saling melepaskan diri, berhamburan tidak terkendali. Alias hancur. Bila gaya yang bekerja tidak menyimpang, keutuhan atom terjaga, alam semesta bisa berjalan dengan baik. Penting untuk direnungkan bahwa ini baru jangkauan pengaruh sunnatullah fasal gaya nuklir kuat. Baru satu jenis sunnatullah saja sudah bisa menyodorkan pilihan: alam semesta hancur atau utuh. Belum yang lain-lain.

Di samping keutuhan inti atom terjaga, keseimbangannya juga harus tetap terjaga. Untuk keseimbangan ini diamanatkan kepada gaya nuklir lemah yang merupakan sabuk pengaman atom. Tidak ada yang menginginkan bila segala sesuatunya tiba-tiba terurai atau memancarkan gelombang sinar-sinar berbahaya. Lebih-lebih bagi makhluk hidup. Apa jadinya bila semua ini mengalami perurairan tak terkendali? Di sinilah jangkauan kekuatan sunnatullah tentang gaya nuklir lemah. Sungguh tidak terbayangkan bila gaya ini mogok kerja sejenak saja.

Bukan hanya itu, setiap butir atom yang sungguh renik itu masih dijaga dan dirawat gaya lain, dalam hal ini gaya elektromagnetik. Gaya ini yang mengelola keselarasan inti atom dan elektron yang menjadi kulitnya, agar bekerja di tempatnya masing-masing. Wilayah kekuasaan gaya ini meliputi wilayah kelistrikan setiap atom. Elektron keluar dari suatu kulit atom atau masuk ke dalam kulit atom, yang berarti pindah dari suatu atom ke atom tetangganya, inilah yang merupakan fenomena kelistrikan. Perubahan kekuatan kecil saja pada gaya ini akan membuat sia-sia bila membayangkan adanya alam semesta lengkap dengan seluruh keindahannya. Sedikit saja lebih kuat, inti atom dan elektronnya akan lengket dan lekat. Alam semesta akan mengalami pengerutan terus menerus tak terkendali hingga akhirnya runtuh. Atau sedikit saja lebih lemah, kulit-kulit atom akan berlepasan. Tidak mungkin ada atom tanpa elektron. Dunia ambruk. Inilah jangkauan pengaruh sunnatullah mengenai gaya elektromagnetik.

Gaya nuklir kuat, gaya nuklir lemah dan gaya elektromagnetik ini bekerja di wilayah atom. Suatu wilayah super renik yang merupakan semacam keluarga terkecil, yang tidak bisa dibagi-bagi lagi, yang dikenal di dunia ini. Penyusun atom memang berupa bagian demi bagian yang lebih renik yang dikenal sebagai proton, netron, quark, gluon juga elektron. Tetapi masing-masing partikel sub-atomik ini tidak membentuk semacam keluarga sendiri melainkan menjadi anggota dari keluarga atom. Atom sebagai sebuah satuan memiliki semacam keluarga, yaitu: partikel-partikel sub-atomik tadi.

Walaupun ketiga gaya di atas bekerja di wilayah super renik, atom, tetapi kekuatannya tidak bisa diremehkan. Untuk tidak dilupakan bahwa materi alam semesta seisinya ini, termasuk manusia, tersusun dari satuan-satuan keluarga terenik tesebut. Tersusun dari atom-atom.

Tidak usai dari apa yang sudah ada, Allah juga menggenapkan perjalanan sejarah alam semesta seisinya dengan gaya tarik menarik antar materi. Disebut juga gaya gravitasi. Dalam penemuan terakhir menyebutkan bahwa gaya ini sesungguhnya adalah gelombang. Gaya yang mendapat amanat menjaga keutuhan alam semesta tetap utuh inilah satu-satunya yang dapat dirasakan sehari-hari oleh manusia secara langsung. Gaya gravitasi ini bertugas membuat tata surya, bintang-bintang, gugusan bintang-bintang, gugus dari gugusan bintang-bintang di alam semesta ini tetap berjalan dan bekerja di tempatnya masing-masing dan dalam lintasan teratur. Karena itu pula bumi dan kawan-kawan planet lain dalam keluarga matahari / tata surya tetap bekerja dalam lintasan masing-masing. Manusia bisa berjalan ke sana ke mari, melakukan banyak kegiatan, juga karena anugerah gaya ini. Perubahan taqdir kekuatan pada gaya ini sungguh akan meluluhlantakkan alam semesta. Sedikit saja lebih lemah, alam semesta akan bercerai berai. Masing-masing materi alam semesta melepaskan diri dari orbit yang sudah ditentukan karena pengikatnya melemah. Alam semesta runtuh!. Atau sedikit saja lebih kuat, hanya akan menyisakan kengerian dahsyat. Bintang-bintang saling bertabrakan. Bumi dan planet-planet saudaranya tersedot matahari untuk kemudian tertelan. Manusia akan melesak ke dalam kerak bumi dan begitu seterusnya. Masing-masing bintang tersedot oleh inti galaksi dan demikian seterusnya. Semuanya mengumpul, menyatu, melebur untuk seterusnya berproses menuju tingkat kepadatan yang terus meninggi dengan volume yang semakin minimal. Tidak ada yang tersisa!.

Kiranya, dari perspektif gaya-gaya dasar di atas adalah mudah bagi Allah menciptakan kiamat dalam arti sebagaimana dituturkan dalam Al-Qur’an, walaupun sesungguhnya cara Allah menciptakan kiamat adalah cara yang manusia tidak tahu. Memang hanya dengan mengubah sedikit taqdir kekuatan dari salah satu gaya-gaya di atas, maka alam semesta dan seluruh pesonanya akan runtuh. Ternyata juga, alam semesta seisinya yang dihuni manusia ini dikelola dengan keseimbangan sunnatullah atau empat gaya dasar di atas dalam takaran angka-angka keseimbangan yang sangat kritis. Sedikit saja gaya nuklir kuat atau gaya mana saja, atau gaya ini bekerja sama dengan gaya-gaya lain, lebih kuat atau lebih lemah maka dunia akan runtuh. Kiamat!. Tetapi, subhanallah, alam semesta yang dikelola dengan angka-angka keseimbangan kritis ini ternyata sudah berlangsung kira-kira 12 milyar tahun. Sekian lama angka-angka kritis tersebut terjaga dengan baik.

Dunia super renik yang disebut mikrokosmos dan dunia yang berukuran di luar ukuran renik yang disebut makrokosmos dapat dibuktikan secara nyata tidak dapat berjalan sendiri melainkan dikelola oleh sunnatullah. Dengan sunnatullah semua berjalan dan operasional.

Sekarang gilirannya melakukan telisik pada dunia manusia. Selain anugerah sunnatullah qauliyah yang bersumber dari kitab-kitab suci samawi, dalam diri manusia juga bekerja dan terselenggara sunnatullah kauniyah yang berupa empat gaya dasar di atas. Semua gerak dan aktifitas manusia terhubung dengan empat gaya fundamental tersebut. Badan manusia tersusun dari atom-atom sebagai penyusun terenik. Dalam segenap manifestasinnya, operasional atom-atom penyusun tersebut dikelola oleh gaya nuklir kuat, gaya nuklir lemah, gaya elektromagnetik dan gaya gravitasi. Dalam hubungannya dengan planet bumi sebagai tempat berpijak secara langsung dan fakta bahwa manusia sebagai materi tersusun atas bagian demi bagian, maka gaya gravitasi memang menjadi gaya yang paling awal disadari.

Telisik secara terpisah dan spesifik tentang gaya elektromagnetik dalam diri manusia akan memperlihatkan gambaran menakjubkan. Manusia bergerak atau melakukan kegiatan apa saja, baik berupa gerakan-gerakan besar yang membutuhkan tenaga besar maupun gerakan kecil, semisalnya, sekedar mengedipkan mata tidak pernah melalui jalur di luar jalur kelistrikan tubuh. Semua melalui jalur ini baik gerakan yang manusia sendiri secara sadar mengendalikannya atau yang berada di luar kendali (misal: gerakan jantung, usus dan lain-lain).

Dengan kecermatan tinggi, ketelitian yang jeli, pada tingkat rinci yang mengagumkan, pesan-pesan dunia luar masuk ke pusat kendali di otak melalui pintu gerbang panca indera yang diantar melalui jaringan syaraf yang rumit dalam bentuk impuls-impuls listrik. Sebaliknya otak memberikan respons, memerintahkan otot dengan jaringannya yang majemuk untuk bergerak juga melalui jaringan syaraf yang rumit. Perintah disampaikan juga dalam bentuk impuls-impuls listrik. Bila semua ini menyangkut kelistrikan, maka gerak dan kegiatan manusia sehari-hari berada dalam genggaman sunnatullah fasal gaya elektromagnetik. Tanpa manusia menyadarinya, atau merasa kesakitan karenanya, dalam aspek jasmani manusia berseliweran dan disesaki oleh impuls-impuls listrik yang terselenggara secara tertib dan teratur. Tidak terjadi semacam hubungan arus pendek. Padahal struktur susunan syaraf manusia dan seluruh organ yang terhubung dangan struktur syaraf tersebut sungguh kompleks dan rumit. Menakjubkan memang.

Adapun mengenai aspek ruhani manusia, atau hal-hal yang berada di luar aspek jasmaninya, juga terselenggara mekanisme kerja sunnatullah. Tidak ada yang tidak tersentuh oleh mekanisme ini. Intinya, manusia dalam semua manifestasinya, tidak dan tidak bisa terlepas dari genggaman sunnatullah.

Sebagai tambahan, hukum-hukum atau gaya-gaya dasar yang dikenal dalam sains memang hanya empat sebagaimana diuraikan sekilas di atas. Padahal hukum-hukum yang ditemukan sains banyak. Misal, hukum hidrodinamika, hukum fluida, hukum gerak materi atau mekanika, hukum optika, dan seterusnya. Penting untuk digarisbawahi bahwa sebanyak apapun hukum-hukum sains yang ada semua itu tetap berlandaskan dan didasari empat hukum-hukum dasar yang ada. Semua itu merupakan derivasi dari keempat gaya fundamental di atas. Keempatnya menurunkan banyak hukum sains.[6] Satu saja dari keempatnya tidak ada, maka akan meniadakan semuanya. Dan semua itu sunnatullah.

Tampak sangat jelas bahwa sunnatullah bekerja, merawat, mengelola, menertibkan, menyeimbangkan, mengatur, juga menjadi tenaga bagi semua apa yang berwujud makhluk di seluruh ruang, di seluruh waktu. Alam semesta seisinya operasional berasal dari bekerjanya berbagai sunnatullah yang berpadu, bekerja sama dan bekerja bersama-sama sekaligus. Bekerja pada semua tingkatan besaran materi, dari satuan terenik yang tidak lagi terlihat oleh mata hingga yang besarnya tidak lagi termuat dalam pikiran manusia untuk membayangkan besaran angka-angkanya. Dimanapun dan kapanpun dalam dimensi ruang dan waktu, di situlah samudera luas sunnatullah bertahta.

Sebagai ilustrasi, jika sebuah batu diletakkan di sembarang tempat dan dibiarkan tidak disentuh, maka sang batu akan tetap berada di tempat itu. Bila ada yang berpikir bahwa tidak ada apa-apa, tidak terjadi apa-apa atau tidak terselenggara apa-apa atas diri sang batu, maka telah terjadi pemikiran yang salah. Di dalam diri sang batu yang diam tadi sesungguhnya telah bertaburan berbagai sunnatullah yang bekerja, bekerja sama dan bekerja bersama-sama. Itu baru sebuah batu yang diam. Bila batu yang diam itu adalah seorang manusia yang sibuk beraktifitas, maka perkara sunnatullah-nya akan menjadi jauh lebih kompleks.

Di atas semua hal, alam semesta seisinya sebagai hard ware dan sunnatullah sebagai soft ware-nya adalah sama dalam satu hal, yakni sama-sama sebagai makhluk ciptaan. Bila diruntut sampai ke sebab terakhir, realitas hard ware seisinya dikelola oleh Allah melalui soft ware ciptaan-Nya. Bila pun diandaikan pengelolaan butir atom demi butir atom terselenggara tanpa melalui jalur sunnatullah, Allah tetap saja tanpa halangan sedikitpun berkuasa menjalankannya. Kiranya memang jauh lebih agung dan lebih elok dimana Allah mencukupkan hal demikian, pengelolaan segala makhluk, dengan memerintahkan sunnah-Nya. Dengan atau tanpa melalui mekanisme sunnatullah, Allah tetap berhak atas sebutan Sang Rubbubiyah. Pencipta dan Pengelola Sejati atas semua ini. Karena Perancang dan Pencipta hard ware dan soft ware alam semesta seisinya tidak lain adalah Allah juga.

Bila duet dimensi ruang dan waktu adalah satu hal, maka keselarasan, keseimbangan, keteraturan, kesinambungan dan semacamnya atas segenap makhluk Allah Sang Rubbubiyah adalah hal berikut. Bahwa semua ini dikendalikan, dikelola, dijaga, dirawat, diatur, dan seterusnya, dengan cara sebaik-baiknya oleh sunnatullah tanpa jeda. Sejenak saja sunnatullah tersebut beristirahat, lengah atau malah mogok kerja maka alam semesta seisinya ini akan luluh lantak. Ambruk!. Riwayat panjang dunia ini punah ditelan sesuatu yang tidak terdefinisikan. Tidak ada lagi cerita tentang siapa, apa, kapan, dimana dan mengapa dalam gambaran bagaimanapun.

Manusia Hidup dalam Samudra Sunnatullah

Sunnatullah jauh lebih dahulu ada daripada sejarah kemunculan umat manusia di muka bumi. Bila mengacu usia alam semesta, setidaknya sejauh yang diketahui manusia, sunnatullah sudah mulai mengemban amanat tanpa  jeda sejak kurang lebih 12 milyaran tahun silam. Masa tugas ini seusia dengan penciptaan langit, bumi dan semesta isinya. Karena penciptaan hard ware dan soft ware alam semesta seiringan.

Di dalam hamparan sunnatullah yang berada dalam dimensi ruang dan waktu itulah manusia diciptakan.“Kun !”. Lalu ada, tumbuh dan berkembang secara “Fa Yakun . . .”. Tidak tersedia pilihan bagi manusia berangan hidup di luar rumah besar yang bernama alam semesta yang sudah ada software-nya sejak mula. Sedangkan apa yang ada atau terjadi di luar rumah besar ini saja tidak bisa didefinisikan.

Kenyataan bahwa manusia berada dalam genggaman lautan sunnatullah dan tergenggam erat di dalamnya, adalah sesuatu yang tak terbantahkan. Di dalam diri setiap manusia saja bekerja dan terselenggara semua gaya dasar, seperti deskripsi di atas,sedangkan manusia tidak bisa mengelak darinya. Ini belum lagi yang berupa gaya atau hukum sains yang diturunkan dari keempat gaya dasar tersebut yang secara jumlah tidak sedikit. Berarti di dalam setiap diri manusia bertahta sunnatullah. Sama seperti apa yang ada di luar diri manusia. Semua sunnatullah.

Dalam sains, susunan atom-atom membentuk unsur. Susunan unsur-unsur membentuk molekul. Susunan molekul-molekul membentuk senyawa. Susunan senyawa membentuk zat. Susunan zat-zat membentuk materi. Apa yang dalam dunia biologis bisa berarti jaringan atau organ dan semacamnya. Muncullah kehidupan biologis baik berupa aneka flora dan fauna. Manusia juga. Tidak ada pengecualian, kehidupan biologis memang dikelola oleh sunnatullah atas amanat-Nya.

Mempertajam pemahaman tentang manusia dari perspektif yang lebih menukik, sunnatullah memang menguasai dan mengendalikan makhluk berakal ini secara ketat, tanpa manusia menyadarinya. Bahkan kebanyakan manusia tidak menyangka bahwa setiap gerak-geriknya, dari ujung kaki sampai ujung rambut, berupa gerakan besar maupun sekedar ingsutan lembut, berada di bawah kendali dan pengaruh sunnatullah yang berupa hukum-hukum atau gaya-gaya dasar dan hukum-hukum yang menjadi derivasinya. Semua bekerja sama dan bekerja bersama-sama.

Dari perspektif sains Fisika, manusia tersusun dari penyusun tereniknya berupa atom-atom sebagaimana uraian sekilas di atas. Dari sains Biologi, penyusun terkecil yang bersifat hudup adalah sel-sel. Setiap sel pun tersusun dari atom-atom. Sel merupakan organisasi yang kompleks tetapi teratur. Semua sel mengandung sejumlah kromosom. Setiap sel manusia mengandung 23 pasang kromosom. Kromosom berupa gen-gen, disebut juga DNA, yang juga kompleks dalam hal susunan dan jumlahnya.

Gen dapat dibanyangkan sebagai seutas pita benang panjang yang di dalamnya termuat milyaran informasi atau kode genetik atau juga semacam program hidup. Ini seperti pita kaset yang menyimpan banyak informasi suara. Pita genetik ini memang panjang tetapi tersusun sedemikian rupa sehingga bisa terkemas dalam volume ruang yang sempit. Dunia genetika ini juga semacam soft ware biologis. Untuk kromosom setiap sel manusia tidak kurang dari 70 milyar kode genetik walaupun yang terpakai untuk hidup sehari-hari hanya sekitar 15{b8d3942ab301845768286256c185bb5193188a7412b8f0fa0c9ea45d19cbab34}-nya. Artinya, manusia masih menyimpan 85{b8d3942ab301845768286256c185bb5193188a7412b8f0fa0c9ea45d19cbab34} kekuatan hidup yang masih berupa potensi. Semakin ke depan manusia akan semakin luar biasa. Ini tidak terlalu jauh berbeda dengan komputer. Program atau soft ware komputer sangat banyak. Tetapi tidak lebih dari 20{b8d3942ab301845768286256c185bb5193188a7412b8f0fa0c9ea45d19cbab34} yang digunakan oleh oleh rata-rata user atau pengguna. Bisa tidak lebih dari 20{b8d3942ab301845768286256c185bb5193188a7412b8f0fa0c9ea45d19cbab34} saja sudah bisa disebut mahir.

Gen-gen merupakan harta warisan yang tidak bisa ditolak dari induk atau orang tua pada keturunannya karena merupakan pengkopian dari separuh gen ayah dan separuh gen ibu yang digabungkan. Ini juga merupakan semacam cetakan masing-masing orang. Ada orang yang berhidung mancung karena sebagian kecil dari 70 milyar kode genetik yang bertugas membentuk hidung mancung tercetak kode genetik hidung mancung. Demikian juga sebaliknya yang pesek. Dan begitu seterusnya. Tampilan lahiriah lengkap hingga ke bentuk rinci, sifat, penyakit (khususnya yang bersifat keturunan), kecenderungan, peluang panjang-pendeknya umur menurut jenis makhluk, pola perilaku dan semacamnya dapat dikatakan sudah tercetak (dapat dibaca sebagai sudah tertulis atau sudah tertaqdir sebelum dilahirkan) dalam cetak biru susunan gen-gen. Bisa disebut sebagai blue print genetik.[7] Ini juga yang akan diwariskan secara turun-temurun hingga batas waktu yang belum diketahui.

Walaupun dimungkinkan terjadinya semacam perubahan, pergeseran atau penyimpangan gen-gen karena sebab-sebab tertentu, semua kehidupan biologis tidak dapat dilahirkan tanpa cetak biru genetik dimaksud. Seperti yang sudah-sudah, ini juga sunnatullah.

Tidak hanya itu, gerak-gerik hati, angan, hasrat, pikiran maupun semua yang batiniah atau ruhiyah lainnya, walaupun berupa geliatan kecil dan lembut, juga tidak lepas dari kurungan sunnatullah. Sebagaimana dimafhumi, semua statement samawi, berupa wahyu Allah, adalah sunnatullah dan ini berhubungan langsung dengan aspek ruhani manusia. Belum lagi bahwa sangat erat hubungan perilaku hal-hal yang berada di wilayah batiniah diri manusia berada dalam multi pemikiran. Ada interaksi kuat antara perilaku lahiriyah dan perilaku batiniyah manusia di satu sisi dan diri manusia dengan hal-hal lain di luarnya di sisi sebelahnya. Atau setidaknya semua ini terjadi di dalam lingkup dimensi ruang dan waktu yang sudah nyata di dalamnya bertahta sunnatullah. Bekerja bermacam-macam ’soft-ware’ dalam berbagai tingkatan.

Tidak terpungkiri bahwa manusia yang merupakan manifestasi utuh dari aspek lahiriyah dan batiniah ini mengenal adanya rupa-rupa mekanisme, sistem, aturan, kaidah, pola-pola hubungan, nilai, syari’at dan semacamnya. Manusia hidup dengan dan di dalamnya. Seluruh indera manusia menjadi pintu gerbang sekaligus jalan utama pesan dan impuls untuk semua interaksi yang terjadi. Hal-hal seperti ini merupakan sunnatullah juga. Di samping diri manusia bertahta sunnatullah, multi interaksinya pun merupakan rangkaian sebab-akibat dari hamparan sunnatullah di dan dari sekelilingnya. Jelas kiranya bahwa diri manusia tergenggam sunnatullah dan bereksistensi di samudera luas sunnatullah. Dan Allah tetaplah Pengendali dan Penguasa semesta sunnatullah.

Dalam pelataran persoalan lain, interaksi antara manusia dengan sesamanya atau dengan segenap makhluk lain bersebab dan atau berakibat bagi adanya keharusan / kebolehan atau ketidakharusan / ketidakbolehan perilaku. Di wilayah inilah segenap apa yang disebut syari’ah, hukum, norma, nilai, undang-undang, aturan dan semacamnya ada dan memang diperlukan. Ketiadaannya berarti kekacauan multi interaksi yang ada. Perangkat yang mengatur berbagai bentuk interaksi tersebut adalah sunnatullah juga.

Genggaman sunnatullah dalam ilustrasi yang berbeda dapat ditengok dari kehidupan pola hidup maju manusia dewasa ini. Bahwa sering manusia modern dipandang sebagai seorang yang terpenjara di dalam struktur-struktur sosial dan politik. Dan memang, sering kita tidak dapat memergoki struktur-struktur yang menguasai kita. Adakah kekuasaan itu di dalam tangan segelintir usahawan?. Bila keadaan mereka kita selidiki, maka ternyatalah merekapun dikendalikan oleh kekuasaan strukturil lainnya, seperti hukum-hukum pasaran uang internasional, para manajer di atas, para penasehat reklame, mereka yang membentuk pendapat umum. Adakah kekuasaan itu di dalam tangan perwakilan rakyat?. Tetapi merekapun sering merasakan dirinya sebagai pelaksana belaka mengenai advis-advis dari para ahli partai, badan musyawarah sosial-ekonomi, biro-biro perencanaan, media massa. Dan dengan demikian kita terus menerus berputar dalam sebuah lingkaran, karena setiap golongan merasa terpengaruh oleh suatu kekuasaan di luar dirinya sendiri. Maka dari itu struktur kekuasaan tidak terdapat dalam tangan satu golongan tertentu saja, melainkan merupakan endapan dari seluruh jaringan interaksi antara macam-macam golongan, kepentingan dan mentalitas. Dan dalam endapan itu dengan samar-samar kita dapat melihat suatu kekuasaan yang tak berwajah.[8] Nyata bahwa seluruh aktifitas manusia, dalam semua perkara, tidak muncul dari sebuah ruang hampa.

Manusia hidup di dunia yang di dalamnya bertahta sunnatullah. Kanan kiri, depan belakang, atas bawah, diri manusia berupa sunnatullah. Manusia sendiri adalah sunnatullah. Aturan hidup manusia juga sunnatullah. Perilaku manusia merupakan pantulan dari sunnatullah adanya. Semua serba sunnatullah. Dan sunnatullah, dalam semua manifestasinya, adalah entitas ciptaan. Ciptaan Allah.

Perilaku Deterministik

Sepanjang eksistensi fisiknya, eksistensi materiil, perilaku manusia adalah fatalistik. Atom demi atom penyusun tubuh manusia, bentuk dan jaringan organ-organ serta mekanisme kerja yang ada di dalamnya, sistem metabolisme, sistem kekebalan, sistem operasional, begitu seterusnya, semua itu merupakan dunia perilaku fatalistik.

Di luar manifestasi materiil pun, di sisi lain, ketika manusia memasuki kehidupan bermasyarakat, maka sebagian dari dirinya dihadapkan pada kenyataan fatalistik. Keseluruhan aturan, hukum (ada hukuman tegas dan terukur bagi pelanggarnya), norma (sama seperti hukum namun sangsinya tidak terlembagakan) maupun nilai (menyangkut ukuran baik dan buruk) merupakan perangkat yang mengatur perilaku manusia bermasyarakat. Perangkat tersebut menjadi medium untuk mengekspresikan hidup fatalistik bagi sebagian diri manusia. Belum ditemukan contoh manusia hidup bermasyarakat dimana dalam masyarakat tersebut tidak ada aturan, hukum, norma maupun nilai di dalamnya. Dalam ranah kehidupan bermasyarakat nyata perilaku manusia dihadapkan pada semacam medium yang salah satunya memberi fondasi kehidupan fatalistik. Ini masih bisa ditambah dengan seluruh aturan / syari’at agama yang diturunkan untuk mengatur dan mengelola individu maupun kelompok manusia di masyarakat di satu segi dan mengatur hubungan manusia dengan alam sekitar atau lebih-lebih dengan Allah di lain segi. Keseluruhan aturan hidup ini, sebagaimana di depan, adalah sunnatullah. Lengkaplah kiranya di mana manusia dikelilingi dan diselimuti oleh sungguh banyak hal yang tidak bisa dihindari dan tidak bisa meloloskan diri darinya. Ada aspek perilaku fatalistik di sini.

Alam semesta seisinya, termasuk manusia di dalamnya, berada dalam samudera sunnatullah. Ini memberikan penggarisbawahan ikhwal perilaku seluruh makhluk Allah tidak pernah terjadi di sebuah ketiadaan. Tidak akan pernah terjadi di sebuah kekosongan. Setiap perilaku berada di bawah kendali langsung sunnatullah. Dengan demikian, dalam hubungannya dengan sisi determinisme perilaku manusia, tentang apa yang harus dilakukan di antara kenyataan umum fatalisme adalah mencari ruang atau celah di mana determinisme perilaku manusia terselip atau berada. Dalam dominasi perilaku fatalistik ada celah untuk perilaku deteriministik. Celah perilaku deteriministik dapat dijelaskan.

Langkah mula untuk tujuan ini dapat dilakukan semacam pengujian, atau tepatnya penjajagan dan penghadapan langsung terhadap diri ruhani manusia di satu segi dan diri jasmani manusia di lain segi. Dalam interaksi dua manifestasi diri manusia tersebut, manusia dalam manifestasi mana (?) yang paling awal bersentuhan dengan perilaku.

Sebagaimana diketahui, lazimnya perilaku didahului niat / motivasi. Yang pertama bersinggungan dengan niat / motivasi itulah yang menjadi kuncinya. Niat / motivasi tersebutlah, terstruktur sebagai kalimat-kalimat ucapan hati atau tidak, yang awal mula menggerakkan perilaku. Kini, di antara dua bagian diri manusia, diri jasmani manusia tidak memungkinkan untuk terjadinya niat / motivasi. Walaupun pada akhirnya dibutuhkan diri jasmani untuk mewujudkan setiap perilaku. Hujjah mendasar untuk ini adalah kenyataan bahwa sepanjang eksistensi fisiknya, diri manusia tidak berjiwa. Tidak berkesadaran. Alhasil, yang bersinggungan dengan sulutan awal perilaku adalah diri ruhani manusia. Di dalam wilayah diri inilah setiap perilaku manusia mendapatkan titik awal keberangkatannya. Sebuah titik yang menentukan.

Yang paling memuaskan untuk bisa diterima dengan baik adalah kesediaan untuk melihat di mana perilaku manusia dimulai dari titik paling mula. Dan titik itu ada di tingkat batin atau di tingkat diri ruhani. Sementara sesuatu yang paling umum dipandang sebagai titik mula dimaksud adalah niat / motivasi. Bila niat / motivasi dapat dipandang sebagai cara memulai suatu perilaku, maka jelas bahwa niat / motivasi dicetuskan di ruang batin. Akan tetapi gerak-gerik perilaku di tingkat ruhani ini belum terwujud secara kasat inderawi melainkan setelah direalisasikan oleh diri jasmani manusia. Untuk keperluan interaksi dengan dunia sekeliling, atau keperluan apa saja, maka keterlibatan dan penerusan oleh diri jasmani sangatlah penting. Sebaliknya dari arah berlawanan, diri jasmani juga berperan penting mengantarkan dan menerukan pesan-pesan atau pencerapan inderawi dari dunia sekeliling menuju diri ruhaninya. Bila diperlukan respons balik atas semua hal, maka selalu saja dimulai dari diri ruhani dengan tanpa mengabaikan diri jasmani sebagai jembatan. Demikian seterusnya.

Di atas semua hal, penting untuk digarisbawahi bahwa di dalam diri ruhani manusialah rupa-rupa kesadaran, pemikiran, angan, perasaan, ilham tentang nilai-nilai kebaikan dan keburukan, ghirah keagamaan dan semacamnya bersimaharaja. Menjadi sesuatu yang amat mustahil bila hal-hal demikian dinisbahkan sebagai sesuatu yang terjadi di dalam diri jasmani.

Di samping semua yang sudah dipaparkan di muka, di segi lain, perlu kiranya disadari dan dimengerti bahwa di hadapan diri manusia selalu saja ada dan tersedia berbagai macam pilihan perilaku. Pilihan perilaku ini tersedia dalam berbagai keragaman. Semua pilihan ini memiliki peluang untuk dipilih dan dipakai. Perbedaan dimensi ruang dan waktu juga membuat perbedaan pilihan menyangkut jumlah dan ragamnya, walaupun tidak harus selalu demikian. Acap dijumpai adanya saat dan tempat di mana pilihan perilaku terasa lebih banyak dan longgar. Ada saat dan tempat lain di mana pilihan perilaku tadi terasa sempit. Apapun itu yang jelas setiap pilihan yang ada selalu membawa dan memiliki semacam pola dan alur, dalam urutan ruang dan waktu, terlepas dari dipilih atau tidak dipilih oleh manusia untuk ditindaki atau tidak ditindaki. Juga ada semacam kausalitas bagi setiap perilaku. Pilihan-pilihan tersebut bisa jadi berupa keharusan atau ketidakharusan, kebolehan atau ketidakbolehan dan semacamnya.

Pilihan-pilihan perilaku yang beragam dan saling terkait satu sama lain juga merupakan sunnatullah adanya. Memilih perilaku A, misalnya, berarti harus begini. Bila sudah begini akan menyebabkan begitu. Karenanya tidak boleh ke sana, agar tidak berakibat seperti itu. Demikian seterusnya. Alur-alur semacam ini bertaqdir atau di-qadar-kan sejak awal sebelum manusia memilih dan menindakinya. Satu missal: taqdir dari perilaku merampok adalah tidak baik, merugikan orang, mudlarat, dimusuhi banyak pihak dan berdosa. Ancamannya neraka. Itu sudah sunnatullah. Manusia jadi merampok atau tidak, perilaku merampok taqdirnya kurang lebih adalah seperti itu.

Untuk sebagian besar deskripsi pola atau alur dari setiap pilihan perilaku (bila tidak seluruhnya), baik dalam bentuk garis-garis pokok maupun rinci, sudah disadari dan dimengerti oleh diri ruhani manusia justru sebelum dipilih. Adakalanya kesadaran dan kemengertian tersebut dibentuk berdasarkan pengalaman langsung atau pengalaman apapun dan siapapun dari luar dirinya di samping dari berbagai bentuk pembelajaran lainnya.

Setiap pilihan perilaku membawa dan memiliki pola atau alur dalam urutan ruang dan waktu sendiri-sendiri. Di seluruh dunia, pilihan-pilihan dimaksud sungguh tidak terhitung jumlahnya, tidak terhingga ragamnya, nyaris tidak berbatas aneka ukuran jangkauannya dan demikian seterusnya. Dari yang banyak ini semua sama dalam satu hal, yaitu memiliki kekuatan mengikat, mengendalikan, mengarahkan, mencengkeram hingga bahkan memaksa pemilihnya. Di hadapan beragam pilihan perilaku, manusia berada dalam posisi deterministik. Namun ketika sudah masuk dalam apa yang dipilih, posisi manusia cenderung fatalistik.

Walaupun manusia sudah masuk di dalam perilaku yang dipilih, di dalam setiap pilihan perilaku inipun juga dimungkinkan terus tersedia lagi beragam pilihan perilaku. Di hadapan beragam pilihan perilaku berikutnya ini, manusia berposisi deterministik lagi. Bila sudah dipilih menjadi fatalistik lagi. Demikian seterusnya. Semua ini bertaqdir. Semua ini sunnatullah adanya.

Sebagai ilustrasi, seorang manusia berniat melakukan satu di antara dua perilaku. Mencuri atau menolong sesama. Di hadapan dua perilaku ini manusia masih deterministik. Ternyata ia memilih mencuri. Dalam aktifitas mencuri ada sesuatu yang memaksanya melakukan ini dan itu yang semuanya mengikat dan jahat. Ia tersedot dalam sesuatu yang fatalistik. Walaupun demikian, di hadapannya tetap selalu tersedia pilihan: taubat atau terus jahat. Di hadapan dua pilihan berikut ia kembali deterministik lagi. Jika memilih taubat, ia masuk dalam lingkaran fatalistik lagi, karena di dalam taubat ia harus ini dan itu. Jika memilih terus jahat, ia juga masuk dalam lingkaran fatalistik lagi, karena dalam kejahatan ia wajib ini dan itu. Begitu seterusnya perguliran antara determinisme dan fatalisme. Demikian juga jika ia memilih perilaku baik menolong sesama. Soal nilai adalah soal baik dan buruk. Yang jelas perguliran antara determinisme dan fatalisme ada di dalamnya. Dalam semua nilai perilaku.

Tersedianya berbagai macam pilihan perilaku dapat menjadi bukti kuat tersendiri, yaitu tersedianya wilayah perilaku deterministik. Berbagai pilihan adalah untuk dipilih. Jika tersedia hanya satu pilihan berarti tidak memilih. Peristiwa memilih hanya bisa dipahami bila ada aspek deterministik di dalamnya. Di hadapan berbagai pilihan tetapi tidak bisa memilih berarti satu hal: kuatnya aspek fatalistik. Fakta determinisme dan fatalisme adalah sunnatullah. Adanya determinisme dalam dominasi lingkungan fatalisme juga sunnatullah.

Disebut dalam dominasi lingkungan fatalisme karena fakta bahwa alam semesta seisinya adalah makhluk dalam manifestasi materiil yang secara volume sangat luas seperti tidak bertepi. Perilakunya fatalistik. Sementara pemikiran determinisme adalah pemikiran khusus tentang makhluk manusia (makhluk ghaib bisa ditambahkan di sini) yang mendiami planet bumi. Volume bumi jauh lebih besar dibanding volume seluruh manusia, termasuk yang sudah mati. Perilaku bumi fatalistik. Hanya dalam skup bumi saja perilaku fatalistik  sudah terlihat dominan. Belum yang lain. Sementara bumi dibanding alam semesta di luarnya bagaikan sebutir debu di tengah hamparan padang pasir yang luas. Sudah hidup dalam dominasi lingkungan fatalisme, manusia sendiri juga memiliki sisi-sisi perilaku fatalistik. Sisi-sisi lain perilaku manusia adalah deterministik. Walaupun demikian sisi-sisi perilaku deterministik manusia sangat bermakna.

Sebagaimana di muka, niat / motivasi dari suatu perilaku berangkat dari diri ruhani. Lebih jauh, di hadapan banyak pilihan perilaku, dalam hubungannya dengan keharusan memberi respons atau memutuskan sikap, maka tetap saja diri ruhani yang berada di garis depan. Diri ruhani manusia memang dirancangbangun untuk hal-hal dimaksud. Apa yang berkecamuk dalam diri ruhani tidak diketahui orang lain. Gejalanya baru diketahui bila sudah diekspresikan melalui diri jasmaninya.

Sampai di sini, persoalan belum tuntas sebelum dimengerti apa dan bagaimana diri ruhani manusia ketika berada di hadapan berbagai pilihan semacam. Terasa adanya sebentuk kebutuhan bagi diri ruhani manusia berupa semacam prasyarat tertentu sedemikian rupa sehingga respons terhadap pilihan-pilihan tersebut bisa diberikan. Dalam hal ini untuk mengekspresikan perilaku deterministik. Perangkat untuk mengekspresikan perilaku determinitik ini anugerah. Penegasan dari Al-Qur’an ada untuk mendukungnya.

Al-Qur’an memberikan 4 (empat) tengara penting dalam berbagai ayat dan surat yang menunjukkan bahwa anugerah untuk mengekspresikan perilaku deterministik tersebut memang dikaruniakan. Mengulangi apa yang sudah diisyaratkan di depan, manusia diizinkan memiliki al-iradah (kehendak), al-masyi’ah (keputusan / keinginan), al-qudrah (daya / kekuatan) dan al-istitha’ah (kemampuan).

Bila dipertalikan dengan dua manifestasi diri manusia, al-iradah dan al-masyi’ah lebih bertumpu pada diri ruhani manusia. Rupa-rupa kehendak dan keputusan / keinginan itu wilayah ruhani. Tidak mungkin keduanya dinisbahkan pada diri jasmani. Sementara al-qudrah dan al-istitha’ah lebih bertumpu pada diri jasmani manusia. Setidaknya apa yang dipahami tentang daya / kekuatan dan kemampuan akan segera mengingatkan pada rupa-rupa tulang, otot dan sejenisnya. Ini bagusnya, al-qudrah dan al-istitha’ah juga sekaligus bisa dinisbahkan pada diri ruhani manusia. Pengalaman memperlihatkan bahwa ada manusia yang secara ruhani kuat dan mampu, ada pula yang sebaliknya. Dengan ungkapan berbeda, sering terdengar orang mengucapkan: kuat mental atau lemah mental untuk menggambarkan sejumlah keadaan ruhani seseorang.

Allah melekatkan al-iradah, al-masyi’ah, al-qudrah dan al-istitha’ah dalam wilayah ruhani manusia. Keempatnya mempresentasikan aspek deterministik pada diri manusia. Manusia menjadi memiliki determinisme perilaku. Sudah barang tentu ini adalah sunnatullah juga adanya. Sunnatullah dari sisi yang berbeda. Sunnatullah memang beragam. Semuanya sama dalam satu hal, sama-sama sudah ditakar qadar-nya, lalu di-qadla-kan untuk menjadi ada.

Setelah jelas manusia dilekati anugerah determinisme perilaku, maka di hadapan berbagai pilihan perilaku tersebut diri ruhani mengawali semuanya. Dari tahap ini diteruskan ke tahap-tahap berikut yang mau tidak mau melewati diri jasmani. Lalu terwujudlah perilaku ke dunia nyata.

Al-qudrah dan al-istitha’ah sama-sama dapat dinisbahkan pada diri ruhani sekaligus diri jasmani. Kiranya al-qudrah dan al-istitha’ah dapat dipandang sebagai titik singgung[9] antara diri ruhani dan diri jasmani manusia. Ini dalam hubungannya dengan perjalanan perilaku dari tahap paling dini di alam yang belum terlihat hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan.

Diri ruhani manusia secara deterministik dengan keseluruhan al-iradah, al-masyi’ah, al-qudrah dan al-istitha’ah yang dimiliki memilih suatu perilaku. ‘Ruang-ruang’ al-iradah, al-masyi’ah, al-qudrah dan al-istitha’ah (sekedar untuk memudahkan pemahaman) menjadi termuati oleh pilihan-pilihan tersebut. Karena al-qudrah dan al-istitha’ah adalah juga ruang-ruang yang dimiliki diri jasmani, maka diri jasmani merasakannya dan menyerap (juga sekedar untuk memudahkan pemahaman) muatan pilihan terpilih tadi. Sesuai watak kejadiannya, diri jasmani dengan al-qudrah dan al-istitha’ah yang dimiliki, dengan tetap mendapat dorongan dari diri ruhani, mengejawantahkan pilihan terpilih tersebut. Lalu terbitlah sebuah perilaku di alam nyata.

Bila suatu perilaku bergulir dan terjadi sedemikian rupa sehingga bisa dilihat sisi-sisi fatalistik-nya, maka sifat kejadian perilaku seperti ini beserta hal-hal terkait di dalamnya adalah sunnatullah. Dan bila suatu perilaku bergulir dan terjadi sedemikian rupa sehingga bisa dilihat sisi-sisi deterministik-nya, maka sifat kejadian perilaku seperti ini beserta hal-hal terkait di dalamnya adalah juga sunnatullah. Yang satu sunnatullah dalam aspek fatalistik. Sementara yang lain, sunnatullah dalam aspek deterministik.

Pada ujungnya memang semua kembali pada sunnatullah. Apa yang pada galibnya amat banyak dan beragam. Sangat tidak mungkin untuk menggerakkan dan menjalankan kendaraan raksasa berupa langit, bumi dan seisinya ini, termasuk manusia, hanya tersedia satu jenis sunnatullah dengan hanya satu cara kerja. Lebih tidak mungkin lagi, bila menganggap Allah tidak berkuasa menciptakan berbagai ragam dan bentuk sunnatullah. Dan dalam berbagai ragam dan bentuk sunnatullah semua sama dalam satu hal, yaitu semua diciptakan Allah dan semua berada di bawah kendali-Nya secara langsung. Apa yang berada di bawah kendali dan jangkauan sunnatullah adalah apa yang sekaligus berada di bawah kendali dan kekuasaan-Nya.

Dalam pelataran empiris sehari-hari, perilaku dimulai dari diri ruhani dan diwujudkan melalui diri jasmani. Perilaku manusia bukan merupakan peristiwa tunggal. Ia merupakan produk dari suatu akumulasi. Sangat lumrah di tengah-tengah perjalanan menyelesaikan suatu perilaku, niat / motivasi baru muncul menyela atau bergabung untuk membuatnya menjadi lebih majemuk. Juga lumrah bila perilaku semula akhirnya kandas di tengah perjalanan lalu tidak terselesaikan. Apa saja dari kejadian-kejadian seperti ini, selalu saja diri ruhani manusia mendahului diri jasmaninya.

Adapun nilai dan balasan dari suatu perilaku juga dimulai pada tingkat ruhani. Walaupun belum direalisasikankan dalam bentuk nyata melalui diri jasmani, perilaku di tahap diri ruhani sudah bisa dinilai dan berbalas. Diri ruhani manusia sudah bisa dipahami sebagai satuan perilaku yang berbalas. Ada hujjah untuk ini. Sebagai salah satu perilaku ruhani, niat dapat dijadikan contoh. Niat baik tetapi belum direalisasikan sudah berbalas pahala. Niat baik yang sudah direalisasikan berbalas pahala lebih banyak. Sebaliknya niat buruk tetapi belum direalisasikan belum dihukum dosa. Niat buruk yang sudah direalisasikan berbalas dosa. Agama sudah memberikan tanda petik bahwa perilaku telah dinilai dan dibalas walaupun masih berada pada tingkat dini jauh di dalam diri ruhani. Ini seperti sebuah ajakan untuk melihat diri ruhani manusia sebagai lembaga perilaku pendahulu yang penting. Sabda Rasulullah dalam suatu kesempatan:

Allah memaafkan untuk ummatku apa yang dikatakan dalam batinnya” (HR. Turmudzi –shahih).

Yang bisa dipertalikan dengan “Allah memaafkan … ” tentu bukanlah untuk niat baik, melainkan yang sebaliknya.[10] Niat baik untuk dipupuk, niat tidak baik dihindarkan. Adanya pemaafan ini membuktikan adanya penilaian. Bahwa kecamuk di ruang ruhani seperti tersebut tidak baik. Adapun kemudian dimaafkan itu karena Allah Maha Pemaaf.

Kiranya menjadi lebih mudah dicerna mengapa niat dijadikan tekanan penting bagi suatu perilaku yang menurut watak kecenderungannya akan diterbitkan di ruang nyata. Niat dapat menentukan arah perilaku adalah nyata. Sabda Nabi Muhammad:

Dari Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a. ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya. Dan sesungguhnya bagi setiap orang itu (hasilnya) sesuai dengan apa yang diniatinya. Barangsiapa hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka tempat hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk keduniawian, maka ia akan memperolehnya atau untuk perempuan maka ia akan mengawininya. Jadi hijrahnya seseorang itu sesuai dengan apa yang ia maksudkan dalam niatnya” (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Searah dengan pengertian di atas, melihat tindak-tanduk manusia akan lebih berhasil bila dilakukan dengan melihat perilakunya dalam ranah diri ruhani. Hal ini karena tidak jarang perilaku lahiriah tidak atau kurang mewakili apa yang dimaksud sesungguhnya oleh perilaku batinnya.

Dalam lintasan hidup sehari-hari, perilaku batiniah manusia juga lebih banyak menjadi sorotan, tinjauan atau bahkan tolok ukur atas perilaku seseorang. Niat / motivasi suatu perilaku acap lebih dahulu dinilai. Contoh ungkapan berikut kiranya dapat mewakili gambaran dimaksud. “Oh . . . tidak masalah! Yang penting kan niatnya . . .”. Dari banyak ungkapan lain yang senada, tampak jelas bahwa perilaku batiniah lebih dijadikan landasan penilaian daripada perilaku lahiriah. Perilaku itu domain aspek batiniah manusia, sementara aspek lahiriahnya lebih merupakan instrumen untuk merealisasikannya.

Pandangan seperti tersebut akan tampak lebih tajam dan nyata bila ditengok dalam dunia penyidikan dan penegakan hukum dalam membuat pertimbangan tentang berat-ringannya beban suatu penghukuman. Misalnya, untuk menentukan lamanya hukuman bagi seorang pesakitan tidak pernah dilupakan sejauh mana niat mempengaruhi suatu perilaku kejahatan.[11] Pembuktian atas ada atau tidak adanya niat, dengan kata lain motif, dipadu dengan unsur perencanaan akan menentukan berat-ringannya hukuman bagi terhukum. Niat atau motif itu sendiri merupakan perilaku diri ruhani dan betapa hal-hal seperti ini dijadikan tekanan penting suatu perilaku dalam kehidupan bermasyarakat. Nyata bahwa perilaku diri ruhani sudah bernilai dan berbalas. Terbukti bahwa perilaku manusia lebih bersumber pada suatu titik awal di ranah ruhani. Perilaku yang berkecamuk dalam diri ruhani itulah sejatinya perilaku manusia. Tangan, kaki dan anggota badan lainnya hanya instrumen.

Secara meyakinkan manusia memang memiliki aspek determinisme perilaku. Ada sejumlah nash Al-Qur’an yang dapat dipandang sebagai unsur pendukungnya, baik secara langsung maupun tidak.

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (QS. Al-Balad (90): 10).

Allah telah menunjukkan banyak pilihan jalan hidup. Bila dibuat pengelompokan menurut nilai, semua pilihan jalan hidup tersebut akan berujung ke salah satu di antara dua. Yang satu mewakili jalan hidup ma’ruf dan yang lain jalan hidup mungkar. Sudah jelas, adanya pilihan berarti adanya determinisme.

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syams (91): 8-10).

Ayat ini bersifat rujuk merujuk dengan ayat sebelumnya. Pengertian yang ditampilkan semakin jelas dan lebih berbentuk. Manusia sudah diberi gambaran (diilhamkan) tentang segenap kebajikan dan keburukan lengkap dengan rentetan alur dan konsekuensi logis masing-masing. Di hadapan manusia semua itu untuk dipilih. Walaupun demikian, karena kasih sayang Allah-lah manusia tetap dihimbau untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar.

Manusia dikaruniai gambaran setiap pilihan perilaku berikut konsekuensinya adalah perlu dan penting. Ilham atau pengetahuan untuk hal ini dapat dipakai untuk menghitung dan menimbang-nimbang setiap langkah yang akan diambilnya. Sebab balasan untuk semua ini akan kembali juga akhirnya kepada manusia. Adalah merupakan pemahaman umum bahwa manusia adalah makhluk yang harus mempertanggungjawabkan semesta sepak terjangnya selama hidup. Ini karena setiap langkah perilaku manusia ditakar dengan ukuran baik atau buruk. Pahala atau dosa. Dengan kata lain berimplementasi hukum.

Dengan ungkapan berbeda, dalam wilayah persoalan yang juga berbeda, tetapi terdapat persamaan dalam inti pembicaraannya, dapat ditengok dalam:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thaghut[12] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah (2): 256).

Tidak diragukan bahwa memasuki agama kebenaran ini atau bahkan keluar darinya jelas-jelas melibatkan perilaku sang pelaku yang ditempuhnya secara sadar. Al-rusyd dan al-ghaiy adalah pilihan yang disodorkan secara terbuka untuk dijalani salah satunya. Tidak ada paksaan dalam perilaku tersebut (dalam ayat ini malah diungkapkan secara tersurat) dapat menjadi kata kunci yang bagus. Ini artinya perilaku memang tidak dipaksakan. Bila dibalik, sisi-sisi deterministik erat melekat dalam perguliran perilaku manusia.

Unsur pendukung lain, yang tidak kalah gregetnya, yang dapat dipandang turut menopang gagasan determinisme perilaku, adalah adanya perintah agama bagi manusia untuk berikhtiar dan terus berikhtiar. Perintah untuk berikhtiar adalah juga perintah untuk berusaha. Usaha dengan hasrat perubahan menuju yang lebih baik sebagai sisi pencapaiannya.

Sudah menjadi kemafhuman umum, ikhtiar hanya bisa dimengerti di langit deterministik. Ikhtiar segera kehilangan relevansi bila disodorkan kepada sekalian makhluk bila ternyata sang sekalian makhluk tidak ubahnya laksana bidak-bidak catur. Penguatan untuk hal ini dapat dilongok pada:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Q.S. Al-Qashash (28): 77).

Rujukan yang bersuasana senada dengan greget yang lebih menggigit juga bisa diselami dalam:

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (Q.S. Al-Jumu’ah (62): 10).

Untuk seterusnya pemahaman bisa diperkaya dengan Q.S. Al-Isra’ (17): 12; Q.S. Al-Jatsiyah (45): 12.

Alhasil, manusia memiliki ekspresi deterministik. Sunnatullah untuk ini ada dan memang diciptakan untuk tujuan dimaksud. Tentu saja wilayah determinisme tersebut tidak bisa digambarkan sebagai sesuatu yang lepas berhamburan tanpa berkerangka. Ada sekhusus sunnatullah yang berurusan dan mengurusi wilayah determinisme itu sendiri dengan segala perniknya. Wilayah determinisme, dalam pengertian di sini maupun dalam pengertian luas, adalah sunnatullah adanya sebagaimana halnya dengan wilayah fatalisme. Sunnatullah yang satu ini juga tidak muncul dengan sendirinya melainkan diciptakan oleh Allah. Artinya, meskipun manusia berperilaku deterministik apa saja, dan ini sunnatullah, tetap saja semua ini dalam kekuasaan dan penciptaan oleh Allah. Karena apa yang dikelola dan diurusi sunnatullah adalah apa yang juga dikelola dan diurusi oleh-Nya. Dengan pemahaman yang dipermudah, Allah mengelola dan mengurusi segala sesuatu melalui sunnatullah. Sementara sudah jelas siapa yang menciptakan setiap bentuk dan jenis sunnatullah.

Pada dasarnya Allah tetap bisa saja menjalankan semua ini tanpa sunnatullah. Kenyataannya sunnatullah ada dan berkelanjutan. Justru dengan diciptakannya berbagai ragam sunnatullah memberikan hikmah dan teladan yang sangat luar biasa. Dengan sunnatullah, dalam tataran antar makhluk, dapat menjaga dan memelihara adanya sebab bagi segala sesuatu. Bagi manusia, ini menjadi pembelajaran yang amat berharga untuk bekal seluruh perjalanan hidup di samping nyata bahwa alam berpikir manusia beralur dalam tautan hubungan sebab-akibat. Pemikiran manusia terpola dengan cara ini. Bila penjagaan dan pemeliharaan sebab tidak ada justru akan menghancurkan tatanan kehidupan manusia dengan segenap perniknya. Manusia hanya akan melakukan perilaku tidak masuk nalar. Hanya akan menginginkan pintar tanpa sebab belajar, mengangankan hidup berkecukupan tanpa sebab bekerja atau bahkan mengkhayalkan masuk syurga tanpa sebab beriman dan beribadah.

Berikutnya, dengan ini manusia bisa dinisbahkan sebagai makhluk yang mempertanggungjawabkan hidup yang dijalani. Hidup yang bertanggung jawab adalah ciri khusus dan khas makhluk yang berjenis manusia. Dan yang harus selalu diendapkan dalam ingatan bahwa dunia ini seisinya secara umum dan kelompok manusia khususnya selalu dibalut dan dikerangkai dengan beragam sunnatullah. Semua berenang di dalam samudera luas sunnatullah.

Walaupun manusia bersifat deterministik, tetapi tidak setitikpun hal itu mencerabut atau mengurangi kekuasaan Allah. Apalagi nyata bahwa ada sisi lain dari diri manusia yang bersifat fatalistik. Andaipun manusia beserta seluruh alam semesta seisinya berperangai penuh secara deterministik lepas dari kendali dan kekuasaan Allah, tetap saja tidak setitikpun menggerus atau mengurangi kekuasaan-Nya. Allah terlalu tak terhingga kekuasaan-Nya untuk sekedar menerima tantangan determinisme seluruh makhluk-Nya. Karenanya mengandaikan manusia bila memiliki sifat deterministik akan mengurangi takaran kekuasaan-Nya adalah pemikiran yang tidak memiliki pijakan kuat. Bila dibuat amsal tentang boneka yang bergerak sendiri (setelah ditanamkan perangkat lunak tentang seluruh pola-pola geraknya) dan patung kayu. Jelas bahwa pembuat boneka pintar tersebut adalah orang yang pintar dan cerdas. Sementara pembuat patung kayu tidak harus orang yang kemampuan otaknya di atas rata-rata. Boneka pintar mewakili citra pembuat berkecerdasan tinggi dan tidak demikian citra yang bisa diwakili patung kayu. Hal penting yang juga perlu dimengerti, walaupun boneka itu pintar, bisa menirukan gerak-gerik manusia, tetap saja pembuatnya yang membuat gerak-gerik boneka melalui perangkat lunak yang ditanamkan. Lebih agung dan elok menjadi pencipta dengan citra pintar daripada citra sebaliknya.

Bila tamsil tersebut dikembalikan, justru Allah tampak dengan citra lebih agung dari yang sudah Maha Agung, lebih kuasa dari yang sudah Maha Kuasa manakala menciptakan manusia dengan seluruh kecerdasan yang dimiliki beserta determinisme perilakunya. Apabila manusia diciptakan tidak ubahnya seperti binatang, justru berpeluang menggoda terbitnya pertanyaan tidak baikk terhadap Penciptanya. Padahal Allah Maha Suci dari setiap kelemahan dan kekurangan.

Al-iradah, al-masyi’ah, al-qudrah dan al-istitha’ah beserta apa-apa yang bisa dipertautkan dengannya kiranya dapat menjadi sebagian instrumentasi bagi determinisme. Dan apapun hal ini tidak memiliki kemungkinan lain melainkan terbenam dan tenggelam dalam genggaman erat sunnatullah.

Perilaku Fatalistik

Sebagaimana disinggung di depan, langit, bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya adalah sunnatullah. Di samping itu, perilaku alam semesta tersebut juga berdasarkan sunnatullah, berada di bawah kendali langsung sunnatullah, tidak tersisa untuk perkecualian. Manusia juga berada dalam lingkup ini. Karena semua berada dalam genggaman sunnatullah, sementara keseluruhan sunnatullah adalah makhluk dan ciptaan-Nya, maka dapat dikatakan secara tandas bahwa pada dasarnya Allah jugalah yang menciptakan seluruh gerak-gerik alam semesta seisinya. Dari yang tampak luar biasa hingga yang sepele. Allah Maha Pencipta dan Penguasa atas semua perkara dan hal. Bukan saja Pencipta dan Penguasa seluruh dunia seisinya, dunia dalam manifestasi materiil dan non-materiil, tetapi juga semesta perilakunya dari waktu ke waktu.

Sunnatullah ada di mana-mana. Tidak tersedia sejengkal ruang sedetik waktu, di alam semesta ini yang tidak terisi sunnatullah. Karena tidak tersisa perkecualian maka perilaku manusia juga diciptakan oleh Allah walaupun dalam dimensi ruang dan waktu yang sama manusia juga dianugerahi wilayah determinisme.

Diri manusia secara lahiriah berada di bawah langsung kendali dan kekuasaan sunnatullah, baik dari sisi manifestasi fisik maupun perilakunya. Karena sunnatullah adalah ciptaan-Nya, maka diri lahiriah manusia beserta perilakunya adalah juga ciptaan-Nya. Demikian adanya diri manusia secara batiniah juga berada di bawah langsung kendali dan kekuasaan sunnatullah, termasuk seluruh pengejawantahan perilaku di tingkat batinnya. Untuk seterusnya juga dapat dikatakan Allah jugalah pada dasarnya yang menciptakan perilaku batiniah manusia melalui mekanisme sunnatullah.

Dalam hal manusia memiliki wilayah determinisme, pembenaran dan pengesahan anugerah ini banyak memperoleh pijakan dari nash-nash Al-Qur’an. Karena sifat deterministik juga merupakan sunnatullah, sementara sifat ini juga ciptaan Allah, maka seluruh perilaku manusia selalu berada dalam kerangka kendali dan kekuasaan-Nya. Dengan ungkapan berbeda, manusia adalah makhluk deterministik. Pada saat dan tempat yang sama adalah makhluk fatalistik. Bila dibalik, manusia adalah makhluk fatalistik. Pada saat dan tempat yang sama adalah makhluk deterministik. Lebih singkat lagi, deterministik tetapi fatalistik. Fatalistik tetapi deterministik.

Allah menciptakan segenap perilaku seluruh makhluk-Nya hingga bahkan ke tingkat rinci dan tampak sepele adalah benar adanya. Ada semacam pola perilaku bagi semua makhluk. Dan secara jenis, semesta makhluk yang ada memiliki polanya sendiri-sendiri yang khas. Kelompok monyet bisa melompat dan berayun di dahan, tetapi tidak untuk kelompok gajah. Demikian seterusnya. Ada sebentuk skema perilaku. Sesuatu perilaku (perilaku ular, misalnya) berada dalam semacam kerangka skema operasional. Tentu saja, skema serupa itu yang menyajikan semacam denah mengenai segala fungsi dan perbuatan (bernafas, mencium, melihat, menelan) yang ada pertalian dengan organ-organ (hidung, kelenjar, dsb.) ada gunanya bagi para ilmiawan. Denah ini bahkan mirip sekali dengan denah-denah mengenai sebuah perusahaan, di sanapun dipergunakan blue-print untuk menjelaskan pola pengelolaan dan bila perlu memperbaikinya.[13] Dalam pandangan ini setiap ciptaan-Nya beralaskan (baca: dilengkapi) sebentuk denah perilaku.

Semua itu dengan sunnatullah ciptaan-Nya dan dengan izin-Nya semua ini menjadi bergerak dan melangkah. Atau tanpa perantaraan sunnatullah pun Allah tetap saja mampu dan kuasa menjalankan kampung raksasa alam semesta seisinya ini secara mutlak. Hanya saja ada cara yang lebih agung, lebih bercitra tinggi, daripada berlaku seperti dalang. Karenanya Allah tidak harus menggerakkan tangan dan kaki, pikiran dan jiwa (menggerakkan seperti layaknya dalang menggerakkan anak-anak wayang) dari setiap hamba-Nya secara orang perorang yang jumlahnya milyaran sekedar untuk sebutan Maha Kuasa. Dengan gambaran seperti mendalang tetap saja bisa, tetapi tidak harus.

Yang lebih agung dan bercitra, cukuplah Allah menciptakan berbagai sunnatullah untuk berbagai penerapan sebagai perangkat lunaknya. Dengannya semua bergerak, berperilaku, hingga bahkan ke tingkat yang paling rinci dan dasar. Allah tetap tidak kehilangan sifat Maha Kuasa-Nya atas seluruh ciptaan-Nya. Menciptakan rupa-rupa sunnatullah itu sendiri pada galibnya sudah merupakan pengunjukan tersendiri di sisi lain atas sifat Maha Kuasa-Nya.

Dari sudut pemahaman lain, jika Allah menciptakan perilaku para hamba-Nya dalam pengertian dalang menggerakkan anak-anak wayang, malah akan segera dijumpai sisi-sisi tidak nyaman dari perilaku manusia yang tidak mungkin dinisbahkan kepada-Nya. Banyak perilaku para hamba-Nya yang bernilai mungkar lagi maksiat. Menjadi tidak nyaman bila hal ini dinisbahkan kepada Allah sebagai yang menciptakan kemungkaran dan kemaksiatan tersebut. Sementara Allah sendiri melarang perilaku tersebut.

Untuk lebih menguatkan pemahaman dalam persoalan ini, ada baiknya direnungkan ajaran agung tentang basmallah dalam pertautannya dengan perilaku. Amat dianjurkan kepada setiap insan agar membaca “bismillaahirrahmaanirrahiim” dalam setiap mengawali suatu perilaku. Istimewanya untuk perkara-perkara ma’ruf. “Dengan asma Allah . . . dan seterusnya”, kemudian perilaku dimulai.

Sesungguhnya ajaran dimaksud sarat makna. Salah satu makna tersembunyi, di antara makna-makna lain, adalah semacam pengalihan pelaku pekerjaan dari seorang hamba kepada Allah. Seorang hamba seperti diajak untuk menyadari bahwa apa yang akan dilakukannya pada dasarnya Allah jugalah yang melakukannya. Apa yang tampak secara inderawi sang hamba yang melakukannya. Namun sejatinya tidak semata demikian, karena di balik semua yang materi ini adalah Allah.

Bacaan basmallah dalam mengawali segala sesuatu, sang hamba diajak untuk mengarungi lautan kesadaran ilahi yang tinggi. Karena awal suatu perilaku selalu banyak setiap harinya, maka ajakan untuk masuk ke dalam kesadaran tersebut menjadi terasa selalu diperbaharui setiap saatnya.

Ajaran termaksud tentu berhikmah. Karena diatasnamakan Allah, dapat berdampak baik mengurangi sifat ke-aku-an sang hamba sehingga dapat menekan sebaik mungkin peluang menyombongkan diri. Dalam dunia manusia, watak ke-aku-an inilah yang dapat bersemai menjadi bibit-bibit kesombongan, kecongkakan dan semacamnya. Kemudian, bila berhasil dalam pekerjaan, tidak lupa sang hamba mengembalikan semuanya kepada Allah sebagai sumber agung setiap keberhasilan. Ini ajaran yang amat indah. Lafal lengkapnya mampu melampaui apa yang mungkin dipikirkan manusia sebelumnya.

Sebaliknya, lafal basmalah tidak dianjurkan untuk mengawali perkara-perkara yang tidak baik. Sebab sangat tidak layak mengatasnamakan Allah untuk hal-hal mungkar. Akal sehat mencegah penisbahan lafal suci untuk perkara mungkar terhadap Allah.

Di sisi lain, perilaku sebagai sesuatu yang diciptakan oleh Allah, karenanya bersifat tidak ada pilihan, adalah merupakan kenyataan umum di muka bumi ini. Alam semesta seisinya sudah jelas menjadi rujukan, rupa-rupa sunnatullah menjadi penggarisbawahnya. Gambaran umum dimaksud kiranya dapat menjadi instrumentasi bagi fatalisme. Dan apapun hal ini tidak memiliki kemungkinan lain melainkan juga terbenam dan tenggelam dalam genggaman erat sunnatullah.

Di atas semua hal, walaupun manusia menjalani sisi-sisi fatalistik dalam hidupnya, keadaan seperti ini bisa diterima. Bagusnya tidak ada rasa sedang menjalani perilaku fatalistik. Malah banyak manusia menjalani hidup dengan senang dan gembira. Bukan saja keadaan seperti tersebut bisa diterima, tetapi juga lebih bisa diterima manakala dimengerti bahwa manusia ternyata juga menjalani sisi-sisi deterministik dalam hidup yang sama. Manusia makhluk deterministik. Hilanglah ketidaknyamanan fatalistik. Manusia menjalani dua sisi kehidupan tersebut dalam dimensi ruang dan waktu yang sama secara seimbang. Manusia berada dalam atmosfir fatalisme tetapi tetap bertanggung jawab atas semua perilakunya selama hidup di dunia.

Sesungguhnya bila direnungkan lebih menukik dalam, manusia yang didesain dengan rajutan indah berupa perpaduan aspek hidup deterministik sekaligus aspek hidup fatalistik dalam dimensi ruang dan waktu yang sama, dalam pelataran umum sunnatullah, memungkinkannya berhasil mengemban tugas mulia sebagai abdun sekaligus khalifah fi al-ardl. Sebagai abdun manusia adalah pelaku ibadah (vertikalis) dan sebagai khalifah adalah pelaku kemakmuran (horisontalis).

Manusia memiliki dualisme perilaku. Manusia adalah makhluk deterministik, pada ruang dan waktu yang sama manusia adalah juga makhluk fatalistik. Sebagai makhluk deterministik, manusia bertanggung jawab atas semua perilakunya. Sebagai makhluk fatalistik, semua hal tentang manusia berada dalam jangkauan kekuasaan Al-Khaliq. Kesesatan yang dilakukan manusia adalah kesesatan yang dipilihnya sendiri. Karena pilihan perilaku kesesatan tidak pernah terjadi di ruang dan waktu yang hampa, melainkan berada dalam kerangka umum sunnatullah yang masing-masing halnya memiliki mekanisme sendiri-sendiri, maka kesesatan yang dipilih tersebut otomatis juga berada dalam jangkauan kekuasaan Al-Khaliq. Karena Al-Khaliq jugalah desainer dan kreator agung atas semua sunnatullah. Juga karena mustahil Sang Maha Kuasa tidak berkuasa atas segala sesuatu. Sedikit saja tidak berkuasa, maka bukanlah Tuhan yang sejati.

Perlu disadari juga bahwa sangat mudah bagi Allah menciptakan seluruh manusia dengan hanya satu kehendak, satu perilaku, secara seragam. Kenyataannya tidak demikian. Dan hikmahnya sungguh luar biasa ketika tidak demikian.

 

 

Penulis adalah

Pemerhati masalah-masalah Human Interest

dan Guru Bahasa Arab

MAN Bojonegoro V

 

 

Bibliografi:

– Al-Kalali, Asad, M., “Kamus Indonesia-Arab”, Jakarta: Bulan Bintang, cetakan vii, 1997.

– Asy’ary, Sukmadjaya dan Rosy Yusuf, “Indeks Al-Qur’an”, Bandung: Penerbit Pustaka, 1984.

– Ba’al Baki, Munir, “Al-Mawrid, A Modern English-Arabic Dictionary”, Beirut: Daar El-Ilm lil Malayen, 1977.

– Madjid, Nurcholis, Prof, Dr., et., “Teologi Islam Rasional, Apresiasi terhadap Wacana dan Praksis Harun Nasution”, editor Abdul Halim, Jakarta: Ciputat Press, 2005.

– Munawwir, Achmad Warson, “Kamus Al-Munawwir, Arab-Indonesia Terlengkap”, edisi lux, Yogyakarta: Unit Pengadaan Buku-buku Ilmiah Keagamaan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Pustaka Progressif, 1984.

– Peursen, C.A. Van, Prof. Dr.,  “Cultuur in Stroomversnelling” een geheel bewerkte uitgave van  “Strategie van de Cultuur, Elsevier”, diindonesiakan oleh Dick Hartoko, “Strategi Kebudayaan”, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, cet. V, 1985

– Poedjawijatna, Prof. Ir., “Logika, Filsafat Berpikir”, Jakarta: Rineka Cipta, cetakan VII, 1992.

– Rahman, Jalaluddin, Dr., “Konsep Perbuatan Manusia menurut Qur’an, Suatu Kajian Tafsir Tematik”, Jakarta: Bulan Bintang, cetakan I, 1992.

– Wojowasito, S., Prof. Dr. dan WJS. Poerwodarminto, “Kamus Lengkap, Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris”, Bandung: Hasta, cetakan X, 1980.

– Yahya, Harun, Dr., “Kesempurnaan Penciptaan Atom”, Pustaka Sains Populer Islami, edisi Bahasa Indonesia, cetakan I Maret 2004, Bandung: Dzikra, Maret 2004 / Shafar 1425H.

– Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Pentafsir Al-Qur’an, “Al-Qur’an dan Terjemahnya”, Mushaf Al-Madinah An-Nabawiyah, Madinah: Kompleks Percetakan Al-Qur’an Khadim Al-Haramain Asy-SyaRifa’in Raja Fahd, 1412 H.

[1] Dr. Jalaluddin Rahman, “Konsep Perbuatan Manusia menurut Al-Qur’an – Suatu Kajian Tafsir Tematik”, cet. I, Bulan Bintang, Jakarta,  1992, hal. 91-92.

[2] Ibid., hal. 103

[3] Bandingkan dengan cara mengambil kesimpulan dalam logika berpikir silogisme (Lihat Prof. I. R. Poedjawijatna, “Logika, Filsafat Berpikir”, cet. VII, Rineka Cipta, Jakarta, 1992, hal. 82-84).

[4] Dr. Harun Yahya, “Kesempurnaan Penciptaan Atom”, Pustaka Sains Populer Islami, edisi Bahasa Indonesia, cetakan I Maret 2004, Dzikra, Bandung, Maret 2004 / Shafar 1425H.

[5] Hukum-hukum dalam ilmu kealaman sangat banyak dan beragam dan acap diberi nama tokoh ilmuwan untuk menghormati jasanya dalam persoalan terkait, misalnya      h    Hukum Newton, hukum Archimedes, hukum Dalton, Limit Chandrasekkar, dan seterusnya.

[6] Hingga dewasa ini, para ilmuwan ilmiah masih mencari semacam rumusan tunggal yang merangkum Empat Gaya Dasar yang ada ke dalam sebuah teori tunggal. Jika ini ditemukan atau sudah dapat dirumuskan, maka penjelasan tentang “Kun” dan “Fa Yakun” dalam hubungannya segala sesuatu yang maujud (alam semesta) akan jauh lebih mudah diterangkan. Alam semesta ada atau tidak ada cukup dengan satu kata “Kun”, maka akan berproses menjadi “Fa Yakun”.

[7] Istilah sel, kromosom, gen dan genetik masih sulit dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia tetapi sudah familiar dalam dunia sains.

[8] Prof. Dr. C.A. Van Peursen, “Cultuur in Stroomversnelling” een geheel bewerkte uitgave van  “Strategie van de Cultuur, Elsevier”, diindonesiakan oleh Dick Hartoko, “Strategi Kebudayaan”, cet. V, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1985, hal. 208.

[9] Dalam fasal sebelumnya, titik singgung antara diri ruhani dan diri jasmani disebut tidak terpetakan tempatnya. Dan memang secara titik singgung ‘ketubuhannya’ tidak mudah dipahami. Sementara dalam fasal ini lebih menyoroti perjalanan kehendak dan perbuatan dari titik awal hingga terwujud di alam nyata di mana diri ruhani dan diri jasmani beretemu pada titik al-qudrah dan al-istitha’ah.

[10] Lihat “Irwaul Ghalil”, no. 2062.

[11] Niat dalam dunia penyidikan dan penegakan hukum disebut ‘motif’.

[12] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah.

[13] C.A. Van Peursen, op.cit., hal. 112.

KELUAR