Kamis, 02 Des 2021

Trouble Psikologis, Teroris Jadi Alternatif

Terorisme bukanlah hal baru dalam pengetahuan kita. Namun maraknya isu terorisme di Indonesia belakangan ini cukup sukses menyemaikan benih penasaran tentang ulah sang “pahlawan kesiangan” ini. Bagaimana tidak, pengeboman yang mereka lakukan mampu menghilangkan nyawa banyak orang, bukan hanya puluhan bahkan sekali meledak bisa melahap ratusan jiwa yang tentu didalamnya banyak kaum tak berdosa yang menjadi “manusia panggang”.

Seolah tak mau kalah dengan daun yang gugur lalu tumbuh lagi, jejaring teroris juga tak pernah henti menciptakan orang-orang sekelas Imam Samudera maupun Noordin .M. Top.

Sebutlah Dulmatin alias Joko Pitono alias Amar Usman, sang teroris yang terduga tewas di daerah Pamulang, Tangerang. Seperti dilansir oleh VIVA news (12/10/09), Dulmatin adalah warga Indonesia yang banyak menghabiskan waktu di Afghanistan. Ia dikenal sebagai ahli pembuat bom. Ia dikabarkan kabur dari Indonesia dan berangkat ke Filipina setahun setelah bom Bali pertama. Kembalinya ke Indonesia tentu untuk meneruskan perjuangan Noordin .M Top yang telah tewas lebih dulu. Selama proses perburuan, polisi menghargai Rp. 1 milyar untuk kepala Dulmatin, baik hidup ataupun mati. Tapi karena yang melakukan penggrebekan itu polisi, kira-kira uang Rp. 1 milyar itu larinya kemana ya?

Belum habis duka teroris kehilangan Dulmatin, datang lagi kabar mengenai pencarian Umar Patek, salah satu teroris nomer wahid di Indonesia yang dikabarkan menjadi pelatih bagi para teroris di Aceh. Sepertinya para jejaring teroris harus siap-siap untuk berduka lagi manakala Umar Patek akan jadi korban polisi berikutnya. Satu hal yang harus diingat, mungkin saat ini jejaring teroris terpukul dengan kematian Dulmatin, tapi bukan berarti gerakan mereka sudah berhenti. Karena tentu saja saat ini masih ada ratusan orang pengikut Dulmatin yang bersedia menjadi martir untuk melakukan teror.

Melihat berbagai peristiwa teror yang terjadi di berbagai negara, apalagi hal tersebut dituduhkan identik dengan syari’at yang mulia nan suci, melihat banyaknya kebingungan di kalangan kaum muslimin akibat syubhat (kerancuan) dan racun yang disusupkan oleh musuh-musuh Islam tentang terorisme dan melihat salah “terjemah” terhadap kalimat terorisme dan salah menempatkannya, merupakan hal yang sangat miris untuk dilihat.

Selama ini yang kita tahu terorisme dilakoni oleh para “dermawan” yang berasal dari Islam garis keras. Tentunya banyak alasan yang melatarbelakanginya. Bila kondisi sosial-politik tidak cukup kuat menjadi alasan berkembangnya aksi teror, bisa jadi kondisi sosial psikologis yang mungkin melatarbelakangi perkembangan kelompok ini. Kita perlu ambil bagian dengan membangun kondisi psikologis yang mendukung orang-orang muda mengembangkan diri secara konstruktif, tanpa jalan kekerasan.

Seorang teroris adalah sosok yang ambil bagian dalam penyerangan dengan senjata atau bom, entah sebagai penyusun strategi, perakit bom, pelaku penyerangan/peledakan, dan sebagainya. Mereka siap bertindak tanpa memedulikan penderitaan banyak orang yang menjadi korban.

Bila mereka bertindak dengan ideologi tertentu atas nama agama, adakah pihak yang menindas agama yang mereka bela? Bila ya, siapakah penindasnya? Mengapa mereka tidak langsung saja menyerang pihak-pihak yang secara riil menindas?

Lalu jika tindakan itu dibalut rasa kepahlawanan, mungkin hanya merupakan mekanisme psikologis yang mereka ciptakan sebagai kompensasi atas ketidakberdayaan yang dialami. Bahwa mereka bertindak menyerang dengan sasaran yang bukan musuh riil, berarti mereka menyerang lebih karena kondisi psikologis yang dikuasai rasa permusuhan, tanpa objek yang jelas.

Dorongan agresi dahsyat yang terpendam mungkin berakar pada masa kecil yang banyak mengalami kekecewaan. Pelampiasan dorongan agresi dapat melalui saluran bermacam-macam. Namun, bahwa sebagian orang merasa cocok bergabung dengan kelompok teroris, ini menunjukkan bahwa dorongan agresi mereka berkaitan dengan kebutuhan tertentu, yang jawabannya mereka temukan dalam keanggotaan sebagai kelompok teroris. Atau mungkin teroris itu merupakan mata pencaharian mereka saat ini?

Menurut Mirra Nor Milla, salah seorang yang sempat melakukan penelitian psikologis teroris sejak 2003 hingga 2009 di beberapa tempat seperti Bali, LP Cipinang, Tanjung Pusta Medan, Polda Metro Jaya, serta lima orang responden narapidana yang berdomisili di Pekalongan, Serang, Lamongan, pun mengatakan, para teroris dalam menjalani kehidupan merasa terasingkaan.

Keinginan mereka untuk hidup sebagai Islam yang kaffah tidak terpenuhi oleh lingkungan. Sistem dan nilai-niai jauh dari keyakinan yang mereka anut. Bila orang lain mengganggap mencoreng Islam, bagi mereka tidak. Teror melawan musuh Islam sudah dianggap sebagai teroris terpuji. Sehingga harus bangga jadi teroris.

Tulisan ini dirancang sebagai penjelasan hakikat syari’at Islam yang mulia dan agung. Selain itu juga sebagai bantahan terhadap orang-orang yang penuh dengan nista pemikiran sesat dan bergelimang dengan lumpur penyimpangan yang menodai nama Islam dengan ulah terornya. Sekaligus sebagai bantahan terhadap orang-orang jahil dan bodoh yang menampilkan dirinya sebagai ahli fatwa yang berani mengucapkan statement yang mengidentikkan Islam dengan terorisme.

KELUAR